MENULIS TANPA BEBAN

google.com

Banyak pertanyaan yang muncul dari teman-teman yang belum terbiasa menulis di blog yaitu “Bagaimana menulis tanpa beban?”. 

Awalnya, saya bingung menjawab pertanyaan ini. Saya tak paham mengapa menulis jadi beban pikiran, mental karena justru kebalikannya, menulis itu menurut saya pribadi bagaikan sesuatu “healing “ atau suatu daya kreativitas yang mengalir tanpa suatu beban apa pun. 

Setelah mengetahui dengan jelas arah pertanyaan itu adalah kebingungan dari seseorang yang belum terbiasa menulis itu tentang cara bagaimana memulainya dan apa yang harus dituliskan.

 Tidak ada resep yang istimewa dalam menulis tanpa beban karena menulis itu adalah bagian proses berpikir runtut yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Jika seseorang biasanya berkomunikasi dengan cara verbal maka menulis itu dilakukan dengan cara tertulis. 

Dalam satu acara Pementasan monolog di Bentara Budaya Jakarta pada tanggal 29 Juni 2018 , Aswendo Atmowiloto , dosen dari delapan mahasiswa program studi art performing communication memberikan lokakarya “Mengarang itu Gampang”. 

Tema dari lokakarya itu adalah refleksi dari buku dengan taju serupa yang pernah dituliskan 45 tahun lalu. 

Menurut Aswendo, menulis itu tak perlu banyak persiapan, jika banyak persiapan lalu kapan menulisnya. Lebih baik mengalir saja dulu, tuliskan apa yang ada dalam pemikiran kita. Selanjutnya, hanya perlu diperhatikan 3 hal dalam penulisan yaitu tokoh, lokasi dan konflik. Jika ketiga unsur itu ada dalam penulisan maka karya tulis itu sudah dianggap bisa dihasilkan dengan mudah. 

Disamping itu ada 4 dasar kemampuan yang harus dimiliki untuk menulis . Pertama adalah kreativiatas, kedua need for achievement (kebutuhan untuk berprestasi), ketiga berkumpul dengan para penulis untuk berbagi (sharing) dan keempat profesional.

 Kreativitas: 

Daya imajinasi yang kuat, dengan menulis sesuatu hal dengan topik yang baru sama sekali yang belum pernah ditulis oleh orang lain. Namun, bisa juga tulisan lama yang diperbaruhi dengan sesuatu yang lebih mendalam, menambahkan informasi atau pengetahuan yang lebih lengkap dan bahkan memberikan tips yang lengkap. Penulis pemula atau penulis seperti saya ini tak perlu khawatir dengan komentar atau bahkan tanpa ada komentar orang lain. Banyak yang beranggapan jika ada komentar banyak artinya tulisan kita disukai , sebaliknya jika sepi dari komentar , tulisan kita dianggap tidak disukai. Mulai dari saat ini, penulis harus memiliki perspektif bahwa suatu tanggapan orang lain itu berdasarkan dari apa yang disukai oleh orang lain , setiap penulis memiliki pembacanya sendiri. Jadi tak perlu khawatir tentang sepinya pembaca karena masing-masing penulis punya segmen pembaca yang berbeda satu sama lainnya. 

Aspek "need for achievement" :

 Mengembangkan kemampuan menulis dengan cara mengikut berbagai seminar penulisan, berkumpul dengan teman-teman penulis, nangkring atau sharing tentang cara menulis yang baik atau bahkan berbagai pengalaman dengan para pemenang lomba penulisan atau penulis handal.

 Dari pertemuan dengan penulis-penulis atau komunitas-komunitas penulis akan makin kaya dengan ide dan gaya penulisan. Semuanya bisa digali dan dikembangkan untuk mencapai tulisan yang lebih bermutu atau menarik perhatian pembacanya. 

 Profesional: 

Seorang yang ingin jadi penulis sebaiknya tak mudah /pantang menyerah. Jika tulisan tidak dihargai atau belum dianggap sebagai yang terbaik atau dalam kategori Kompasiana disebut Headline , jangan berkecil hati. Tetap aktif menulis dan setia terus kepada bidang penulisan . Semakin banyak berlatih dan mengembangkan tulisan ke arah yang lebih dalam dan lengkap serta gaya tulisan yang tidak menyontek maka tulisan pun jadi semakin bermutu. 

Kesegaran menulis diperkaya dengan data dan keterangan yang belum pernah diketahui oleh pembaca. Untuk mendapatkan data dan ketrangan itu seorang penulis harus makin banyak membaca buku-buku referensi. Buku-buku jadi sumber yang tak pernah habisnya. 

Media yang makin banyak:

 Selain menulis di blog pribadi, sekarang ini banyak kesempatan luas bagi penulis terutama generasi muda untuk terus berkarya dalam penulisan atau karangan. Wadahnya untuk menampung karya-karya yang dihasilkan sudah makin banyak karena banyak platform yang menyediakan bagi penulis . Hanya yang perlu diingat oleh penulis meskipun banyak media, janganlah menulis tanpa dasar atau menulis berdasarkan atas berita dari orang lain yang tidak benar atau seringkali disebut dengan hoax. Hoax bukan suatu karangan dan bukan karya seni yang dapat diapresiasi. 

Tips ringan:

 Bila tulisan kita masih bersifat monoton dan tidak memberikan kesegaran karena miskin kosa kata, mulailah dengan membaca , menonton film atau mendengarkan pembelajaran dari penulis-penulis lainnya yang lebih berpengalaman. Terus menulis karena tanpa menulis kamu tidak akan berhasil jadi penulis. Jangan biarkan menulis itu menjadi suatu beban karena menulis adalah kreativitas yang terbangun dari seni pikiran yang berproses tanpa hentinya.