Ramadhan Saat Masa Kecil

bundaeni.com


Kami bukan dari keluarga Muslim, tetapi tetangga kami banyak yang beragama Muslim. Toleransi tetangga sangat tinggi. Ketika Ramadhan datang, aku selalu ingat dengan masa kecil dimana kebiasaan dan tradisi tetangga menyambut Ramadhan. 

Sehabis sahur anak-anak berkelihing di sepanjang gang-gang melewati rumah kami dan mereka membawa kentongan dan sedikit berteriak “sahur...sahur”. Kentongan itu ditabuh sehingga bunyi-bunyian cukup membuat dan membangunan mereka yang belum juga sahur .
Jalan-jalan sehabis shalat Subuh menjadi kenangan bagi saya karena saya ikut terbangun dan merasakan bagaimana anak-anak itu sejak kecil sudah dididik disiplin untuk menyiapkan diri untuk sahur dan shalat. Anak-anak itu jalan beriringan dan kadang-kadang dengan kenakalannya sering berperang sarung. 

Ada juga yang bermain meriam bambu atau sering disebut dengan long bumbung. Long Bumbung merupakan permainan terbuat dari bambu. Bagian dalam bamu diberii minyak yang bisa memunculkan suara. Suaranya itu lumaya menggelagar sehingga anak-anak yang bermain itu diingatkan akan bahayanya oleh para orang dewasa. Permainan ini sering dilakukan oleh anak-anak sambil menunggu berbuka puasa.

Berebut Takjil Takjil merupakan makanan yang disedikan saat berbuka puasa di mesjid. Saya suka mengintip anak-anak itu sudah berada di depan meja takjil sebelum buka puasa. Mereka sudah mengintip apakah mereka bisa mengambil cepat begitu bedug dibunyikan. Seolah mereka tak pengin ketinggalan atau kehabisan takjil, mereka punya taktik untuk bisa mengambilnya.

 Olahraga diperingan. Saya ingat benar ketika SD, teman-teman yang puasa itu diberikan dispensasi oleh guru olahrga untuk tidak ikut olahraga. Lalu kami yang tidak puasa, boleh berolahraga tidak sepenuhnya. Bagi saya yang tidak suka dengan olahraga, itu kesempatan sangat baik dan senyum simpul karena kesempatan ini langka diperoleh.

Tidak ada komentar