Share
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

3 Juli 2017

Ramadhan Waktunya Berbagi dengan Orang yang Dicintai


Saya senang sekali dengan apa yang disebut dengan “caring is giving”. Jika kita mencintai seseorang, maka kita pasti memberikan apa yang kita miliki". Kebahagiaan dan kepuasaan jiwa yang saya alami jika saya mampu memberikan atau membagikan apa yang dibutuhkan oleh sesama.

 Memberi bukan dengan hanya kata-kata saja , menyatakan cinta harus dengan perbuatan. Perbuatan yang tak perlu diperlihatkan kepada setiap orang . Namanya pamer atau pencitraaan jika motivasinya ingin memperlihatkan apa yang telah saya perbuat kepada orang lain. Sebaiknya sich tak ada orang lain yang mengetahuinya. Perbuatan membagi itu menjadi suatu kebahagiaan hakiki.

 Namun, tidak ada salahnya apabila saat kebahagiaan itu diceritakan kepada teman-temanku karena esensi dari cerita itu mengingatkan bahwa kita sering lupa bahwa hakikat dari membagi kepada teman atau sesama yang kita cintai adalah  membagi kebahagiaan atau kesejahteraan bagi orang yang belum mengalaminya. Saat saya membagi itu, dan orang yang mendapatkan hadiah itu serasa bahagia sekali, maka kebahagiaan orang itu menjadi bagian kebahagiaan saya pula.

 Di hari-hari menjelang Ramadhan, saya senang sekali dengan tradisi membagi. Saya bukan muslim tetapi saya percaya bahwa prinsip membagi itu bukan milik agama Islam. Momen yang tepat untuk membagi kepada sesama di bulan Ramadhan karena saya mengalami dan merasakan kebahagiaan dari pembantu rumah tangga, loper Koran, tukang kebersihan taman dan sampah, semuanya ingin merayakan lebaran dengan keluarganya. 

Namun, mereka tak mempunyai kelebihan dana untuk merayakan itu karena mereka bukan pekerja formal. Rasanya tak berlebihan jika saya pun memberikan kontribusi sedikit untuk mereka. Kebahagiaan saat menerima dana itu terlihat dari apa yang mereka ingin rayakan. Suatu cahaya raut muka yang gembira dan bahagia tersirat dari wajah-wajah mereka. Rasa bahagia itu ikut membuat saya bahagia juga. 

Namun, dibalik semua hal yang telah disiapkan, ada seseorang yang terlupakan. Orang yang saya cintai adalah mantan pembantu rumah tangga yang telah berdedikasi kepada ibu saya selama hampir 24 tahun. Pengabdiannya sejak dia belum berumah tangga, ketika ibu saya mendapat kecelakaan dan harus duduk di kursi roda, dengan kasih sayangnya dia curahkan kepada ibu saya. Memandikan, mengurusnya seorang invalid yang hanya berbaring di tempat tidurnya dan menemaninya di kala duka ketika letusan gunung merapi tanpa evakuasi, hingga ibu meninggal, sampai akhir hayatnya. 

Saya hampir melupakan Mba Mi, orang yang telah mengabdi kepada ibuku dengan penuh kasih. Untung , masih ada waktu yang cukup untuk memberikan sedikit balasan atas kebaikannya itu dengan mengirimkan apa yang diperlukan pada hari Lebaran. Saya coba mengingat kembali kebutuhan istimewa untuk di hari Lebaran ini. 

Beruntung, saya menemukan website ini, segera saya memesan gamis yang saya cari dengan sangat mudah di sini.







http://www.elevnia.co.id
  • Aku pilih satu gamis yang sangat disukai oleh Mba Mi karena dia sangat konservatif dalam mode maupun warna. Tapi aku sangat kenal dengan tipe baju-baju yang disukainya. Ini sangat cocok dengan apa yang disukainya.
  • Harganya juga sangat terjangkau RP.88,000 a
  • Potongan harga atau diskon sebesar 60%
  • Warnanya juga sangat netral, hitam, sangat elegan untuk dipakai dalam berbagai kesempatan
  • Mudah banget membelinya melalui online dan barang pun cepat diterima.





Paket berisi gamis itu dikirimkan dengan harapan secepatnya diterima supaya tidak mubazir untuk bisa merayakan Lebaran.
www.hanyalewat.id

Sebuah berita kebahagiaan tersirat dalam sebuah WA "Terima kasih  gamisnya. Aku sangat suka Mba".

 Kebagiaan Mba Mie adalah bagian dari kebahagiaanku yang sungguh aku rasakan karena aku tak bisa menghitung nilai dedikasinya kepada ibuku dan aku tak mampu membalasnya. Hanya dengan barang sekecil ini sudah cukup membahagiakan dan aku ikut bahagia pula.