BACK TO MY BASIC MOTIVATION


 Basic Motivation, adalah pengingat bagi saya.  Beberapa minggu terakhir ini saya tergelitik dengan dengan foto-foto dari beberapa kompasianer yang dipasang di Facebook dengan hastag #TeladanTeladani . Pembuatnya tidak lain dan tidak bukan adalah Bang Gapey R. Sandy. 

Apa yang membuat saya tergelitik dengan foto-foto dengan judul MOTITOR Menulis disertai dengan kutipan dari motivasi dari masing-masing penulisnya. Waktu foto saya terpampang di salah satu deretan dari penulis motivator Menulis itu, saya terharu plus tertawa kembali mengingat apa yang pernah saya katakan. Inilah kutipan kata-kataNYA “Saya tidak pernah mengejar tulisan masuk ke dalam kategori Headline.  Saya suka menulis untuk tulisan yang bermanfaat dan sharing kepada orang lain". Ditambahkan oleh Bang Gapey bahwa saya seorang yang "full of energy". Apa rahasianya? Ia banyak belajar & praktik! "Saya suka menulis hal-hal yang bisa menginspirasi pembaca," katanya.


Deretan kata-kata itulah sebagai pengingat saya saat saya sedang “down”, kecewa berat, atau bahkan tak punya ide untuk menulis karena seolah-olah ada yang membuat saya merasa tidak berguna untuk menulis karena kegagalan saya saat ikut lomba.

 Motivasi ikut Lomba dan kalah: 

Awalnya , saya berpikir bahwa tulisan saya itu tak menarik dan tidak berjiwa roh penulisnya. Seolah-olah gersang, tidak ada isinya. Untuk melatihnya, saya bekerja keras untuk ikut pelatihan “content blog” atau ikut pelatihan nulis di Kompasiana, kebetulan saat itu diadakan “Cara Menulis Reportase “ oleh Bang Gapey. Dari pelatihan itu, saya mulai menangkap apa dan bagaimana menyampaikan penulisan yang berkualitas. 

Untuk melatih diri dalam penulisan, saya sengaja ikut berbagai macam penulisan terutama lomba Blog. Jika dihitung, dari sebulan ikut lomba sebanyak 6-8 tulisan, artinya hampir 72 – 96 tulisan telah dikirimkan selama setahun. Hasilnya hanya satu saja yang bisa menang. Itu pun jika kompetitornya tidak sehebat dan sekelas blogger yang sudah termasuk kategori “jagoan pemenang lomba”. Nach, motivasi yang tadinya ikut lomba untuk melatih diri, sedikit bergeser tujuannya.

 Saya mulai mengincar dengan hadiah-hadiah yang ditawarkan. Hadiah uang atau hadiah barang berharga jadi tujuan utamanya. Suatu saat di tahun 2017, saya sangat serius untuk mengikuti Lomba Anugerah Pewarta Astra . 

 Pertama kali diundang untuk “launching” dari lomba penulisan, saya langsung mencari informasi nara sumber mana saja yang dapat saya hubungi. Dari informasi nama-nama yang dapat dikontak, saya menghubungi Yayasan Dharma Bhakti Astra atau disingkat YDBA. Yayasan ini bergerak untuk membantu memberdayakan UKM untuk bisa naik kelas ke tingkat mandiri.

 Sengaja saya datang ke kantor YDBA yang cukup jauh di daerah Sunter, lalu saya mendapat kesempatan untuk interview jadi sumber cerita inspiratif saya. Beberapa UKM baik itu di Yogyakarta, Semarang maupun Jakarta saya hubungi. Saya membuat perjanjian dan menginterview mereka untuk menggali ,mengolah data dan mendapatkan “insight”.

Sekuat tenaga dan pikiran dicurahkan untuk menulis karena saya tak mau setengah-tengah untuk menulis kali ini. Lomba ini harus dimenangkan walalupun di tingkat apa pun. Namun, sayang seribu sayang lomba dengan hadiah yang menarik hati saya itu tak pernah jatuh ke tangan saya. Berbagai pertanyaan timbul dalam benak saya? Mengapa? Belum cukupkah kualitas tulisan saya. Padahal saya juga mempelajari trik dari juri untuk bisa menang dari lomba itu dari tulisan dari pemenang pendahulunya. 

Dalam kurun seminggu setelah pengumuman pemenang dari lomba itu dan saya tidak menang, secara psikologis saya “down”, kecewa dan merasa tidak berarti, tidak bermanfaat. Kondisi ini membuat saya mengevaluasi kembali apa motivasi saya ikut lomba?

 Dulu sekedar untuk melatih kemampuan diri saya, sekarang untuk merebut kemenangan dan materi. Di sinilah saya mulai tertegur kembali. Kenapa motivasi yang bergeser itu mengubah saya untuk berhenti menulis. Dalam diam sendiri, saya belum menemukan jawabannya.

 Tapi setelah bermenung seharian, saya kembali teringat dengan posting dari Bang Gapey R. Sandy untuk motiavasi asli yang pertama kali yaitu bermanfaat dan sharing untuk orang lain. Tersentak ketika saya mengingat hal itu.

 Besok harinya, saya merasa lebih kaget lagi karena ada “surprise “ dari Ketapels bahwa saya dinyatakan sebagai pemenang dalam lomba nulis tiap mingguan di Kompasiana dengan #KetapelsChallenge. Mulanya otak saya ikut mempengaruhi hati saya lagi, nach itu menang karena pengikutnya hanya 6 orang anggota Ketapels. Saya tak melihat kedalaman dari makna kemenangan itu dari sisi motivasi yang diangkat oleh juri Ketapels. 

 Lagi-lagi, saya kaget saat membaca alasan juri untuk memenangkan saya. Saya kutip tulisannya “Minceu suka banget sama semangat Ibu Ina ini lo. Tulisan aktif, instagram oke, postingan blog pribadinya juga isinya bukan iklan doang”. Semangat, semangat, kembali kepada motivasi awal adalah modal saya untuk tetap menulis. Motivasi awal menjadi kekuataan bagi saya untuk tetap bertahan menulis tanpa melihat lagi soal materinya. Senang sekali jika ada orang yang masih melihat bahwa tulisan kita itu bermanfaat bagi orang lain.