Mudah Mencari Makanan Bergizi, Jangan Sampai "Stunting"



http://www.homeythailand.com/Drum-Dried-Fruits-and-Vegetables.html

Goldgen age atau masa emas seorang anak ditentukan oleh asupan gizi yang dimakannya. Jika saat masa emas ini tidak memperhatikan asupan gizinya, maka pertumbuhan dan perkembangan fisiknya anak itu akan menderita “stunting” . Setelah dewasa, anak yang kekurangan gizi akan berkurang kemampuan intelektualnya dan fisiknya.

Sayangnya, tercatat masih ada 9 juta anak di Indonesia yang masih mengalami “stunting” atau tubuh pendek akibat kurang gizi kronis. Jumlah ini berarti hampir 30 persen dari seluruh anak Indonesia. Sungguh sangat mengenaskan mengetahui kondisi ini. Menurut WHO, angka stunting yang ideal adalah 20 persen saja, sementara telah diketemukan di 34 provinsi di seluruh Indonesia angka stunting masih menunjukkan lebih dari 20% . Hanya di Jogyakarta diketemukan 19,8% dan Bali 19,1% ,jika diambil rata-rata , maka di seluruh Indonesia anak "stunting" masih berada di angka 30%-40%. Hal ini tentu sangat menyedihkan sekali. Generasi muda adalah  generasi penerus bangsa. Apabila kita menjadi generasi “stunting” maka yang dihasilkan adalah generasi yang tidak produktif , mengalami pemunduran. 

 Berbenah diri: 

Agar anak tidak mengalami “stunting” , anak harus mempunyai asupan gizi sejak ada dalam kandungan ibu selama 270 hari , atau sering dikatakan 1000 hari sejak kehidupan anak. Kekurangan asupan gizi itu terdiri dari banyak faktor misalnya kondisi ekonomi sosial orangtua, infeksi, status gizi ibu, penyakit menular, kekurangan mikronutrien dan lingkungan. 

Terkait dengan asupan makanan, sejak ibu hamil, diharapkan ibu tetap mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang seperti asam folat, yodium, zat besi. Seorang ibu wajib memberikan ASI eksklusif hingga anak berusia 6 bulan . Setelah itu disambung dengan makanan pendamping yang bernilai tinggi sampai anak berusia 2 tahun. 

Pengganti Beras:

 Ada yang mengatakan beras sebagai makanan pokok dianggap mahal. Padahal beras itu hanya mengandung karbohidrat saja. Diperlukan makanan yang punya nilai gizi yang lebih dari sekedar beras. 

Kondisi di tiap daerah di Indonesia memang berlainan, untuk makanan pokok bisa diganti selain beras. Setiap daerah punya potensi untuk menghasilkan pangan yang mampu untuk menjadi produk yang fungsional.

Apalagi sekarang ini ada Pusat Pengembangan Teknologi Tepat Guna (PPTTG) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang berlokasi di Subang sedang mengembangkan sejumlah produk inovasi pangan untuk ibu hamil, ibu menyusui dan bayi untuk cegah stunting.

Sumber bahan makanan yang kaya di tiap daerah digali, dikaji  misalnya bahan pangan lokal pisang,jagung, singkong jadi bahan dasar produk fungsional. Produk ini sangat bermanfaat sekali karena pengolahannya telah melalui proses kajian ilmiah dan mengandung lebih dari satu unsur senyawa memiliki fungsi fisiologis yang sangat bermanfaat bagi kesehatan.

 Sejumlah bahan pangan yang lain yang juga sudah dihasilkan adalah mie gandum, banana flake, banana bar. Untuk mi non-gandum, bahan baku yang digunakan ialah tepung mocaf, yang lainnya tepung jagung, dan tepung tempe. 

Semua temuan ini tidak menggunakan campuran tepung terigu , juga  bebas gluten sehingga jadi makanan sumber kalori dan protein yang tinggi dari beras yaitu 9,5 persen. 

Makanan Ringan: 

Disamping makanan utama, ada makanan cemilan yang juga telah dikembangkan oleh PPTTG sejak 2016 adalah banana flake. Bahan dasarnya dari pisang. Ketersediaan pisang yang melimpah di Subang jadi sumber inspirasi untuk mengolahnya, baik dimakan secara langsung atau diolah jadi makanan cemilan.

 Pengembangan: 

Menurut Kepala PPTG LIPI Pramono Nugroho , pihaknya sedang mengembangkan produk fungsional dari bahan pangan lokal lain Teknologi pangan fungsional lain yang dikembangkan ialah dengan memanfaatkan iwung atau disebut rebung.

 Diketahui bahwa rebung ini sebagai energi bagi ibu setelah melahirkan dan sebagai produk yang memperlancar ASI. Produk lainnya adalah MPASI berbasis mocaf dan bubur instan MPASI berbasis sorgum yang sangat baik bagi pencernaan bayi.

 Kedua produk ini diproduksi dengan berbagai  variasi bahan lainnya dengan kandungan gizi tinggi seperti kacang hijau, kacang merah dan sayuran. 

Dari penemuan-penemuan variasi makanan pengganti beras yang sangat bergizi ini diharapkan agar masyarakat dapat lebih mudah mengkonsuminya sehingga kasus stunting tidak ada lagi. Intervensi dari usaha pangan ini menjadi modal bagi para ibu untuk tidak selalu terpaku pada satu macam makanan, tetapi dapat menggunakan variasi  makanan lain yang juga punya gizi tinggi.

 Perlu diingatkan bahwa setiap makanan itu punya kandungan gizi yang lengkap seperti protein, lemak,vitamin dan mineral yang disesuaikan dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG).