NPC –Strip G, Inovasi di Bidang Alat Kesehatan Menuju Indonesia Jaya

Kanker merupakan penyakit mematikan yang belum ada obatnya sama sekali. Setiap kali ada jenis kanker yang baru timbul dengan pelbagai dampaknya yang dahsyat sampai mematikan. Sayangnya, karena minimnya pengetahuan dan tidak adanya deteksi awal, pasien sering datang ke rumah sakit sudah dalam keadaan terpapar dengan stadium yang tinggi. 

 Banyak faktor kenapa orang sepertinya terlambat datang berobat jika kanker dianggap sebagai penyakit mematikan. Salah satu jawabannya adalah penyakit kanker tidak menimbulkan gejala apa-apa sama sekali. Jadi orang tidak menyadari bahwa dia sedang mengidap penyakit mematikan. Dia datang pada saat kanker sudah menyebar ke seluruh tubuh dan kondisi tubuh sudah tidak fit lagi. 

Beruntung , ada solusi untuk deteksi dini untuk penyakit kanker Nasofaring yang disebut dengan NPC-Strip G.  Tingkat keberhasilannya mencapai 80 persen.

 Nasofaring adalah jenis kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut. Penyebabnya belum diketahui secara pasti. Namun, kanker nasofaring sering dikaitkan dengan adanya virus epstein bar. 

Kanker Nasofaring. Sumber:terapi.sehat.com
 Penemu atau inventor NPC-Strip G adalah seroang dosen dan peneliti Fakultas Kedokteran UGM, Ibu Dewi Kartikawati, Paramita, M.Si, Ph.d yang telah berhasil meraih penghargaan dari Menteri Kesehatan, Prof. Dr. dr. Nila F Moeloek, Sp. M (K) yang diterima oleh PT. Swayasa Prakarsa, unit usaha Gama Multi Group - UGM yang bergerak dibidang industri alat kesehatan dan farmasi. 

Penemuan ini telah berkontribusi besar untuk pencegahan kanker sofaring karena kanker sofaring termasuk 5 dari jenis kanker yang terganas di Indonesia. Bekerjanya alat Kit Detector kanker sofaring itu walaupun sederhana, tetapi sangat mudah, cepat dan akurat Kit alat tes ini diberi nama IgG NPC Strip. 

 ”IgG NPC Strip memakai protein EBV sebagai antigen untuk mendeteksi antibodi IgG terhadap protein EA pada pasien kanker nasofaring,” kata Dewi.  Penggunaan alat deteksi kanker seharga maksimal Rp 50.000 ini cukup mudah layaknya alat tes kehamilan. Bedanya, alat tes ini tidak menggunakan urine, tetapi setetes darah untuk diuji serumnya. Setetes darah untuk diuji serumnya. Darah diencerkan dengan larutan buffer yang tersedia pada kit. Selanjutnya, NPC strip dicelupkan dalam larutan. Dalam waktu 3-5 menit hasilnya sudah bisa dilihat. Dinyatakan positif jika terbentuk 2 garis berwarna merah muda dan negatif jika hanya terbentuk 1 garis warna merah muda/

Deteksi dini terhadap NPC ini dapat menekan biaya pengobatan karena belum membutuhkan berbagai terapi. Penderita NPC stadium awal dapat ditangani dengan radioterapi. Selain itu, deteksi dini juga menimalisir efek samping terapi pada penderita.  Deteksi NPC dilakukan dengan menggunakan protein dari virus Epstein Barr (EBV. Pasalnya NPI memiliki keterkaitan dengna EBV. Karena protein EBV dapat digunakan sebagai marker untuk deteksi NPS. Salah satunya protein early antigen (EA).


 Ibu Dewi mengharapkan bahwa ke depannya segera dilakukan penelitan lanjutan yang berkolaborasi dengan peneliti dari berbagai instansi lain. Sehingga ke depannya tidak hanya early detection kit untuk kanker nasofaring saja, namun dapat diproduksi deteksi dini untuk berbagai tipe kanker lainnya. 

Sebagai peneliti dari pihak UGM tidak bekerja sendiri, tentunya ada pihak incubator dalam hal ini Direktorat PUI UGM yang senantiasa bekerja sama dengan PT. Swadaya Prakarsa sebagai perusahaan hilirasisi yang menaungi produk-produk riset bidang kesehatan. Kerja sama telah dilakukan selama dua tahun berturut-turut.

 Produk riset di bidang kesehatan itu bukan suatu barang mudah karena PT Gama Multi Usaha Mandiri selaku holding company dan Universitas Gadjah Mada telah melakukan proses hilirisasi riset yang panjang dan sulit, tentu saja membutuhkan biaya besar sekali. Inovasi dengan teknologi yang tersedia dan ilmuwan yang mumpuni dan mau bekerja secara tekun seperti Ibu Dewi berhasil menemukan Kit detector Kanker Sofaring. 

Selayaknya penghargaan yang diperoleh dari Kementerian Kesehatan atas prestasi penemuan NPC-Strip G. dan terus mengawal riset di Universitas Gadjah Mada. Tidak lupa peran serta Puspiptek sebagai kawasan riset terbesar di Indonesia mensinergikan SDM terdidik , terlatih ,penelitian, pelayanan teknis terlengkap serta teknologi dan keahlian yang telah terakumulasikan. Hingga saat ini, ada beberapa produk yang telah berhasil dihilirisasi melalui PT Swayasa Prakarsa yaitu 3 (tiga) produk Alat Kesehatan, meliputi NPC Strip G, GamaCha (Bone graft), INA-Shunt (VP Shunt Hidrosefalus) dan 6 (enam) produk herbal, yang meliputi GamaTensi, GamaOptima, KalkuGama, GamaDiab, ImunoGama, serta GamaFresh.

 Tangerang, 28 Juli 2018 Ina Tanaya