Menyetir di Jakarta bagaikan Momok

Menyetir mobil di kota Metropolitan atau di Tangerang Selatan itu bagaikan mengarungi lautan dengan ganasnya ombak. Ombaknya adalah kendaraan seperti sepeda motor. Jumlahnya ratusan hingga ribuan seperti laron. Kualitas Pengendara sepeda motor mengendarai motornya tidak sesuai dengan peraturan lalu lintas. Pengendara sepeda motor mengendarai kendaraannya bisa datang dari sebelah kanan, sebelah kiri bahkan dari depan saat menyeberang. 

Karakter saya bukan tipe pemberani. Sebaliknya, sedikit penakut menghadapi keramaian yang tidak teratur . Dulu saat masih muda, sekitar tahun 1990an, masih berani menyetir karena kondisi lalu lintas masih sepi. Belum banyak motor. Saya masih kuat untuk menyetir dari rumah yang letaknya di Tangerang Selatan menuju kota metropolitan. Bahkan masih kuliah lagi setelah pulang kerja dan pulang hingga malam hari.

 Namun, ketika kondisi lalu lintas berubah total. Kemacetan dan perubahan lalu lintas makin tidak teratur, saya merasa sering stres jika menyetir. Tanpa disadari, hampir tiap tiga bulan sekali perut saya kram dan diare. Terpaksa harus masuk rumah sakit. Dokter heran dan diagnosa tidak tepat ditemukan. Setelah hampir dua, tiga kali masuk rumah sakit, barulah saya menganalisa bahwa sakit perut saya ini disebabkan karena stres macet yang tidak bisa saya toleransi. Akhirnya saya berhenti menyetir mobil. Saya selalu menggunakan taxi dan kendaraan umum. 

Mobilisasi lebih repot karena harus menggunakan taxi dan kendaraan umum. Namun, kondisi kesehatan perut lebih aman dan tidak pernah masuk rumah sakit. Penggunaan mobil online terpaksa dilakukan walaupun bukan pilihan yang selalu tepat. Selama hampir dua tahun belum ada pengalaman buruk dalam menggunakan mobil online. Berjalan cukup lancar walaupun kadang-kadang sering dikansel oleh driver atau sering menunggu lama sekali karena pengemudinya belum “familiar” dengan lokasi rumah walaupun sudah menggunakan GPS. 

Tapi pengalaman saya yang satu ini yaitu hari Minggu ketika saya order mobil online untuk ke gereja. Ketika hampir tiba di lokasi tujuan, mobil sudah menepi sebelah kiri. Saat mobil sudah berhenti, saya membuka pintu mobil . Namun tiba-tiba terdengar teriakan keras dari pengendara ojek online. Rupanya dia ingin menyalip dari sebelah kiri jalan

 Sayangnya, mobil sudah menepi dan pengendara ojek online yang sedang mengendarai dengan kecepatan cukup tinggi, kaget dan terlempar. Tubuhnya jatuh di tempat batu-batu yang cukup keras . Langsung teriakan adalah respon dari kesakitan dari kakinya yang sama sekali tidak dapat digerakkan. Kekuatan perempuan tak kuat untuk mengangkat tubuhnya. Ada beberapa ojek lainnya yang membantu untuk meminggirkan dirinya. Dengan rasa sakit yang mendalam, pengendara ojeg itu menelpon saudara-saudaranya untuk ikut menolongnya. Lalu berdatanganlah saudara-saudara pengendara ojek itu .

 Pembicaraan makin menghangat dan “keras” karena masing-masing baik itu pihak pengendara ojeg , pengendara mobil online merasa benar di pihaknya masing-masing. Dengan nada keras saudara dari ojeg online pun minta agar pengendara mobil online untuk bertanggung jawab atas kesakitan dari Dalam pembicaraan pun saya terlibat disalahkan olhe pengendara mobil online karena sayalah yang membuka pintu mobil tanpa menengok ke belakang. Masing-masing mempertahankan pendapatnya yang dianggap benar.

 Ojeg online juga merasa bahwa dia tak bersalah karena dia tidak melihat “sign” bahwa mobil akan ke kiri, tiba-tiba saja menepi ke kiri. 

Pengendara mobil bilang bahwa ojeg online salah karena dia seharusnya tidak mengambil posisi sebelah kiri jika ingin menyalip. Sesuai dengan Undang-undang lalu lintas, bagi yang ingin menyalip kendaraan lain harus dari sebelah kanan jalan.

Namun, berdebat terus tidak ada gunanya. Pengendara ojeg online itu sudah mengerang kesakitan yang luar biasa. Akhirnya , kami sebagai penumpang merasa iba ketika pengendara mobil online tidak mau bertanggung jawab sama sekali. Kami bertanggung jawab untuk pengobatan dan semua biaya dan semuanya. Singkat kata, korban itu dibawa ke klinik untuk rontgen. Hasil ronten menunjukkan bahwa engsel kakinya patah. 

Lalu , dia dibawa lagi ke pengobatan tradisional dan di sanalah cara pengurutan yang sangat sakit dilakukan tanpa bius sama sekali. Suami saya tak tahan mendengar nada suara keras seperti teriakan yang sangat menggetakarkan . Hati saya makin larut dalam kesedihan ketika saya mendengar bahwa ojeg online itu harus menderita tidak dapat berjalan selama 6 bulan. Sebagai kepala keluarga dia kehilangan pekerjaan utamanya untuk menafkai keluarga , istri dan anaknya. 

Itulah sebabnya, saya makin bertekad tidak lagi mau menyetir karena jika saya sebagai pengendara sudah hati-hati pun, ada pihak lain yang tidak bertindak hati-hati atau mengendarai dengan baik sesuai dengan rambu-rambu. 

Pengalaman ini cukup membuat hati saya yang mengatakan sesungguhnya saya tak bisa bertanggung jawab karena saya hanya sebagai penumpang, tetapi hati nurani terdalam pun berbicara untuk membantu orang yang sudah menderita karena kesalahannya itu untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi.

Tidak ada komentar