Momen Terbaik Ramadhan Ini

JawaPos.com


Barangkali tidak ada yang seindah cerita yang sangat menyentuh hati sekali, apalagi jelang lebaran. Seorang ibu bernama Tuti (bukan nama sebenarnya) terpaksa meninggalkan anaknya yang masih kecil berusiah 3 tahun kepada ibunya. 

Ibunya juga seorang janda yang sudah renta, tak punya penghasilan apa pun. Ekonomi yang morat marit itu membuat ibu itu membuat keputusan yang sangat tidak bisa dimengerti oleh semua orang. 

Dia terpaksa menerima tawaran untuk menjadi TKI karena tak ada pekerjaan lain yang dapat menjanjikan untuk dapat cukup uang demi menghidupi anak dan ibunya. Suaminya entah kemana sejak dia melahirkan sudah meninggalkan dirinya dan anak tanpa alasan yang jelas.

 Hatinya pedih, perih saat dia harus menyerahkan satu-satunya putra yang dicintainya untuk dirawat oleh ibunya. Padahal ibunya juga sudah tua dan sering sakit-sakitan untuk bisa merawat anaknya. Dia berguman sendiri: “Ach , tak apalah hanya kontrak dua tahun. Dua tahun waktu yang cukup cepat. Begitu kontrak selesai, aku akan pulang dengan membawa cukup uang untuk bekal membesarkan anakku dan merwat ibuku”. 

Sayang sekali, perjalanan hidup itu tak seindah yang diimpikannya. Dia tak betah di tempat majikannya dimana dia bekerja. Sikap kasar dan semena-mena dari majikan perempuan membuat dia pengin sekali mengakhiri kontrak. Tapi apa daya dia tak mampu untuk kabur. Hanya satu-satunya jalan menunggu sampai kontrak habis. 

 Dia bergumam sendiri, pasti majikan tak mungkin memberikan izin aku untuk pulang untuk menengok anakku dan ibuku saat lebaran. Benar, dia pernah minta izin kepada majikannya. Jawabannya sangat kasar dan tidak sesuai dengan harapannya: “Jika kamu pulang, artinya kamu melanggar kontrak. Aku akan laporkan kepada polisi!”

 Selama berpuasa itu dia terus berdoa dan minta agar Allah memberikan jalan keluar untuk bisa mengabulkan permintaannya. Suatu waktu ketika dia sedang buka puasa di suatu perkumpulan TKI, dia diperkenalkan kepada seorang ibu yang tak lain adalah salah seorang pengurus dari Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan atau disebut dengan KOMNAS Perempuan. 

Dia bercerita tentang keingiannya dan hambatan dari majikannya karena tidak memberi izin pulang untuk Lebaran. Ternyata Ibu dari KOMNAS Perempuan itu membantunya mempertemukannya dengan seseorang yang juga mengerti hukum di negara tempat Tuti bekerja. Setelah diberikan pengarahan, tentang kontrak kerja dan negosiasi pun diadakan antara majikan dan Tuti. 

Suatu mujizat besar buat Tuti, akhirnya majikan mau menandatangani izin agar Tuti bisal pulang pada hari Lebaran selama 10 hari untuk melepaskan rindu kepada anak dan ibunya. Inilah momen yang terbaik pada hari Lebaran bagi Tuti.

Tidak ada komentar