1000 HARI PERTAMA ANANDA DENGAN NUTRISI YANG MEMADAI


Seorang anak perempuan bernama Lira Savina Praidini, berbaring sangat lemah sekali di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pariaman, Sumatera Barat. Pada usianya menjelang tujuh tahun, anak kedua pasangan Suhardi dan Verawati hanya memiliki tinggi dan berat badan seukuran balita usia dua tahun. Lira tak dapat menjalani masa kecilnya dengan bermain seperti layaknya teman-teman seusianya. Bahkan ada teman-teman yang menjauhinya . Pemeriksaan dokter menunjukkan bahwa Lira menderita stunting akibat gizi buruk yang dideritanya sejak kecil. Akibatnya perkembangan fisik dan psikologisnya terhambat.
dokumen pribadi

Ternyata nasib sama juga dialami oleh Rian, balita berusia 4,5 tahun, anak semata wayang dari pasangan Juju (28) dan Wiwi (27) warga Pamarisen, Desa Mekarjaya, Kecamatan Sumedang . Ketika dibawa ke puskemas setempat berat badannya hanya 5,1 kg dan tinggi 70 centimeter. Ketika dilahirkan berat badan Rian 2,6 kg. Dia tak berkembang sebagaimana anak-anak lainnnya.

 Ada anak lainnya di Gunung Kidul, bernama Fatimah berusia 1,5 tahun yang juga mengalami gizi buruk. Anak kedelapan dari pasangan Eko Suharno (38) dan Indri Muthoharoh (38) beratnya hanya 2,2 kilogram. Setelah kelahiran beratnya makin turun hingga 1,7 kilogram. Diakui oleh Indri bahwa sejak lahir memang kekurangan ASI.

 Kondisi ketiga balita di atas menunjukkan bahwa pertumbuhan fisik dan perkembangannya telah mengalami kekerdilan (stunting) . Anak-anak ini hanya mewakili sebagian kecil dari total angka stunting di Indonesia yang meningkat hingga 9 juta anak Indonesia.

 Menyedihkan bukan jika stunting dibiarkan tanpa dicegah sama sekali artinya generasi penerus bangsa kita akan menjadi orang yang tidak memiliki fisik dan intelegensia yang memadai. Perhatian

Pemerintah terhadap “stunting” sudah cukup gencar dilakukan . Dengan melakukan Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi yang fokus pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Gerakan ini sangat peduli dengan perbaikan gizi yang perlu secepatnya dilakukan bersama-sama baik oleh masyarakat, komunitas . Pemerintah sudah mencanangkan 1000 Hari Pertama Kehidupan di 8 kapubaten yang mendapat intervensi secara khusus pada tahun 2018 dan nantinya akan diperluas menjadi 100 kabupaten di daerah tertinggal . Dana yang dikucurkan cukup besar mencapai Rp.60 triliun melalui 13 kementrian.

Dokumen pribadi


Bagaimana kita mencegah stunting:

 Kunci pencegahan terjadinya stunting adalah dengan pola makanan yang bernutrizi atau bergizi, pola asuh dan sanitasi yang baik. Kita mulai dengan pola makanan yang bernutrizi lebih dahulu. Dikenal dengan sebutan Golden age atau masa keemasan dari seorang anak adalah 1000 Hari pertama kehidupan yang ditentukan oleh asupan nutrisinya. 1000 hari itu dihitung dimulai sejak kehamilan (270 hari) sampai anak berusia dua tahun (730 hari). 

Asupan nutrisi itu sangat penting bagi bayi yang dikandungnya karena otak anak sudah 80 persen terbentuk sejak dikandung oleh ibunya. Oleh karena itu seorang ibu harus mengkonsumi makanan yang bergizi atau bernutrisi. 

Perhatian kita kepada ibu yang mengandung, ibu yang menyusui dan anak yang dilahirkan sampai pada usia 2 tahun. 

 Asupan  bagi ibu hamil:

 1.Buah dan Sayur.

 Pada kehamilan trisemester, diperlukan banyak vitamin C dari kandungan jus jeruk untuk menambah kekebalan tubuh dan menghindari infeksi. Zat besi yang berasal dari sayur-sayuran hijau akan meningkatkan hemoglobline sel-sel tubuh dan membentuk energi. 

 2.Ikan :

Makanan yang berasal dari ikan sangat bagus karena ikan mengandung asam lemak omega
dalam pembentukan otak janin . Namun, harus diperhatikan agar ikan yang diasup jangan yang mengandung merkuri. Hindari makan ikan mentah karena hal ini akan meningkatkan kadar lemak jenuh dalam tubuh. 

3.Kacang-kacangan :

 Pilihan makanan kacang-kacangan ini sangat bermanfaat untuk pembentukan syaraf. Salah satunya adalah kacang hijau yang mengandung asam folat dan vitamin B dan dapat menambah energi .

 4.Air dan Vitamin:

 Ketika hamil muda, banyak muntah, untuk penganti air yang keluar sebaiknya banyak minum air atau cairan yang berupa sari buah tetapi tanpa gunakan gula. 

 Asupan bagi Ibu Menyusui: 

 1. Protein: 

Sangat diperlukan untuk pembangunanan dan perbaikan jaringan tubuh pada saat melahirkan. Protein ini dapat diperoleh dari daging, ayam, ikan, seafood, telur ,keju, susu, yogurt dan sumber protein lainnya. 

2. Lemak :

Sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan dan perkembangan bayi. Sebaiknya konsumsi lemak tidak jenuh tunggal dan tidak jenuh ganda, dan batasi lemak jenuh dan lemak trans. Sumber lemak tidak jenuh misalnya, alpukat, ikan berlemak (salmon), kacnag-kacangan, biji-bijian, minyak zaitun dan minyak kanola. Kebutuhan 6 bulan pertama menyusui 71-86 gram per hari ; 6 bulan kedua menyusui 73-88 gram per hari. 

3. Zat Besi :

Sangat dibutuhkan agar ibu menyusui tidak terkena anemia setelah melahirkan. Tidak perlu supelemen zat besi. Konsumsilah zat besi yang ada di dalam daging, ayam, ikan, seafood, kuning telur dan sayuran hijau (bayam dan brokoli).

 4. Kalsium:

Bukan dibutuhkan saat hamil, tapi juga saat menyusi. Kebutuhan kalsium saat kehamilan dan menyusui besar karena adanya penurunan massa tulang. Kalsiu di dapatkan melalui susu, keju dan yogurt. 

5. Kalium:

Fungsinya dapat menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Saat menyusui dibutuhkan banyak cairan karena Anda memproduksi ASI setipa hari. Peningkatan kebutuhan sesuai dengan pengeluaran agar terjaga keseimbangan cairan dalam tubuh. 

 6. Kolin:

Demi perkembangan otak bayi, diperlukan kolin. Kolin tidak ditemukan dalam makanan. Terdapat pada hati ayam, hati sapi, gandung, kembang kol , kuning telur .

 Asupan anak dari 0 – 2 tahun: 
Sahabat Keluarga

  1.   Inisiasi Menyusui Dini (IMD) segera setelah bayi lahir.
  2.  ASI  Eksklusif untuk bayi usia 0-6 bulan . Hanya ASI saja.
  3.   MPASI Rumahan berkualitas dari bahan lokal . Mulai usia 6 bulan (MPASI)
  4.   Lanjutkan ASI dan Makanan tambahan hingga anak usia 2 tahun. 
Sahabat Keluarga