Share
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

11 April 2017

Indonesia Menuju Raksasa Ekonomi Digital


Konsep dari ekonomi digital diperkenalkan oleh Tapscott pada tahun 1998. Ekonomi digital dijabarkan sebagai sosial politik dan system ekonomi yang memfokuskan cara mengakses informasi dengan menggunakan berbagai media, kemampuan untuk memproses informasi dan kapasitas komunikasi yang tinggi.

Awal indentifikasi dari komponen digital ekonomi dibagi sebagai  berikut ini:
  • Informasi industry teknologi Kegiatan e-commerce antara perusahaan dan individu.
  • Distribusi digital dari barang dan jasa.
  • Penunjang penjualan, utamanya penjualan barang dan jasa yang menggunakan internet.

 Tahap Perkembangan Digital Ekonomi di Indonesia:

 Indonesia terdiri dari 17,000 kepulauan dimana 4,000 kepulauan itu tidak dihuni.   Jumlah populasinya sebesar 245 juta pada tahun 2016. Hampir 43,000 desa (40% dari jumlah keseluruhan) tidak memiliki telpon tetapi memiliki gadget atau disebut dengan smartphone.

Infrastruktur digital yang dikembangkan oleh Indonesia saat ini sangat terbatas, sebagai contoh satelit . Pada tahun 2007 kebutuhan transporder sebesar 150 unit, sementara yang tersedia hanya 97 transporder yang disediakan oleh satelit domestik. Sisanya masih menyewa satelit dari luar negeri. 

Kapasitas dari tiap transporder sebesar 50Mbps. Untuk mengatasi kekurangan sebesar 53 Mbps atau 2.65 Gbps bandwith satelit, Telkom telah meluncurkan satelit yang dinamakan Palapa D yang 40% dari kapasitasnya digunakan oleh Indosat. 

Internet juga menjadi kendala besar bagi pengguna internet. Menurut pengguna internet, biaya terbesar dari internet adalah biaya yang dikenakan oleh internet service provider (ISP) . Pada tahun 2007, biaya ini sudah agak diturunkan menjadi US $ 1,800 per Mbps dari harga sebesar US $ 2,200–2,500 per Mbps. Menurut APJII , data pada akhir tahun 2007 Trafik internet di Indonesia telah mencapai 5 Gbps untuk penggunaan international bandwidth dan 80 Gbps untuk penggunaan domestik. 

Bangkitnya Industri e-commerce di Indonesia:

 Dalam 5 tahun terakhir ekonomi Indonesia ikut melambat karena dampak dari ekonomi global. Secara tidak langsung Indonesia terkena imbasnya. Namun, ditengah dari perlambatan itu ada berita yang menggembirakan bahwa industri e-commerce begitu melesat perkembangannya . 

Pemerintah mendorong agar e-commerce jadi andalan ekonomi digital dan diharapkan dapat membuat Indonesia menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di ASEAN pada tahun 2010. Data statistik menunjukkan perkembangan e-commerce di Indonesia (GAMBAR 1) 

http://databoks.co.id
Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, industry e-commerce akan menjadi tulang punggung ekonomi nasional apabila pertumbuhannya terus naik. Sayangnya, para pemain dari e-commerce itu pelaku bisnis dengan modal menengah ke bawah atau yang sering disebut dengan UKM. 

Keunggulan dari para pelaku UKM adalah mereka sangat tahan banting pada saat kondisi ekonomi jelek sekali pun. Satu-satunya yang masih bertahan ketika ekonomi Indonesia tidak baik, hanyalah UKM. Walaupun pelaku UKM ini cukup tangguh dalam berbisnis di kala bisnis sedang sulit, mereka juga punya kendala dalam era digital yang melanda Indonesia. 

Potensi industri e-commerce di Indonesia memang tidak dapat dipandang sebelah mata. Dari data analisis Ernst & Young, dapat dilihat pertumbuhan nilai penjualan bisnis online di tanah air setiap tahun meningkat 40 persen. Ada sekitar 93,4 juta pengguna internet dan 71 juta pengguna perangkat telepon pintar di Indonesia. 

Di era digital ini para UKM harus memiliki modal yang cukup besar untuk menandingi start-up yang dikuasai oleh pemodal asing. Banyak UKM yang telah menggunakan internet sebagai alat promosi produk mereka. Internet yang mereka gunakan tentunya sesuai dengan kemampuan dari pelaku UKM tempat dimana mereka berada. Sedangkan internet di daerah dan di kota di Indonesia tidak sama kecepatan maupun koneksinya. Itulah salah satu kendala yang dihadapi oleh UKM 

Selain itu belum adanya regulasi yang membuat para UKM bingung dengan banyaknya start-up yang bermunculan tapi tidak pernah mengetahui regulasi apa yang seharusnya mereka terapkan dalam berbisnis. 

Solusi dari masalah terbesar: 

Ada 6 isue besar yang telah diidentifikasi yaitu pendanaan, perpajakan, perlindungan konsumen, infrastruktur komunikasi, logistik, serta edukasi dan sumber daya manusia. Isu-isu tersebut harus dikerjakan bersama-sama dengan lembaga terkait agar menghasilkan kebijakan yang komprehensif dan tersinkronisasi.

 Salah satu isu yang sangat penting untuk dibuatkan solusinya adalah infrastuktur komunikasi. Di tahun 2016 ,era internet ini jumlah penggunanya sudah mencapai sebesar 132,7 juta orang dari total penduduk sebesar 256,2 juta orang. 

Hal ini merupakan peningkatan yang sangat signifikan sebesar 51.8% dibandingkan dengan tahun 2014 yang hanya sebesar 88 juta pengguna. Data ini berdasarkan dari survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) . Mayoritas dari pengguna internet berada di Pulau Jawa yang mempresentasikan sebesar 86,3 juta orang atau 65 persen dari angka total pengguna internet tahun ini.  Indonesia dalam angka:

Sedangkan sisanya adalah sebagai berikut
  •  20,7 juta atau 15,7 persen di Sumatera 
  •  8,4 juta atau 6,3 persen di Sulawesi. 
  •  7,6 juta atau 5,8 persen di Kalimantan 
  •  6,1 juta atau 4,7 persen di Bali dan NTB
  • 3,3 juta atau 2,5 persen di Maluku dan Papua.

 Pengguna internet itu lebih praktis menggunakan smartphone atau gadget. Mudahnya mendapatkan dan membeli smartphone jadi pilihan utama dari pengguna internet. Sayangnya, tidak semua pengguna internet yang berprofesi sebagai UKM di semua kota di Indonesia dapat berkomunikasi secara cepat dan tepat. 

Adanya jangkauan sinyal dan sulitnya akses data yang belum merata disebabkan infrastruktur yang perlu diperbaiki. Perbaikan Infrastruktur adalah bagian terpenting dari pembangunan digital. Inilah Statistik Indonesia: 

  • Sulitnya akses dan belum meratanya akses:

http://databoks.co.id
 


Akses sinyal seluler secara umum sudah menjangkau 91 pesen desa di seluruh Indonesia, namun kualitas sambungan internet belum merata. Di Jawa, terutama Jakarta, kecepatan sinyal sudah kencang, yakni mencapai 7 Mbps. Tetapi di luar Jawa, kecepatannya masih rendah. Bahkan di Maluku dan Papua kecepatan mengunduh masih di bawah 1 Mbps . 

  • Koneksi Internet Tumbuh Pesat Tapi Lambat :

Kecepatan akses internet Indonesia tercatat mengalami pertumbuhan tertinggi yang tidak sebanding dengan kecepatannya. Menurut laporan “State of the Internet” yang dirilis Akamai Technologies, kecepatan koneksi rata-rata internet Indonesia tumbuh 148 persen pada kuartal II-2016 terhadap periode yang sama pada 2015. Kendati begitu, kecepatan rata-rata internet Indonesia masih di bawah rata-rata dunia. 

  • Tarif Interkoneksi Penyebab Tarif Biaya Ekonomi Tinggi :

http://databoks.co.id
Tingginya tarif interkoneksi menjadi penyebab mahalnya tarif panggilan telepon antaroperator.Akibatnya pembebanan tarifi dikenakan kepada konsumen yang sebenarnya merupakan pemborosan bagi konsumen harus menggunakan lebih dari satu kartu subscriber identity module (SIM) untuk menghindari telepon antaroperator.

  •  Dari Kompetisi ke Kolaborasi:

http://databoks.co.id
Network sharing atau berbagi jaringan merupakan kolaborasi dua atau lebih operator dan penyedia infrastruktur telekomunikasi untuk menekan biaya operasional dan belanja modal. Apabila skema kolaborasi masih bersifat pasif maka fungsinya hanya untuk dipakai sekedar lokasi pemancar, menara keamanan, daya listrik. Sedangkan skema aktif yang meliputi jaringan transmisi dan frekuensi baru sebatas wacana 

  • Efisiensi Industsri Telekomunikasi untuk Pengembangan Digital (Berbagi Jaringan antar operator) 

http://databoks.co.id
Penerapan network sharing membantu percepatan perluasan akses telekomunikasi ke pelosok daerah. Dengan skema berbagi, maka tingkat utilisasi jaringan akan meningkat yang akan menaikkan volume traffic. Di saat yang sama, biaya layanan menurun seiring berkurangnya investasi yang harus dikeluarkan penyedia jasa atau operator. 




Ekonomi Indonesia yang mengandalkan pada digital ekonomi akan berhasil menjadi raksasa ekonomi digital jika kita semua berupaya untuk mengusahakan perbaikan kelemahan dari masalah digital ekonomi. Harapan ini semoga terwujud karena kita semua bekerja keras untuk perbaikannya.