Happy Life Before 40s


Slogan “Happy Life Before 40s” membuat saya mengingat kembali kehidupan 20 tahun yang lalu . Mendekati usia 40 tahun bukan berarti usia pencapaian karir bagi seorang perempuan seperti saya. Pergumulan hidup menggelayut sebelum saya mencapai usia 40. Di satu sisi, memang ada perjuangan karir yang sedang dalam masa transisi untuk dipertahankan tapi di sisi lain adalah kehidupan baru karena saya baru saja membangun rumah tangga.

 Memasuki usia 40tahun bukan sesuatu yang mudah bagi saya karena impian awal untuk tetap berkarir di kantor yang selama ini saya dapat mengaktualisasikan diri . Aktualisasikan diri ini penting karena saya bukan hanya mengejar karir dalam pekerjaan , tapi untuk keseimbangan dalam hidup.

Namun, ketika saya memutuskan untuk berumah -tangga dan dikarunia dan dianugerahi seorang putri di usia yang tak muda lagi, membuat suatu kebimbangan yang luar biasa. Apakah impian sederhana untuk membangun keluarga terutama untuk putri saya ini harus ditinggalkan setelah sekian lama berkarir di suatu kantor yang mapan? 

Wujud impian untuk tetap membangun rumah tangga yang bahagia itu tentunya dengan pertimbangan apabila di usia 40 tahun itu saya masih dapat bekerja artinya saya masih dapat melindungi diri saya sendiri ditambah perlindungan anak saya yang sangat membutuhkan perlindungan panjang untuk pendidikan dan kesehatannya.

Fasilitas kesehatan untuk saya, saya dapatkan dari kantor saya. Kenyamanan lainnya adalah saya dapat diberikan fasilitas tambahan dari kantor untuk fasilitas kesehatan untuk anak. Bahkan, saya masih mampu mengambil perlindungan anak saya untuk pendidikan di masa mendatang dengan menambah polis asuransi pendidikan dan asuransi jiwa yang dikombinasi dengan Unit Link. 

Keputusan yang sangat sulit  untuk tetap bisa bekerja dengan memikirkan pertimbangan baik buruknya jika anak ditinggalkan. Namun, setelah keputusan dibuat,saya tetap konsisten dalam pembagian waktu antara pekerjaan dan rumah tangga.
Wisuda Anak berkat adanya Asuransi Pendidikan.  Sumber: Dok Pribadi

Kebahagiaan yang saya rasakan, saat menjelang pensiun, saya mampu menyisihkan dana untuk anak dalam melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Perlindungan dan pendidikan anak melalui polis asuransi itu ternyata benar-benar saya rasakan manfaat asuransi saat saya mendekati pensiun, anak dapat memperoleh dana pendidikan melalui asuransi pendidikan tradisional , Pendidikan Danatra Cendika yang saya ikuti. Belum lagi saya masih memperoleh keuntungan dari hasil investasi terbaik dari asuransi jiwa dengan Unit Link

 Lengkaplah kebahagiaan itu saat pensiun tiba, anak masih dapat melanjutkan studi ke perguruan tinggi sampai lulus dan melanjutkan dengan "double degree" berkat adanya asuransi pendidikan yang saya alokasikan sejak awal kelahirannya.

Pengalaman berharga "Happy Life Before 40s" setelah saya mengetahui secara pasti bahwa dalam hidup ini mengutamakan prioritas.  Prioritas pertama sebelum menikah adalah mendapatkan pekerjaan yang mapan , sesuai dengan passion.   Prioritas kedua adalah perlindungan jiwa , kesehatan,  penting sekali karena tanpa perlindungan itu apa artinya jika terjadi kecelakaan, musibah ,tragedi kecelakaan yang tak bisa dihindari dalam kehidupan, dan yang ketiga atau terakhir adalah investasi.

Semua kebutuhan hidup itu perlu sekali kita kelola dengan baik.  Kita tinggal memilih asuransi sebagai satu-satunya yang mampu melindungi jiwa, kesehatan kita.  Pilihlah yang tepat asuransi perlindungan, investasi dan sesuaikan dengan kebutuhan kita.  Kebahagiaan hidup pun akan tercapai karena adanya perlindungan, investasi yang menjamin kehidupan kita selanjutnya.