BELAJAR MITIGASI GEMPA BUMI DARI PAKARNYA

Gempa bumi dan tsunami menjadi sesuatu yang mengerikan di mana pun . Mengerikan saat manusia yang berada di bangunan terutama bangunan tinggi tidak ada waktu untuk lari dan terjebak di dalam bangunan . Ketika terjebak di dalam gedung, risiko terbesarnya adalah diri kita tertimpa bebatuan dari bangunan yang besar dan ini pasti mematikan . Bayangkan jika kepala kita langsung tertimpa bongkahan beton yang besar, langsung memecahkan kepala kita.

 Dari hal yang mengerikan itu, Indonesia adalah negara kepulauan yang masuk dalam kategori Ring of Fire, dimana gunung merapi yang masih aktif dan potensi gempa bumi dan tsunami. Oleh karena itu Indonesia harus punya mitigasi bencana yang benar dan bagus. S


Seperti kata pepatah Sedia Payung Sebelum Hujan. Jika dapat dicegah maka korban-korban dari bencana pun akan berkurang. Suatu hal yang sangat perlu ditangani karena sekarang ini teknologi dapat dipelajari untuk menciptakan rumah anti gempa, bangunan tinggi yang anti gempa bahkan beberapa hal penting . 

Mari kita belajar dari Jepang, negara yang sudah memiliki pengalaman banyak karena hampir semua daerahnya hampir tiap tahun terkena potensi gempa bumi. Jepang bukan hanya berdamai dengan gempa bumi saja. Tetapi Jepang menggunakan teknologi yang canggih untuk melawan tsunami. 

Beberapa hal yang dapat kita tiru dari Jepang dalam menangani Tsunami: 

Teknologi sabo : 

Kata sabo berasal dari gabungan dua kata Bahasa Jepang. Kata (Sa) berarti pasir dan (Bo) berarti pengandilan. Sabo berarti sistem pengandalian erosi,sedimen,lahar hujan dan penanggulangan tanah longsor. Dengan bekerja sama antara Indonesia dan Pemerintah Jepang melalui JICA, pembangunan infrastrukstur yaitu melalui proyek sabo yang telah dimulai sejak 1984 maka implementasi teknologi sabo dam Indonesia itu dibangun sepanjang sungai di hulu gunung merapi. Fungsinya untuk mengarahkan dan memperlambat aliran material di sungai, tempat pengendapan,pengarah aliran untuk mencegah penyebaran dan membatasi terjadinya aliran lahar. 

Pembangunan Tembok Laut Raksasa di Jepang:

 Setelah terjadinya tsunami 4 tahun lalu, Pemerintah jepang di pantai utara Jepang. Tembok laut sepnajang 380 km dengan ketinggian 90 meter tebal 15.5 dengan ketinggian setara dengan lima tingkat gedung . Cukup besar biaya untuk pembangunan tembok laut raksasa ini 850 milliar yen.  Banyak ahli di Jepang yang skeptis bahwa tembok laut raksasa ini dapat menanggulangi datangnya tsunami. Bahkan warga juga berpikir bahwa tembok laut raksasa ini percuma dibangun karena kekuatannya belum dapat dibuktikan dan justru membuat anak-anak Jepang takut akan laut . Warga ingin agar anak-anak jepang justru memiliki budaya untuk mengantisipasi ancaman tsunami.




Mengembangkan Sistem peringatan dini bencana alam (disster-early warning system):


 Begitu ada tanda-tanda adanya gempa maka alat alarm itu akan berfungsi untuk memberi peringatan bahwa akan terjadi gempa dan kemungkinan diikuti dengan tsunami jika gempa yang terjadi cukup besar . Alat peringatan itu diterima oleh seorang petugas yang berkewajiban untuk melanjutkan peringatan kepada petugas gugus siaga bencana (disaster task force unit) untuk merespon dengan cepat dan menyampaikan kepada masyarakat adanya potensi dampak bencana dan mempersiapkan diri untuk berlindung di tempat yang sudah disiapkan. 

Rumah Tahan Gempa:
 
kompas.com
 Tinggal di daerah rawan gempa, pemerintah Jepang memastikan bahwa setiap warga memiliki rumah yang tahan gempa . Rumah tahan gempa itu dirancang khusus yang kuat dan tidak mudah roboh. Bangunan runtuh menjadi salah satu penyebab cedera dan kematian akibat gempa. Di Jepang ada dua persyaratan ketat untuk membangun rumah yaitu bangunan dijamin tidak akan runtuk karena gempa dalam 100 ke depan. Syarat lainnya adalah bangunan dipastikan tidak akan rusak dalam 10 tahun pembangunan. 

Peringatan Gempa di Ponsel:

 Setiap ponsel pintar di Jepang dipasang aplikasi dengan sistem peringatan gempa dan tsunami. Peringatan ini akan sampai kepemilik ponsel pintar sekitar 5-10 detik sebelum bencana terjadi. Warga masih memiliki waktu untuk berlindung seperti dibawah meja . Sistem ini akan mengeluarkan suara otomatis “jinshin desu! Jinshin desu! Artinya ada gempa bumi.

 Kereta Peluru: 

kompas.com
Jepang memiliki jaringan kereta peluru atau shinkansen. Untuk memastikan keselamatan penumpang, kereta dilengkapi dengan sensor gempa yang akan mengehntikan laju kereta yang bergerak. Apabila terjadi gempa berkuatan tinggi seperti gempa berkuatan 9,0 magnitudo pada 2011, ada 27 kereta peluru beroperasi. Setiap kereta berhenti saat gempa-gempa kecil mengguncang. Saat gempa besar menghantam, kereta peluru benar-benar berhenti sehingga tidak ada korban tewas atau bahkan terluka.

 Ransel Darurat:

 Ransel darurat ini berisi barang-barang yang sangat bermanfaat saat terjadi gempa. Isi dari ransel darurat adalah senter, obat-obatan, selimut, masker, tali, radio, toilet portable, dan sejumlah makan disediakan di setiap rumah tangga. Pusat evakuasi pun dilengkapi dengan adanya peralatan darurat ini cukup helm, selimut, senter, makanan, dan sebagainya untuk melayani kebutuhan masyarakat yang mengungsi untuk bertahan hidup selama tiga hari sampa tujuh hari. 

Ibu Rumah Tangga: 

Peran ibu rumah tangga sangat penting sekali karena pada saat gempa , harus memastikan bahwa gas dan alat kompor sudah dimatikan. Ini sangat membahayakan jika tidak dimatikan karena berakibat kebakaran dan pipa gas bocor. Juga ibu rumah tangga memastikan bahwa ransel darurat harus diperiksa dua minggu sekali , menggantikan makanan yang sudah kadaluwarsa dan melihat alat-alat masih bisa terpakai semuanya. 

 Budaya untuk memperkenalkan tsunami sejak dini

Hampir semua anak jepang telah diperkenalkan tentang tsunami sejak masa kanak-kanak. Walaupun mereka belum melihat dengan mata kepala apa itu tsunami. Tetapi ada edukasi yang telah diberikan sejak mereka kecil. Mereka harus berlindung di bawah meja saat terjadinya sirene bahwa terjadi gempa bumi. Setelah keadaan aman, mereka langsung berbaris dengan tertib menuju ke tempat evakuasi