Sulitnya Belajar Menulis Cerpen yang Mumpuni



kompas institute.com
Saya telah membaca berkali-kali iklan tentang pembelajaran Menulis Cerpen yang diadakan oleh Kompas Insitute melalui kompas.online sekitar bulan akhir Juni lalu. Namun, ketertarikan saya itu begitu cepat mengendur ketika membaca mengenai biayanya. Memang saya sadar belajar dari pakar-pakar cerpen yang dipilih oleh Kompas Insitute itu perlu biaya tinggi. Ilmu tidak ada yang gratis. Banyak prioritas yang harus saya dahulukan sebagai seorang pensiunan. Akhirnya kesempatan itu benar-benar terlewat dengan begitu saja. 

Namun, ketika saya baca rangkuman tentang pembelajaran dua hari tentang menulis cerpen itu membuat hati bergetar . Ini dia suatu pembelajaran dan inti sari dari pengetahuan yang tak boleh dilewatkan. Harian Kompas sebagai media mainstream dengan oplah terbesar di Indonesia itu berusia 54 tahun. Media yang sangat dekat dengan masyarakat itu , punya salah satu kekuataan yaitu rubrik cerpen yang sangat digemari masyarakat , hanya satu kali dalam seminggu terbitnya rubrik cerpen itu. Cerpen yang terbit di tiap minggu ini sudah pasti ditunggu masyarakat karena bobot kontennya sangat tinggi. 

 Apalagi sejak terbit tahun 1965, karya cerpen sudah dipilih untuk mempopulerkan sastra koran. Setelah melihat animo pembacanya untuk cerpen, Kompas yang punya Litbang itu tentu melihat ada potensi untuk meningkatkan kemampuan para penulis cerpen dalam penulisannya. Bergeraklah Kompas Institute untuk menyelenggarakan Kelas Cerpen Harian Kompas , yang jadi salah satu agenda “signature event” tiap kali Kompas merayakan ulang tahunnya. 

Tahun ini kelas belajar menulis cerpen ini mengambil tema berjudul “Penulisan Kreatif Cerita Pendek” diadakan pada tanggal 27-28 Juni selama 2 hari. Pesertanya cukup besar 30 orang . Tempat diadakannya di kelas Kompas Institute, berlokasi di Gedung Kompas Gramedia Unit II Lantai 3, Palmerah Selatan 26-28 Jakarta. 

Para pembimbing latihan cerpen itu langsung dibimbing pelatihnya yang sudah sangat ahli . Triyanto Triwikromo (cerpensi dan penerima penghargaan Kesetiaan Berkarya Kompas 2017), Raisa Kamila (cerepneis dan peneliti sejarah), Brea Redana (penulis, mantan Redaktur Kompas Minggu), dan Putu Fajar Arcana (Redaktur Cerpen Kompas). 

Unsur-unsur cerpen: 

Menurut Triyanto, menulis cerpen itu ada dua pilar utama: struktur dan makna. Struktru bermanfaat untuk membantu penulis, khususnya penulis pemula dalam mebangun sebuah cerita yang masuk akal dan koheren. Memang penulis tidak dihalangi untuk mengabaikan struktur asalkan penulis sudah dapat menguasai teknik penulisan cerpen. “yang paling penting adalah pahami strukturnya dulu, baru Anda boleh antistruktur.” Pahami logikanya dulu, baru nanti Anda boleh antilogika. 

Material pembangunan cerpen yang lain adalah makna. Bagi Triyanto, cerpen adalah bentuk komunikasi antara penulis dan pembaca sehingga cerpen membutuhkan makna untuk kemudian diuraikan dan diintegprestasikan oleh komukantor dan komunikan. 

Triyanto juga memaparkan tentang unsur ekstrinsik yang meliputi kondisi psikologis dan sosial dalam proses penulisan cerpen. Berperannya unsur ekstrinsik akan menjadi cerpen sebagai hasil dari suatu proses inernalisasi panjang penulis. Karya sastra tidak sebatas menganlisis cerita, tetapi juga beruaha mengenali penulis karya tersebut,”kata Triyanto.

 Data dan estetika:

 Setelah mengetahui unsur-unsur pembangun sebuah cerpen, kelas diteruskan dengan pembahasan pengembangan data sejarah sosial menjadi cerpen. “Tidak sebatas menghibur, cerpen juga bisa bersifat edukatif ketika didasari data –data yang digali dengan metode riset”, katanya

. Selain itu mengeksplorasi penggunaan data baik primer maupun penggunaan sekunder yang dalam kelas dispesifikasikan menjadi data sejarah sosial, memiliki perspektif alternatif dari sejarah yang cenderung didasarkan pandangan pihak dalam pusaran utama. Raisa mengarahkan peserta untuk mengumpulkan data dengan meninjau arsip-arsip yang ada pada zaman yang ingin dipelajari. Contohnya arsip tentang perjalanan hidup seseorang, surat kabar, dokumen pendukung lainnya.  
Jika memungkinkan menemui pelaku sejarah secara langsung dan mewancarainya.

 Sebelum memulainpenulisan berbasis sejarah, kita diharapkan untuk mengetahui terlebih dahulu motivasi yang melatarbelakangi penulisan cerita. Motivasi ini akan membawa penulis dalam narasi data yang akan digali melalui riset dan narasi yang dibangun dari hasil riset tersebut. 

Setelah mengetahui motivasi penulisan , kita dapat menentukan perspektif apa yang akan digunakan dan aspek apa yang harus ditonjolkan. Selain memperhatikan hal teknis dalam menyusun cerpen, estetika juga menjadi aspek lain yang penting diperhatikan. Bre berbagi pengetahuan seputar penulisan cerepen selama 11 tahun ketika menjadi Redaktur Kompas. 

 Menurut Bre, kualitas estetik ditemui dan dikembangkan kala kualitas tersebut tidak dibakukan dengan standar dari siapa pun. Karena ketika cerpen sampai di tangan pembaca, cerpen tersebut menjadi teks mandiri. “Kalau kreteria estetik saya bakukan, kreativitas berhenti. Sastra harus bicara atas nama dirinya, bukan kriteria editor, bukan kriteria Anda. Sesnda Anda menulis, Anda tidak ada.” 

Pada hari kedua diberikan materi mandalam dengan cara berdiskusi secara intens dan personal melalui sesi autor spped dating. Pada saat ini setiap orang dapat mengonsultasikan cerpen yang sudah dibuatnya dengan setiap pemateri yang tepat. Dengan adanya acara ini, penulis cerpen mendapat masukan konstruktif secara lebih spesifik guna meningkatkan pengetahuan dan kemapun menulis cerpen mereka.

Tidak ada komentar