Share
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

2 Mei 2017

Mengejar Ketertinggalan Pendidikan

“Pendidikan merupakan kunci utama kemajuan suatu Bangsa” 


Add caption
Memperingati Hari Pendidikan Nasional , 2 Mei 2017 sebaiknya kita menengok kebelakang untuk mengevaluasi kembali apakah sistem pendidikan nasional kita sudah mencapai ke tingkat yang dicita-citakan oleh pendiri dari pendidikan Indonesia, K.H. Dewantara

 Usia kemerdekaan kita hampir 72 tahun tetapi hasil dari pendidikan nasional Indonesia di tingkat internasional masih jauh dari harapan . Menurut World Education Ranking , diterbitkan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) , posisi Indonesia berada di urutan ke 57 dari total 65 negara. 

Kriteria maju tidaknya suatu negara dalam bidang pendidikan ditentukan dari segi membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan. Namun, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengklaim pencapaian nilai Programme for International Student Assessment (PISA), untuk tahun 2015, kenaikan pencapaikan pendidikan di Indonesia ada peningkatan signifikan sebesar 22,1 poin. 

Apa itu PISA? 

PISA singkatan dari Programme for International Student Assesment yang diinisiasi oleh OECD (Organization Economic Cooperation Development). Tugas PISA adalah mengadakan evaluasi system pendidikan suatu negara. BEranggotakan 72 negara , tiap 3 tahun sekali , murid-murid yang berusia antara 15 tahun dipilih secara acak untuk melakukan tes . Bahan dari test adalah mata pelajaran utama seperti membaca, matematika dan science . Setiap tahunnya focus pada satu pelajaran utama. Tes ini bersifat diagnostic dan hasilnya dipakai untuk mengukur sampai dimana keberhasilan system pendidikan nasional di suatu negara. 

 Pencapaian Indonesia dari segi PISA 

 Melihat parameter dari angka-angka PISA secara menyeluruh (baca,matematika, science) dari tahun 2012-2015 memang menunjukkan cukup meningkat . Dari setiap elemen baca tiap tahun meningkat, juga matermatika tiap tahun meningkat, sains tiap tahun meningkat 


Peningkatan jumlah murid-murid yang belajar formal dan masuk dalam peringkat PISA makin bertambah . Dari 46% di tahun 2003; 53% di tahun 2006 ; 63.4% tahun 2012; 68.2% tahun 2015. 

Secara global, dalam bidang sains, murid kelas 10 lebih pandai dari murid kelas 9 sebesar 6.1 poin sementara jumlah murid kelas 10yang ikut berpartisipasi dalam PISA jumlahnya lebih kecil dari murid kelas 9 (45.49% vs 54.51%) Inilah bentuk grafiknya dari ketiga parameter pencapaian Indonesia dari segi PISA 

Bagaimana realitasnya? 

Mari kita menengok apa yang terjadi di bidang pendidikan di lapangan di negeri tercinta Indonesia. Banyaknya penduduk Indonesia yang sangat tinggi 250 juta sementara tingkat literasinya tertinggal 4 tahun dari negara lainnya. 

Masalah-masalah yang terbesar dari pendidikan di Indonesia yang belum tersentuh:

  •   Metode Pendidikan yang berbasis kepada standardinasasi: 

Kemampuan semua anak dianggap harus setara baik secara intelektual, kognitif, verbal dan sebagainya. Padahal tiap anak itu memiliki kemampuan yang sangat berbeda satu sama lainnya. Akibatnya apabila anak yagn tidak punya kemampuan setara itu harus terengah-engah untuk mengejar apa yang jadi kekurangannya. Sementara bagi yang lebih pintar, akan merasa bosan dengan pelajaran yang jadi standar.

 Meskipun ada beberapa sekolah telah melakukan ekselerasasi atau mempercepat pelajaran bagi mereka yang mampu belajar lebih cepat, tapi tetap saja, mereka yang pintar itu tidak semuanya pintar dalam semua bidang .

 Mengejar ketertinggalan dengan menerapkan system agar semua anak yang mau masuk SD harus bisa membaca dan menulis. Padahal hal ini tidak menyelesaikan masalahnya. Dalam dunia psikologi pendidkan untuk anak play group itu masih harus dengan banyak bermain, secara mental mereka belum siap untuk belajar membaca dan menulis. Menekankan dan mengharuskan mereka membaca dan menulis membuat mereka tertekan dan akhirnya mereka menganggap sekolah bukan sesuatu yang membahagiakan. 

  •  Kualitas Guru

 Pertama yang perlu dianalisa adalah apakah gaji guru memadai untuk kehidupan yang layak bagi dirinya dan keluarganya. Ada sebagian guru di kota besar dan sekolah swasta yang mampu menggaji guru dengan standar yang tinggi. Tetapi ada sebagian guru di pedesaan dan daerah terpencil yang gajinya sangat kecil dan tidak memadai untuk hidupnya. Jika gaji tidak memadai bagaimana seorang guru bisa mengajar dengan baik. Kehidupannya sendiri compang camping apakah dia bisa jadi role model bagi seorang anak didik? 

Pemerataan guru tidak sama di PUlau Jawa dan di luar pulau Jawa. Sebagian besar berada di Pulau Jawa. Bahkan jika tidak punya mapping yang jelas berapa murid di seluruh tempat dan berapa guru yang dibutuhkan, akan terjadi bahwa guru di suatu tempat menjadi tidak ada sama sekali. 

Ketrampilan dan kemampuan guru bukan hanya soal sertifikasi guru saja. Tapi guru juga punya 4 kompetensi . Keempat kompetensi itu adalah pedagogik, kepribadian, sosial, professional. 

Kompetensi pedagogik meliputi pemahaman guru terhadap peserta didik, untuk bidang rencana maupun pelaksanaan pembelajaran, evaluasi belajar . Mampu mengembangkan peserta didik yang kurang untuk lebih berkembang dan mengaktualisasikan potensinya.

 Kompetensi kepribadian merupaka nkemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia 

Kompetensi sosialmerupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. 

Kompetensi preofesional penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan . 

  • Infrastruktur dan fasilitas 

Sangat mengenaskan jika masih ada sekolah yang hampir rubuh dan telah minta agar diperbaiki oleh Dinas Kependidikan setempat tetapi belum jaga ada realisasinya. Ada yang bersekolah di kandang ayam , gubuk, . Tidak ada kenyamanan yang memadai untuk anak bisa sekolah . Untuk berangkat dan mencapai sekolah anak harus meniti sungai , menantang derasnya arus sungai, dengan telanjang alas kaki, dan hujan, banjir harus melalui yang sama.

Tidak ada infrastruktur  yang aman untuk anak sampai ke sekolah seperti jembatan yang dapat dipakai untuk bisa jalan secara aman ke sekolah. Setelah bencana terjadi, anak-anak kehilangan tempat sekolahnya dan belum dibangun. Menyulitkan untuk mengikuti pendidikan tanpa ada bangunan yang layak. 

Ketika UN harus dengan komputer dilakukan, untuk anak-anak dari daerah terpencil harus menginap di sekolah karena mereka tidak punay komputer di sekolahnya, harus mengungsi di sekolah yang punya komputer . Sebuah ironi bahwa pendidikan hanya dilihat dari sebuah kemajuan tanpa adanya infrastruktur tanpa pendukung.