MoneySmartMenginspirasi Optimalkan Karir dan Literasi Keuanganmu



Anakku, seorang milenial atau disebut dengan generasi Y.  Usianya24 tahun dan dia kebetulan bekerja sesuai dengan bidang yang disukainya sebagai digital designer. Di kantor, teman-temannya kebanyakan lelaki dan hanya beberapa perempuan. Usianya hampir seusia dengannya, terutama teman-teman di bidang  Teknologi Informasi (TI) atau terkenal istilah Information Technology (IT).

Bergaul dengan generasi milenial tentunya beda dengan mereka yang berasal dari generasi “old”seperti saya, ibunya. Teman-temannya bekerja dengan gaya milenial, masuk kantor flexible jam 9 – 10 , pulang kantor boleh dikatakan setelah jam 19.00 . 

Gaya bekerjanya juga beda dengan zaman kuno, tidak ada sekat-sekat kubik,semuanya terbuka. Dimulai dengan “meeting” antar departemen TI dengan designer, bicarakan projek yang sedang dilakukan, progres dan kesulitan apa dan gimana masing-masing bisa berkontribusi dan memberikan solusi. 

Setiap kali anak-anak TI  bicara terbuka  tentang progres pekerjaan. Jika mereka merasa tinggal sedikit lagi selesai, kelelahan itu harus dibayar dengan ngopi di kafe. 

Suatu hari anak saya datang kepada saya dengan pertanyaan yang serius. “Ma, temanku baru saja naik gajinya, tapi kok justru  ngga ada sisa tabungan?” Pertanyaannya sederhana, tapi jawabannya sulit buat saya. Sebelum menjawabnya, saya harus mengexplore beberapa pertanyaan berkaitan dengan gaya hidup dari teman anak saya. 

Gaji Naik Gaya Hidup pun ikut naik: 

Untuk memastikan jawaban saya tepat, saya perlu membandingkan gaya hidup temannya sebelum dan sesudah naik gaji. “Apa yang berubah dengan gaya hidupnya?” Dengan santai, anak saya menjawab:”Iya sekarang hampir tiap sore sebelum pulang kerja, dia ngopi dulu. Dulu ngopinya hanya di warung dekat kantor, karena uangnya pas-pas saja. Sekarang dia pikir ada uang kenapa tidak “enjoy life, jadi dia mampir ke kafe kopi dengan brand mahal itu!”, jawab anak saya. 

Dari jawaban itu, saya sudah dapat menyimpulkan bahwa teman anak saya itu belum kenal dengan literasi keuangan sehingga pola pikirnya tidak cermat tentang bagaimana mengelola keuangan. Uang berlebih dianggapnya untuk membeli sesuatu yang diinginkan, padahal yang utama adalah memenuhi kebutuhan berdasarkan prioritas. Umumnya, anak milenial menaikkan standar hidup makin tinggi karena adanya kenaikan gaji.  Akar masalahnya adalah naik gaji tidak harus selalu diikuti dengan kenaikan gaya hidup.  Gaya hidup harus tetap berpola pada kebutuhan,   bukan pada keinginan.

Belajar Literasi Keuangan:
Shutterstock.com

 Berjumpa dengan anak-anak muda milenal, sangat menyenangkan dan menyukai dengan gaya hidup santainya. Tapi mereka perlu sekali belajar banyak tentang manajemen keuangan. Utamanya tentang menabung. Menabung ala milenial tentunya beda dengan menabung ala konvesional. Mereka tidak perlu datang ke bank, mengisi formulir dan menabung sesuai dengan apa yang ditawarkan bank. 

Ternyata banyak produk tabungan yang perlu diketahui oleh milenial. Mereka bisa mengexplorasi di situs “Money Smart". Situs ini adalah situs untuk pelayanan keuangan terbesar dan terpercaya di seluruh Indonesia. Kontennya cocok sekali untuk para milenial, kreatif, dinamis , uptodate, inspiratif dan dapat dipakai sebagai panduan dalam pengelolaan keuangan yang lebih baik. 

Sebagai contoh, tidak semua anak milenial  sadar betapa pentingnya menabung untuk kebutuhan hidup di masa depan. Mereka hanya berpikir sesaat saja. Ada uang lebih langsung digunakan sesuai dengan keinginan. 

 Di Money Smart ada konten pelbagai macam keuangan dan gaya hidup yang praktis. Ada juga fitur khusus  untuk membahas kenapa anak milenial harus menabung dan bagaimana caranya. Menabung untuk masa depan memenuhi kebutuhan mendasar seperti rumah, pakaian, papan. Baru prioritas kedua adalah kebutuhan lainnya seperti menikah, sekolah lagi, membeli kendaraan, berinvestasi, asuransi. 

Untuk memenuhi kebutuhan primer, tentunya ada tips dan tricknya. Di money smart, dijelaskan dengan sangat praktis sekali. 
  
 4 tips Menabung , singkat tapi padat:
shutterstock.com

 1.Selalu catat pengeluaran:

 Budaya mencatat penting karena kita dapat mengetahui alur dari cashflow kemana dana kita ke luar, pengeluaran apa yang terbesar, apakah sisa dana sesuai dengan perencanaan ;pengeluaran harus lebih kecil dari pengeluaran.
shutterstock.com

 2. Naikkan persentasi alokasi dana:

 Pengin cepat mendapatkan aset yang diinginkan, misalnya pengin cepat dapat motor. Pastikan untuk menabung lebih banyak. Jika dulunya hanya menabung 10% dari gaji, maka sekarang dinaikan jadi 20%. Yang pasti tentu ikat pinggang harus dikencangkan.
shutterstock.com

3.Manfaatkan digital banking: 

 Buat para milenial, menabung sekarang masih cepat, mudah hanya dalam satu sentuhan jari. Untuk itu coba cari data-data produk menabung yang ditawarkan melalui digital banking dengan membaca di money smart karena informasinya selalu diupdate tentang bunga menabung. Kita bisa menabung langsung dengan informasi yang uptodate, berapa bunga tertinggi dari beberapa bank yang diinformasikan. Menabung tidak ada resikonya dan untuk mengumpulkan dana untuk nambah aset dalam waktu pendek.
shutterstock.com

4. Hindari pembelian secara impulsif:

 Ini dia jurus jitu yang sulit dilakukan, tapi harus dilakoni untuk bisa menabung dan menambah aset. Jika jalan-jalan ke mall, puasa dulu beli barang yang tidak dibutuhkan. Harus selalu ingat MENABUNG!

 Ini baru sebagian penjelasan yang saya kutip dari moneysmart, jika kalian pengin lebih uptodate dengan pelbagai informasi keuangan dan gaya hidup , jangan lupa mampir dulu yach ke situsnya, #MoneySmartMenginspirasi.

Selamat menabung!

2 komentar

  1. Gaya hidup emang mahal. Kalau anak2 millenial emang kebanyakan kayak gitu, terutama mereka yang tinggal di kota kota besar. Padahal berapapun gaji kita, kalau dibuat cukup ya pasti cukup

    BalasHapus
  2. Gaji naik, gaya hidup juga naik. Berasa seperti dicubit, karena saya dulunya juga seperti ini. Syukur sekarang sudah tobat dan mulai melek finansial dengan rajin baca-baca artikel pengelolaan keuangan. Jangan sampai masa tua hanya merepotkan anggota keluarga lain. Harus bisa berdaya dengan kemampuan sendiri, hasil tabungan dan investasi.

    BalasHapus

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!

Total Tayangan Halaman