Share
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

28 November 2016

Persepsi seorang Anak tentang Kebaikan Seorang Ibu. Sulitkah Mengetahui kebenarannya?

pixabay.com

Menjadi seorang ibu memang super duper kompleks sekali. Penuh tanggung jawab kepada anak baik itu pendidikan , masa depan anak. Semuanya dipertaruhkan demi anak. Perjuangannya tak pernah diketahui oleh anak.

 Apa yang diketahui anak tentang seorang ibu ketika masa kecil? Ibu selalu mendampingi anaknya (bagi ibu yang tak bekerja formal) saat dibutuhkan. Bahkan dari sekolah sampai pulang sekolah memperhatikan kebutuhan anak . Jika ada PR (pekerjaan rumah), ibu ikut repot. Apalagi jika anak belum juga menguasai bahan pelajaran tertentu, ibu langsung panik untuk memberikan tambahan pelajaran atau kursus agar anak dapat dengan cepat menguasai pelajaran yang belum dikuasainya. Belum lagi jika kondisi fisik anak tidak sesuai dengan harapan ibu, misalnya jadi kurus dan sering sakit. Ibu selalu memperhatikan pola makan anak. Menambahkan makanan yang bergizi dan segala macam vitamin. Tujuannya agar anak tidak kekurangan nutrisi dalam perkembangannya. 

Sayangnya, apa yang baik menurut ibu belum tentu baik menurut anak. Ibu pengin anaknya sehat dan kuat, tapi anak merasa tertekan dengan berbagai peraturan dari ibu. 
“Ayo makan buah dan sayur dihabisin!” (ini omongan ibu yang banyak sekali diulang-ulang)
 “Sudah makan vitamin. Hari ini makan apa?” (ini investigasi ibu yang seringkali terdengar oleh seorang anak).
 “Minum susu dan makanan harus dihabiskan!” (perintah yang seringkali terdengar)

 Ketika anak bertumbuh dan berkembang menjadi seorang anak yang dewasa. Ibu masih menganggap anak yang telah dewasa itu seperti anak yang masih kecil. Pola komunikasi dengan anak tetap tidak diubah saat anak sudah dewasa. Demikian juga dengan pertanyaan mendasar dan berulang tetap dilakukan oleh ibu. “Sudah makan?”
 “Makan apa?” 
Kebosanan anak mendengar pertanyaan yang selalu hampir sama , membuatnya jengkel untuk bertemu dengan ibunya. Padahal maksud pertanyaan ibunya itu adalah penuh perhatian dan cinta kepada anaknya. 


Tetapi reaksi anak sangat berbeda. Dianggapnya ibunya “terlalu cerewet atau terlalu protective “. Seorang anak, Mary (bukan nama sebenarnya), harus meninggalkan rumah untuk kuliah di luar kota. Dia merasa senang, bebas dari omelan , jauh dari ocehan dan pertanyaan ibunya yang berulang kali sama. 

Kebebasan yang dirasakan saat itu adalah tidak ada lagi orang yang menggangunya. Dia bisa bersikap dan berbuat apa yang diinginkannya, terutama dalam menentukan makanan. Dia tak mengetahui kondisi ibunya karena dia tidak pernah rindu kepada ibunya untuk berkomunkasi dengan ibunya. 

Saat dia libur sekolah di musim dingin tiba, dia pulang. Setibanya di rumah, ia mencari ayah dan ibunya. Tak ditemukannya. Ia hanya mendapatkan secarik kertas menyatakan bahwa ayahnya berada di rumah sakit mendampingi ibunya. Bergegaslah ia pergi menuju ke rumah sakit. Dia mendapatkan ibunya dalam kondisi yang sangat buruk. Tubuhnya kurus kering, mukanya pucat dan semua makanan hanya diberikan melalui slang-slang infus. 

Tercengang dan terkejut melihat kondisi ibunya. Ayahnya menceritakan semua apa yang terjadi dengan ibunya. Sakit kanker saat Marry berangkat ke college. Ibunya tak memperbolehkan ayahnya untuk menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya . Ibunya ingin agar sekolah Marry tidak terhambat dan segera lulus . Dia bisa menangani hidupnya sendiri bersama ayah Marry. 

Marry terpekur dan tercenung dalam-dalam. Apa yang dipikirnya selama ini ternyata salah. Dia tak pernah menyangka bahwa ibunya justru sangat mencintainya dengan tidak mau mengganggu sekolahnya. 

Kesadarannya itu membuat dirinya untuk minta maaf kepada ibunya yang selama ini dianggapnya mengganggunya. Dengan kelemah lembutan Ibu Marry menerima permintaan maaf itu dan dia tetap minta Marry tetap melanjutkan sekolahnya meskipun ibu masih dalam kondisi lemah. 

Akhir liburan selesai, Marry harus kembali ke kampus. Dia meninggalkan ibunya dengan sedih sekali. Tetapi keputusan yang sangat mengubahkan hatinya adalah dia tak lagi mau menyia-siakan waktu untuk tidak berkomunikasi dengan ibunya setiap hari. Walaupun hanya cukup 5-10 menit, waktu bersama ibunya lebih berharga dari semuanya. Itulah perubahan hati dan sikapnya kepada ibunya.