PEMENANG LOMBA BLOG


Dokumen pribadi
Jadi pemenang blog itu punya perjalanan panjang sekali. Hampir lima tahun saya sudah melanglang buana dalam dunia blogger . Tepatnya sejak tahun 2013 saya mulai terjun ke dunia per bloggeran. 

Masih ingat benar saat memulai blog, saya tidak punya blog yang representative. Blog pertama saya adalah blogspot dengan template yang sangat original . 

Bukan hanya fisik blog yang masih jadul, tapi juga kontennya terasa sangat terasa tidak “friendly” atau kurang hangat dan kurang mendalam bahkan seringkali saya lupa jika saya memakai copy paste artikel yang saya anggap bagus (ini kebiasaan jelek yang segera saya hapuskan). 

Selangkah perjalanan pun mulai ditapaki dengan mengubah penampilan dari blog. Walaupun tidak sekece dengan mereka yang punya keahlian untuk membuat blog sendiri, tapi yach lumayan bersih dan boleh dibilang sangat sederhana. Lebih representative dong karena sudah mulai gunakan blog yang berbayar.

 Lalu, untuk konten, saya banyak belajar terus . Paling tidak saya menganggap bahwa parameter bahwa konten itu bagus jika saya sudah pernah menang lomba. Menang lomba blog, baik itu review maupun liputan. 

Benar-benar jatuh bangun untuk belajar nulis karena buat saya menulis dengan gaya bahasa yang sangat formal itu sulit banget, apalagi yang tidak formal lebih sulit lagi bagi saya. Setiap langkah untuk kemajuan saya jalani. Walaupun dalam puluhan lomba itu hanya satu yang menang. Itu artinya bahwa ada kemajuan atau perkembangan dengan tulisan saya. 

Motivasi pun naik turun. Dulunya senang jika menang, sedih jika kalah. Ini membuat saya naik turun motivasinya. Ketika mindset pun dirubah bukan kemenangan yang dicari tapi mendapatkan konten yang memang sesuai dengan pembacanya itulah yang dicari. Akhirnya saya kembali bersemangat untuk tetap menulis. 

Di bulan Agustus 2018 saya menulis dengan semangat untuk suatu lomba yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Paut dan Pendidikan Masyarat. Temanya cukup berat tapi menyenangkan “Pendidikan Keluarga Pada Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian.

 Hampir dua bulan saya tidak mendengar hasil pengumuman. Saya tak pernah berharap untuk masuk dalam nominasi mengingat bahwa pengikut lomba ini skalanya nasional, jadi paling tidak pesaingnya sudah sangat kaliber semuanya. Ini hanya soal keberanian saya saja untuk mencoba masuk dalam kancah nasional.

 Di tengah bulan September saya mendapat bocoran dari seorang teman bahwa saya masuk nomine 50 kategori lomba blog. Antara percaya dan tidak percaya saya mencari buktinya. Dengan usaha yang maximal saya coba mencari informasi dari panitia. Ternyata benar adanya. Sore itu saya dimasukkan ke dalam satu grup WA “Nomine Pendidikan 2018”. 

Kaget sekali melihat  jumlah pesertanya hampir 130 orang. Saya berpikir dimana posisi saya karena tiap kategori hanya ada 10 pemenang saja. Sedangkan hanya ada 4 kategori (blog, fiture, jurnalistik dan berita). Menurut perhitungan sulit untuk menang karena masih banyak pesaing yang harus disingkirkan dalam seleksi ini. 



 Sore itu tanggal 24 Oktober 2018, saya mendapat undangan apresiasi untuk menghadiri nomine lomba penulisan blog Pendidikan 2018 oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Paud dan Pendidikat Masyarakat. Suasana Hotel Peninsula begitu penuh sesak dan banyak orang yang mondar mandir untuk mendaftarkan diri alias absen untuk mendapatkan “tiket booking hotel”.

 Di antara sekian orang yang datang itu, saya agak tercengang melihat hampir 10 pasang orang yang sudah tua. Saya pikir apakah mereka peserta lomba atau siapa gerangan. Ternyata pertanyaan besar yang ada di kepala saya itu baru terjawab di acara puncak tanggal 25 Okterober 2018 yaitu Penyerahan dan Penghargaan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Plaza Insan Berprestasi Kemendikbud Jakarta. 

Acara dimulai pukul 19.30 dengan diawali oleh Musik Perkusi dari siswa-siswi SMA 48 dilanjutkan dengan pelbagai pengumuman dan penayangan para pemenang lomba Film Pendek (PSA dan dokumenter) , apresiasi Sekolah Sahabat Keluarga. 

Selanjutnya penyerahan apresiasi pendidikan keluarga untuk Lomba Jurnalistik kategori opini, berita , feature dan lomba blog. Acara selanjutanya pengumuman apresiasi pendidikan keluarga untuk orangtua Hebat. Selesai penyerahan apresiasi kepada 10 pasang orangtua hebat, diminta salah satu orangtua hebat yang mewakili 10 orangtua hebat untuk memberikan testimoni.

 Akhirnya acara yang dinantikan tiba juga, panggilan untuk 10 pemenang lomba blog pun harus maju ke depan. Kami ada 10 orang, mulai dari juara I sampai III dan 7 juara harapan. Saya termasuk di Juara Harapan. Inilah yang jadi kebanggaan bagi saya 

 Walaupun tidak masuk dalam kategori juara I sampai III tetapi masuk juara harapan sudah merupakan prestasi bagi saya dalam penulisan. Suatu kebanggaan yang membawa saya untuk terus maju dan semangat dalam menulis walaupun sulitnya tantangan ke depan .

 Saya tidak mengejar lagi untuk jadi pemenan lomba blog, tetapi ada appresiasi atas karya yang   saya kerjakan dengan sekuat tenaga.