Peran Keluarga dan Masyarakat Dalam Membudayakan Literasi



Disuatu siang, terik matahari sudah terasa menyengat. Tepatnya hari itu. tanggal 12 Pebruari 2019 ada acara resmi. Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuka Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2019, di di Gedung Garuda Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Pegawai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI di Bojongsari, Depok. Pembukaan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan ini ditandai dengan pemukulan gong oleh Bapak Joko Widodo didampingi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhadjir Effendi.

Dalam sambutan Bapak Jokowi menjelaskan alasan utamanya pembangunan lima tahun pertama yang berfokus kepada infrastruktur. 

Dikatakan oleh Beliau bahwa kita tidak memiliki daya saing dalam pereknonomian karena kita ketinggalan dalam infrastruktur yang menjadi faktor penting untuk peningkatan daya saing. Tanpa infrastruktur harga komoditas akan mahal karena tidak adanya konektivitas. Oleh karena itu penekanan untuk pembangunan dalam lima tahun pertama adalah pembangunan infrastruktur. 

Sekarang setelah pembangunan infrastruktur telah hampir selesai, prioritas pada pembangunan tahun kedua adalah peningkatan kualitas SDM mulai tahun 2019. Peningkatan kualitas SDM meliputi pembangunan manusia yang ini memiliki dimensi luas yaitu karakter dan pendidikan manusia. 

Dalam kaitan dengan hari Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2019, Presiden Jokowi mengingatkan kepada para guru bahwa di era 4.0 ini guru punya kompetensi untuk mengajarkan hal-hal yang berhubungan dengan teknologi seperti digital,artificial inteligent, internet of things dan crypto currency virtual reality. 

Berbicara soal digital atau teknologi, pengamatan saya menemukan anak balita sampai remaja yang berada di tempat publik seperti rumah sakit, kereta api, mall semuanya berdiam diri dengan media sosial di gadgetnya. Seolah-olah mereka sudah terbius dengan media sosial yang tidak sepenuhnya bersifat positif dalam mendidik atau mengarahkan pola berpikir.

 Ketika saya mendekati seorang anak remaja yang sedang membaca di teks di gadgetnya, saya bertanya kepadanya: “Apa yang sedang engkau lihat?”

 Dia menjawab dengan singkat sambil matanya terus memandang kepada gadget: “Instagram!” “Berapa lama sehari melihat instagram?” tanya saya. 
“Hampir 5 jam, tapi yach ngga terus menerus!” jawabnya singkat.

 Bagaimana membangun manusia yang berpendidikan dan berkarakter jika kita melihat anak  balita, aremaja, pemuda lebih suka media sosial sebagai dasar pemikiran ketimbang literasi sebagai alat untuk memperkaya imajinasi dan daya kritisnya.

 Perkembangan teknologi sepertinya tidak memberi perbaikan yang cukup berarti dalam warna pendidikan kita. Diikuti dengan motivasi yang kurang, sikap malas tumbuh subur di kalangan para pelajar. 

Demikian pula  sarana baca buku yang minim. dan kebiasaan membaca dan menulis yang belum dipupuk dengan baik makin memperburuk suasana pendidikan Indonesia di mata dunia.
Sumber:  OECD

Bahkan dalam hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) mengatakan bahwa literasi Indonesia pada tahun 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia berada di posisi ke-64 dari 65 negara tersebut.
Sumber: Kompasiana.com
Sumber: kompasiana.com

 Senada dengan hal itu, data UNESCO pada tahun 2012 yang mengatakan bahwa indeks minat baca Indonesia baru mencapai 0,001 persen. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. 

Data terakhir dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2017 menunjukkan sebanyak 3,4 juta jiwa penduduk Indonesia masih buta aksara.

 Perlu kesadaran dari semua pihak,  anak-anak, orangtua, guru dan sekolah untuk mengetahui bahwa literasi adalah kemampuan atau kualitas seseorang dalam membaca, mengenali dan memahami ide-ide secara visual (Meriam Webster). 

Periode usia yang dianggap terbaik untuk keberhasilan pendidikan literasi anak adalah usia 0-8 tahun. Anak-anak yang mendapat perhatian lebih pada usia itu ditemukan memiliki banyak keunggulan kognitif. Kritik terhdapa proses belajas di sini pada umumnya adalah terlalu fokus pada individu dan tidak cukup pada konteks, kurang interaksi dengan orang yang berbed a. (Putnam dan Boko).

 Anak yang suka membaca secara otomotis akan mengkaitkan isi bacaan dengan apa yang pernah dia lihat, dengar atau alami. Hal ini akan memperkaya imajinasi dan daya kritisnya. Dampak belajar literasi adalah membuat anak bisa makin tajam dan kontekstual berpikir. Anak-anak akan terbiasa melihat masalah sesuai konteks , hanya menyaukai jawaban yang tepat dan masuk akal.

 Anak berlatih membaca apabila orangtuanya suka membaca atau didorong oleh orangtua membaca bersama-sama. Jangan berikan motivasi anak membaca, tetapi orangtuanya justru membaca gadget. 
kemendikbud.go.id

Sejak tahun 2016 Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menggiatkan Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang merupakan implementasi dari Peraturan Meneteri Pendidikan No.23 tahun 2019 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. 

 GLN menekankan bahwa literasi dasari yang dijadikan poros pendidikan sebagai berikut:
  1.  Literasi baca tulis
  2.  Literasi numerasi
  3.  Literasi sains 
  4.  Literasi digitall 
  5.  Literasi finansial
  6.  Literasi Budaya dan kewarganegaraan

Literasi baca tulis jadi dasar dan poros utama kecakapan abad 21. Perlu sekali untuk menjangkau semua masyarakat Indonesia memiliki kemampuan literasi dasar ini agar mereka mampu berpikir kriis, memecahkan masalah, berkolaborasi dan berkomunikasi. Rendahnya literasi akan berkolerasi dengan kemiskinan . Mereka yang tak punya kemampuan literasi tidak dapat mengakses ilmu, pengetahuan, teknologi, kepekaan terhadap lingkungan. 
Anak-anak membaca majalah Bobo.  Sumber:  sanggar Rebung Cendani.facebook.com

 Penanganan literasi bukan hanya pada pundak guru, para pendidik , sekolah saja, tetapi dari keluarga sebagai unit terkecil. Saya kenal dengan seorang ibu bernama Ester yang bekerja sebagai pegiat literasi .Beliau mendirikan Sanggar Rebung Cendani. Dalam kegiatan , beliau mengumpulkan buku-buku dari para donatur dari seluruh Indonesia, kemudian menditribusikan dan merotasi buku kepada sanggar baca yang membutuhkan di daerah terpencil, Lamban Baca di Lampung Barat, Desa Sukaharja , Taman Baca di Cikangkung Ujung Genteng.
Rotasi Buku di Taman Baca Cikangkung Ujung Genteng. Sumber:  Sanggar Rebung Cendani.facebook.com

 Ibu Ester selain jadi pegiat dan ahli hukum, juga sebagai ibu rumah tangga yang mendidik kedua putranya yang berusia 7 tahun dan 9 tahun. Mendidik kedua putranya sejak kecil mencintai , menyukai buku. Saat putranya belum bisa membaca, beliau membacakan cerita sesuai dengan usianya. 
Anak menyukai buku cerita bergambar.  Sumber: Sanggar Rebung Cendani.facebook.com

Ketika anak sudah mulai bisa membaca, putra-putranya mendapat tugas untuk membaca 1 buku dalam satu minggu. Ada jurnal yang menuliskan tiap anak sudah berhasil membaca buku. Dari jurnal itu Ibu Ester dapat mengevaluasi kemampuan anak untuk menumbuh kembangkan ketrampilan anak dengan cara bertanya, berdiskusi dan berceritera kembali. 

 Hasil dari literasi membaca buku-buku yang dibaca anak-anak itu sangat menakjubkan, pola pikir dan mindset anak-anak itu makin tajam . Apa yang dibaca itu menjadi wawasan baru baik berupa ilmu pengetahuan atau nilai yang baik yang perlu dianut, bahkan menghubungkan korelasi antara ilmu baru dengan apa yang pernah dialaminya. Wawasan baru yang tidak picik , melihat budaya yang berbeda itu sangat indah. Memerdekakan diri dari belenggu pola berpikir budaya feodal . Membuat experimen setelah mendapatkan tips cara buat mainan atau bongkar sepeda lama untuk jadi sepeda balap yang diinginkannya.

 Hambatan dari literasi di tempat yang terpencil atau desa-desa yang belum tersentuh buku atau majalah anak. Buku dan majalah anak dianggap barang mahal karena ekonomi mereka yang rendah, hidup dengan keterbatasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak ada dana untuk beli buku. Oleh karena itu dengan semangat literasi, Ibu Ester dan suaminya membuat sanggar yang berupa perpustakaan sederhana. 

 Perpustakaan diisi dengan buku-buku yang dikirimkan oleh donatur. Ada pegiat dan voluntir literasi di komunitas di desa yang dilatih untuk mengajar anak-anak itu membaca, mengenalkan buku, bahkan mengadakan permainan agar tidak bosan membaca buku.

 Jika keluarga kecil sudah memberikan latihan membaca tulis kepada anak-anaknya , maka pendidik baik itu guru maupun sekolah pun tidak punya hambatan untuk melatih literasi. Di sekolah anak saya sejak SD sampai SMA , anak-anak diminta untuk membawa satu buku bacaan ketika masuk sekolah. 

Begitu bel sekolah berbunyi, anak-anak berdoa , lalu diminta untuk membaca buku selama 20 menit. Selesai membaca, buku disimpan kembali. Hal ini dilakukan terus sampai buku habis. Mereka membuat ringkasan cerita dan dikumpulkan. 

 Ketika akhir tahun guru bisa mengevaluasi apakah anak yang gemar baca atau tidak dari jumlah buku yang telah habis dibaca. Gerakan kecil tapi berkesinambungan dan manfaatnya sunggu besar. 

Pada akhirnya , hanya dengan literasi dasar bangsa ini dapat mengubah kualitas kehidupannya. Titik pusat kemajuan terletak dari kemampuan baca tulis (Unesco). Dukunglah dan berpartisipasilah semua multi pihak dalam GLN supaya kualitas kehidupan baik semua warga/masyarakat dapat dicapai.

Tidak ada komentar