Anak Bisa Jadi Sumber Konflik Berat Antara Suami-Istri


google.com

Anak memang suatu anugerah bagi setiap keluarga . Dambaan bagi suami istri untuk melanjutkan cintah kasih mereka dalam mahligai pernikahan. Ketika anak itu masih bayi semua cinta kasih suami istri tertumpah kepada anak yang baru saja dilahirkan. 

Tanki cinta kepada anak yang sangat penuh itu sepertinya tetap dilanjutkan saat anak mulai menginjak besar. Sayangnya, paradigma orangtua untuk memberikan cinta kepada anak itu dengan cara memberikan apa yang diminta oleh sang anak. 

Ayah atau ibu yang benar-benar cinta kepada anak lupa jika anak bukan hanya butuh cinta saja tapi juga butuh pengasuhan. Pengasuhan itu dengan cara mendidiknya mana yang benar dan mana yang salah. 

Ketika sang ibu mencoba untuk mendidiknya dengan tegas, disiplin, tidak boleh makan sembarangan, tiba-tiba sang anak datang marah kepada ibunya . Dia protes kepada ibunya kenapa tak boleh makan gorengan, ayah tak pernah melarangnya. Dijelaskan kepada anak apa alasan ibu melarangnya. 

Sayangnya, anak tak mau memahami alasan ibu. Seolah-olah anak ingin berpihak kepada ayah yang membolehkan keinginannya. Dia tahu kepada siapa yang lemah yang selalu menuruti keingannya. 

Lalu, apa yang terjadi. Setelah anak tidur, terjadi perang mulut antara ayah dan ibu. Ibu marah kepada ayah karena ayah selalu memperbolehkan memakan apa saja. Sementara ayah punya argumentasi bahwa kenapa soal makan saja anak harus diatur dan dilarang makan. Selama makanan itu sehat khan boleh. 

Masalah berikutnya, anak ingin sekali memiliki gadget. Ibu tak setuju karena mengetahui usianya belum cukup untuk mengerti bahaya dan kecanduan game yang memang diinginkan anaknya. Tapi ayah membelikannya dengan alasan anak sekarang harus kenal teknologi nanti jadi anak kuper. 

 Apa yang terjadi? Setelah anak punya gadget , anak benar-benar kecanduan main game. Ayah tak bisa memonitor anaknya karena bekerja sampai larut malam. Ibu setiap kali melihat anaknya main game, langsung memarahinya. Begitu ayah pulang, anak mengadu kepada ayahnya bahwa gadgetnya diambil oleh ibu karena ibu pengin bermain game. Pengaduan yang membuat pertengkaran antara ayah dan ibu karena duanya punya alasan yang kuat dan masing-masing membenarkan diri. 

 Masalah-masalah anak yang memicu pertengkaran orangtua itu timbul karena tidak adanya kesepakatan antara ibu dan anak dalam mendidik anak. Mulai dari masalah kecil /sepele seperti makanan, tapi hal itu menjadi besar karena ayah atau ibu punya tradisi atau latar belakang yang berbeda, bahkan adanya luka hati baik dari ayah atau ibu dari hasil pola parenting orangtua masih dibawa . 

Antara ayah dan ibu punya gaya pola parenting yang mereka lakukan dengan caranya mereka sendiri. Selayaknya, mereka harus berdiskusi dulu dalam menentukan pola parenting anak. Mencegah pertengkaran antara ayah dan ibu akibat perbedaan parenting adalah penting sekali. Lalu, bagaimana cara menghindarinya supaya anak tidak lagi jadi sumber pertengkaran. I

Inilah beberapa tips yang perlu diperhatikan : 

Gaya parenting yang sama: 

Sebelum memiliki anak sebaiknya ayah dan ibu berbicara dengan panjang lebar atau berdiskusi pola parenting apa yang ingin diterapkan kepada anak. 

Ada 4 gaya parenting: Santrock dalam bukunya yang berjudul Educational Psychology (2011) menyinggung empat macam gaya pengasuhan, yakni authoritative, authoritarian, neglectful, dan indulgent. 

 1. Authoritative Parenting:


 Orangtua yang menggunakan pola authoritative berperilaku hangat namun tegas. Mereka mendorong anaknya menjadi mandiri dan memiliki kebebasan namun tetap memberi batas dan kontrol pada anaknya. Dalam proses parenting, orangtua punya standar tetapi selalu disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak, selalu menunjukkan kasih sayang, sabar mendengarkan anaknya, mendukung keterlibatan anak dalam membuat keputusan keluarga, dan menanamkan kebiasaan saling menghargai hak-hak orangtua dan anak. 

Diharapkan dengan pola asuh ini , anak dapat berkembang kemampuan sosialnya, meningkatkan rasa percaya diri, dan tanggung jawab sosial. Menjadi anak yang bahagia,semangat, mampu mengendalikan diri, adapatif dan mandiri. 

 2. Authoritarian Parenting:


 Pada authoritarian parenting, orangtua menuntut kepatuhan dan konformitas yang tinggi dari anak-anak. Mereka lebih banyak menggunakan hukuman, batasan, kediktatoran, dan kaku. Mereka memiliki standar yang dibuat sendiri baik dalam aturan, keputusan, dan tuntutan yang harus ditaati anaknya. Orangtua dengan pola authoritarian cenderung kurang hangat, tidak ramah, kurang menerima, dan kurang mendukung kemauan anak, bahkan lebih suka melarang anaknya mendapat otonomi ataupun terlibat dalam pembuatan keputusan. 

Pengasuhan dengan pola ini berpotensi memunculkan pemberontakan pada saat remaja, ketergantungan anak pada orangtua, merasa cemas dalam pembandingan sosial, gagal dalam aktivitas kreatif, dan tidak efektif dalam interaksi sosial. Ia juga cenderung kehilangan kemampuan bereksplorasi, mengucilkan diri, frustrasi, tidak berani menghadapi tantangan, kurang percaya diri, serta tidak bahagia. 

3. Neglectful Parenting:

 


 Pola pengasuhan ini disebut juga indifferent parenting. Dalam pola pengasuhan ini, orangtua hanya menunjukkan sedikit komitmen dalam mengasuh anak yang berarti mereka hanya memiliki sedikit waktu dan perhatian untuk anaknya. Akibatnya, mereka menanggulangi tuntutan anak dengan memberikan apa pun yang barang yang diinginkan selama dapat diperoleh. Padahal hal tersebut tidak baik untuk jangka panjang anaknya, 

Orangtua dengan pola neglectful parenting bisa saja menganiaya, menelantarkan, dan mengabaikan kebutuhan maupun kesulitan anaknya. Minimnya kehangatan dan pengawasan orangtua membuatnya terpisah secara emosional dengan anaknya sehingga anak menjadi serba kurang dalam segala aspek, baik kognisi maupun kemampuan emosional dan sosial. Jika terus-menerus terjadi, anak berkemampuan rendah dalam mengatasi rasa frustrasi serta mengendalikan emosi. Ia sering kurang matang, kurang bertanggung jawab, lebih mudah dihasut teman sebaya, serta kurang mampu menimbang posisi. 

4. Indulgent Parenting:


 Pada indulgent parenting, orangtua cenderung menerima, lunak, dan lebih pasif dalam kedisiplinan. Mereka mengumbar cinta kasih, tidak menuntut, dan memberi kebebasan tinggi pada anak untuk bertindak sesuai keinginannya. Terkadang orangtuanya mengizinkan ia mengambil keputusan meski belum mampu melakukannya. Orangtua semacam ini cenderung memanjakan anak, ia membiarkan anaknya mengganggu orang lain, melindungi anak secara berlebihan, membiarkan kesalahan diperbuat anaknya, menjauhkan anak dari paksaan, keharusan, hukuman, dan enggan meluruskan penyimpangan perilaku anak.

 Oleh karena itu kesepakatan untuk menerapkan salah satu pola parenting sangat penting. Setelah memilih dan memutuskan untuk pola parenting , harus bersama-sama menerapkan dengan konsekuen . 

Lakukan Couple Pschytherapy:

 Jika masing-masing masih tidak dapat melakukan gaya parenting yang sama, maka sebaiknya pasangan tersebut menjalani couple psychotherapy . Dengan couple pschtherapy, hubungan antara ibu dan ayah akan jauh lebih sehat. Jika tidak memungkinkan melakukan couple pschotherapy, dapat diawali dengan individual therapy. Karena pribadi yang sehat akan membentuk hubungan berpasangan yang sehat. Bila hubungan pasangan sehat, maka hubungan ortu dan anak akan sehat. 

Sikap serba membolehkan yang dilakukan suami /istri bisa saja karena lukanya belum pulih dan akibat rasa bersalah. Dan rasa bersalah itu dirasakan dan dimanipulasi oleh anak. 

 Bila pola jalan sendiri-sendiri ini berlangsung lama, dampaknya akan merusak hubungan dan akhirnya keluarga.