Temukan #Wonderful Indonesia di Padang dan Bukittinggi



Sudah lama aku bermimpi untuk mewujudkan wisata yang paling lengkap atau #wonderfulindonesia Apa itu wisata paling lengkap? Wisata lengkap itu jika aku bisa menikmati wisata alam, religi, kuliner dan sejarah. Lalu pertanyaan berikutnya dimana aku bisa menemukan wisata seperti itu? Aku sudah sering mendengar kata “orang” bahwa di Padang dan Bukittinggi, saya akan menemukan 

Banyak rintangan untuk mewujudkannya. Tapi masih ada jalan menuju ke “Roma” , e salah menuju ke Padang dan Bukittinggi. 

Ternyata betul mimpi itu terwujud. Aku diajak tour bersama teman yang aku kenal sepintas saja. Inilah perjalananku yang benar-benar membuatku merasa “exciting” bahwa aku tak salah memilih destinasi Padang dan Bukitting ini sebagai #wonderfulindonesia. 

Begitu mendarat di bandar udara Padang , kami langsung naik bus menuju ke Pantai Mandeh.

 Pantai Mandeh

 Letak atau lokasi Pantai Mandeh adalah 56 km dari Kota Padang. Jalan menuju ke Pantai Mandeh berkelok dan berbukit , pemandangan sangat indah di kiri kanannya merupakan hutan belantara dan penuh dengan pepohonan dan tanaman langka. 

Setelah hampir 1 jam, kami berhenti di suatu tempat yang namanya, dermaga penyeberangan atau tempat nelayan . Dari dermaga kami naik speedboat yang memuat sekitar 10-11 orang. Jarak dari dermaga menuju kawasan P Mande sekitar 30 menit. 

 Air laut yang sangat tenang dan biru dan cuaca cerah membawa kami ke pulau Mandeh . Sesampai di Pulau Mandeh, pasir putih menghampar dan angin yang sepoi-sepoi menjemput kami. Pantai ini belum memiliki fasilitas apa-apa, jadi kami cukup beristirahat makan siang sambil menikmati birunya pantai.

Selesai istirahat, kami kembali pulang dengan naik speedboat menikmati bukit-bukit dan pulau-pulau yang berada di sekitarnya. Ada beberapa gugusan pulau sekitar Pulau Mandeh, diantaranya Teluk Carocok, Traju, Setan Kecil, Sironjong, Pulau Cubadak. Sementara di bagian selatan kawasan ini tepatnya di Kampung Carocok ada sebuah tanjung meliuk bagaikan kail, sehingga teluk terlihat bagaikan sebuah danau yang menakjubkan dengan riaknya yang selalu bernyanyi tak henti-hentinya 

Teluk Bayur

Dalam perjalanan menuju ke Padang , kami melewati Teluk Bayur. Teluk Bayur merupakan pelabuhan yang dulunya sangat terkenal untuk pengiriman barang dan pengangkutan manusia. Tetapi sekarang hanya dipergunakan untuk pengiriman semen dan barang-barang. Luasnya 30,89 ha hampir hamparan air yang membiru dan pemandangan matahari yang terbenan menambahkan eksotis keindahannya pelahbuan yang sangat tenang airnya. Pengunjung dapat menikmati pemandangan ini dari pinggir jalanan .

 Danau Kembar

 Dari Padang kami menuju Bukittinggi tapi kami akan mampir ke Danau Kembar. Jalannya berkelok menanjak tinggi , sangat curam dan sempit di antara jurang. 

Disebut dengan Danau Kembar karena terdiri dari dua danau yaitu Danau Diatas dan Danau Dibawah. Jaraknya 56 km dari Kota Padang dan ditempuh sekitar 1,5 jam dengan kendaraan pada jalur Padang ke Muara Labuh.

 Kedua danau itu memiliki perbedaan baik dari segi luas maupun ketinggiannya. Kedua danau tersebut saling berdampingan di jajaran Bukit Barisan. Jarak antara keduanya hanya sekitar 300 meter sehingga disebut dengan Danau Kembar.Kawasan Danau Kembar juga memiliki agrotourism yang luas dan khas seperti perkebunan teh, markisa dan sayur mayur. Di kawasan ini tersedia fasilitas cottage,restoran dan coffee shop. Kegiatan Wisata lainnya seperti tracking,olah raga air.

 Istana  Pagaruyung

 Mendengar nama istana, saya langsung berpikir pasti istannya sangat megah. Ngga menyangka bahwa ada Istana kerajaan bernama Istana  Pagaruyung.  Istana ini merupakan duplikat bangunan Istano Rajo Alam Minangkabau yang dibakar Belanda tahun 1804 dan dibangun kembali pada tahun 1976.

 Bangunan ini terdiri dari 11 gonjong , 72 tonggak dan 3 lantai. Objek Wisata ini dilengkapi dengan surau, tabuah, rangkiang, patah sambilan serta fisik bangunan Istano Baso Pagaruyuang dilengkapi dengan berbagai ukiran yang tiap bentuk dan warna ukiran itu mempunyai falsafah,sejarah dan budaya. Lokasinya di Nagari Pagaruyuang Kecamatan Tanjung Emas berjarak 105 km dari Kota Padang dapat ditempuh dalam waktu 2.5 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan. 

Dokumen pribadi

Berbagai macam cendramata dan memakai pakaian pengantin ala Minangkau dapat dijumpai di sini. Banyak pemotret yang akan mengabadikan kebesaran dan keindahan pakaian Minangkabau. 

Ngarai Sianok 

Ngarai Sianok merupakan Lembah dengan ketinggian dinding 100 meter dengan sudut 90 derajat yang berlokasi 2 km dari pusat kota Bukittinggi adalh sebuah patahan semanggak yang membentang sepanjang 15 km dengan lebar 200 m. 

Di dasar Ngarai ini mengalir sebuah anak sungai yang menelusuri celah celah tebing dengan latar belakang Gunung Merapi dan Gunung Singgalang. Ngarai Sianok dapat dinikmati dnegan santai bila pengunjung berada di Taman Panorama Bukittinggi.Tempat ini juga menjadi lokasi kemping. Ngarai Sianok semakin diminati dengan dibangunnya “The Great Wall Koto Gadang” , pengunjung tempat ini sebagai Tembok Cina Bukittingi. 

 Danau Singkarak

 Danau Singkarak merupakan danau vulkanik dengan luas 107,8 km yang terletak diantara kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar. Lokasi objek mudah dijangkau dengan jarak tempuh 86 km dari kota Padang dan 36 km dari kota Bukittingi.Danak Singakarak dihuni oleh spesies ikan yang hanya bisa hidup di perairan ini dan dinamakan ikan bilih oleh masyarakat setempat tersedia fasilitas seperti hotel, rumah makan di sekitar objek wisata.Beberapa aktivitas wisata yang dapat dilakukan adalah memancing dan bersampan di tengah danau. 

Kelok 9 

Kelok 9 atau Kelok Sembilan adalah ruas jalan berkelok yang terletak sekitar 30 km sebelah timur dari Kota Payakumbuh. Daerah ini jadi daerah favorit ketika ada tour Singakarak Jalan ini membentang 300 meter. Dibuat oleh Belanda tahun 1908 dan selesai , jalan ini dibuat untuk menghubungkan antar kota Lintas Tengah Sumatera dan Pantai Timur Sumatera. 

Jalan ini memiliki tikungan yang tajam dan lebar sekitar 5 meter, berbatasan dengan jurang, dan diapit oleh dua perbukitan di antara dua cagar alam: Cagar Alam Air Putih dan Cagar Alam Harau. Di sekitar Jalan Kelok 9 saat ini telah dibangun jembatan layang sepanjang 2,5 km. Jembatan ini membentang meliuk-liuk menyusuri dua dinding bukit terjal dengan tinggi tiang-tiang beton bervariasi mencapai 58-700 meter. 

Jam Gadang: 

Bangunan ini memiliki tinggi 26 meter bergaya Belanda dan dibangun oleh seorang arsitek asal Minang bernama Yazin Sultan Gigi Ameh. Jam Gadang ini terletak di pusat kota Bukittingi dan telah mengalami tiga kali perubahan bentuk atapnya. Jam Gadang ini dibangun tahun 1926 diegarakkan secara mekanik sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada pemerintah Hindia Belanda yaitu sebesar 3.000 Gulden.Jam Gadang ini merupakan icon masyarakat Bukittingi dan menjadi pusat perekonomian terbesar di Sumatera Barat.

 Pusat Kebudayaan dan Informasi Pariwisata Sumatera Barat: 

Di tempat ini kita dapat menemukan berbagai macam peninggalan mulai dari rumah Gadang, makna rumah gadang, budaya orang Minang sampai kepada cara-cara peminangan orang Minang. Di dalam rumah Gadang ditemukan pasak tiang yang tidak lurus. Oleh arsitek orang Minang hal ini memang disengaja agar dapat menahan gempa . Juga runcingnya atap itu memiliki arti memecah dan menerpa angin. 

Minangkau artinya menang kerbau. Daerah letaknya dari dua aliran sungai. Ukiran rumah gadong memiliki arti dan filosofi 5 pokok:
 1.Kaluak Paku: keadaan alam dan berburu kepada alam
 2. Kucing Lalo: kucing tidur tapi telinga tetap siaga 
3. Itiak Pulang Patang: Bebek pulang sore hari dibawah komando , semua ikut sesuai yang didepan 
4. Si Kambang Manih: tutur kata yang manis kepada tamu
 5.Bunga Jombang: wanita cantik menunggu tambu dengan senyuman dan makanan yang enak 

Lubang Jepang

Lubang Jepang merupakan bunker perlindungan yang dibangun oleh tentara pendudukan Jepang sekitar tahun 1942. Bunker atau terowongan ini dibuat untuk kepentingan pertahanan . 

Lubang Jepang dibangun sebagai tempat untuk penyimpanan perbekalan, peralatan tentara Jepang. Panjang terowongan 1400 meter dan berkelok-kelok, lebar 2 meter dengan 64 tangga menurun. Pembangunan terowongan dilakukan dengan memperkejakan secara paksa puluhan sampai ratusan ribu tenaga kerja paksa (romusha) dari Pulau Jawa, Sulawesi dengan maksud supaya terowongan ini tidak diketahui oleh orang Bukittinggi sendiri.