Rumah Berantakan, Sulit Mengatur Barang-barang, Belajar dari Marie Kondo!

 
beberes   Source: fimela.com
BElajar dari Marie Kondo untuk merapikan rumah.Tiap kali saya berkunjung ke rumah teman, perhatian pertama yang saya lihat adalah penampilan kebersihan dan pengaturan barang-barang dalam rumah yang terlihat rapi, bersih dan sangat menarik . 

Siapa yang betah tinggal di rumah yang rapi, bersih dan estetika yang menarik? Hampir semua orang tentunya ingin tinggal di rumah yang demikian. Namun, kenyataannya, di zaman modern ini , rumah-rumah yang minimalis seolah kehilangan kerapiannya gara-gara banyak barang yang bertebaran di dalam kamar, dalam ruangan.

 Seorang teman dekat saya yang sangat terbuka dengan saya, menceritakan bahwa dia senang sekali belanja barang-barang pernak-pernik setiap kali dia travelling. “Pernak-pernik itu suatu barang tradisional dari daerah lokal yang kukunjungi”, katanya menegaskan . 

“Tidak ada yang salah membeli barang-barang souvenir yang menarik untuk pajangan”, kata saya. 

Namun, barang itu ternyata jumlahnya cukup banyak . Dikumpulkan dari sedikit demi sedikit akhirnya membukit karena dia senang berwisata, sementara rumahnya sangat minimalis. Alhasil, pernak –pernik itu diletakkan di suatu tempat tanpa bisa ditata dengan apik. Tidak ada nilai estetikanya karena space atau tempatnya sudah tidak muat dengan pernak-pernik yang banyak itu. 

Beberes   Sumber:  referensirumah.com
Belum lagi ketika saya mendapat keluhan dari seorang teman ketika dia mau memilih baju dari lemari bajunya, sangat sulit sekali. Mencoba untuk menengok apa yang terjadi dengan isi lemarinya, saya sedikit terperanjat, semua barang ada di sana, mulai dari pakaian kerja, pakaian pesta, pakaian untuk rumah, pakaian dalam menyatu dan ada banyak pakaian yang dibeli dari zaman dia sekolah SMA pun masih ada. Terpaksa, saya mengatakan kepadanya, ayo semua dibongkar. Dipilah-pilah menurut kategorinya, lalu yang tidak terpakai harus dikirim untuk donasi jika kondisi bajunya masih dalam keadaan baik . Akhirnya , semua pakaian yang tersisa hanya tinggal sedikit saja dan terlihatlah rapi sekali . Ruang lemari atas yang ada gantungannya digunakan untuk pakaian pesta dan kerja. Disusun dengan penggunaannya. Ruang untuk tengah untuk baju sehari-hari di rumah. Ruang laci untuk pakaian dalam. 

Problem utama dalam penyusunan dan penyimpanan barang di rumah adalah “Mindless Consumption” atau disebut dengan “obesistuff” . Tidak adanya kesadaran berkonsumsi dengan baik, senang membeli tanpa mengetahui apa barang itu bermanfaat atau tidak. 

mariekondo.com
Seorang pakar konsultan berbenah, Marrie Kondo, mengajarkan seni berbenah atau beres. Seolah berbenah itu merupakan hambatan pribadi. Dalam bukunya yang terkenal, “Spark Joy”, Marie Kondo memberikan tips bagaimana melipat pakaian, bahan /kain yang terlihat rapi dan menarik. Bukan hanya pakaian saja, tetapi buku, kertas, mainan anak disimpan dengan cara yang sangat tepat, mengkategorikan barang dan menyimpan dalam box-box yang sesuai dengan ukurannya. Tidak ada barang-barang yang berantakan di meja belajar/bekerja. Dengan kesadaran “spark joy” yang dimiliki setiap orang, maka rumah kita akan menjadi bersih, menarik dan senang dipandang. 

Ada tiga hal yang penting disadari untuk bisa berbenah dengan baik: 
1.Sadar akan kepemilikan 
2. Apa yang harus dilakukan 
3. Punya kendali dalam berbelanja

 Sadar akan kepemiikan bahwa barang-barang yang dibeli itu sebenarnya hanya “ego” atau “emosi” untuk membeli. Barang utama yang harus dimiliki, barang sekunder tidak selalu harus dibeli. Contohnya seorang ibu yang selalu harus beli pakaian tiap bulan karena dianggapnya pakaiannya sudah tidak “uptodate”, atau ada yang beli kerudung harus lengkap warnanya untuk disesuaikan dengan bajunya. 

 Apa yang harus dilakukan? Tiap orang harus memiliki seni melepas barang atau disebut dengan “decluttering”. Diingatkan lagi bahwa sebesar apa pun tempat penyimpanan /lemari, jika isinya terus ditambah, ditambah dan tidak pernah disortir dan dibuang, maka lemari itu akan penuh sesak. 70% dari isi lemari ternyata baju-baju yang sebenarnya sudah tidak pernah dipakai lagi. Hal ini harus secepatnya dibuang atau didonasikan. Bersih-berish dan beberes adalah kiatnya.

 Punya kendali dalam berbelanja. Setelah bersih, tentunya jangan belanja lagi, hal ini percuma saja jika lemari setelah bersih, lalu menambah tumpukan barang lagi. Penuhi mindset kita dengan berpikir dua sampai tiga kali jika mau membeli sesuatu (apakah ini berguna, apakah ini berfungsi untuk kepentingan diri kita?). Tiap tiga -6 bulan sekali, diharapkan kita tetap mengevaluasi dan memeriksa kembali apakah barang-barang yang disimpan itu masih bermanfaat dan cara penempatannya sudah tidak sesuai dengan prinsip utama, yaitu per kategori barang. 

 Mendonasikan barang atau membuang barang merupakan moto program yang sangat penting, bukan sisa-sisa dari suatu barang yang tidak barang bermanfaat. Mendonasikan tidak selalu sia-sia karena di luar sana masih banyak orang yang membutuhkan barang tersebut.

Tidak ada komentar