Share
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

31 Agustus 2015

Store-up My Blessings

Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, hampir 5 tahun sejak aku memasuki dunia pensiun,  langkah  kehidupan yang kujalani sangat berbeda sekali.

Ketika bekerja,  waktu sangat menyita . Hampir 14 jam, aku berada di luar rumah.  Semburat matahari pagi belum ke luar, aku sudah harus pergi ke kantor . Memburu terjebak dari kemacetan , kota Jakarta, jam 6 pagi sudah menembus pagi  meninggalkan rumah.   Pulang dari kantor, prakteknya baru pukul 18.00, waktu perjalanan hampir l l/2 jam.  Sampai di rumah, cukup larut malam pukul 19.30.   Badan dan tenaga sudah habis dikuras dengan perjalanan yang meletihkan.   Namun, itulah peran ganda seorang ibu sebagai pekerja sekaligus sebagai ibu rumah tangga.  Tak pernah mengeluh karena memang menikmati peran ganda itu .  Mengaktualisasikan diri dalam peran yang kadang-kadang membuat cape badan,tenaga dan pikiran.

Syukur bahwa selama 28 tahun aku dapat menjalankan tugasku di kantor dan di rumah dengan baik. Peran double yang tak mudah, tetapi dengan keahlian sebuah manajemen waktu dan  dukungan dari keluarga, suami , serta pembantu rumah tangga yang bekerja hampir selama 6 tahun, aku harus bersyukur kepada Tuhan. Keberhasilan semua ini adalah tangan-tangan Tuhan yang melakukanNya. Tanpa DIA, aku adalah manusia terbatas.

Setelah pensiun, aku ingin bersyukur dengan mengatualisasikan hidupku dengan sesuatu yang  bermanfaat  kepada orang lain, lingkungan .
Namun, keinginan dan cita-cita yang mulia itu tak semudah seperti yang dibayangkan.  Awalnya, aku ikut bekerja sebagai Volunteer pengajar di sebuah TK Ceria. Sebuah TK untuk anak-anak yang tak mampu.  Passion untuk mengajar selalu menggembirakan.  Bertemu dengan anak-anak  yang selalu menanti diriku mengajar bahasa Inggris.  Belum lagi jika aku tak hadir , mereka selalu menanyakan alasanku.   Namun, ada kendala yang mencegah aku melanjutkan untuk mengajar karena supir  pribadi yang mengantar diriku  ke luar .  Tempat Paud ini sangat sulit terjangkau untuk menuju ke sana.

Berbagai passion lain kucoba, selain grafologist, pelatih senam tera, dan ternyata  yang terakhir kudapatkan adalah sebagai penulis.
Loh apa sich kebaikan seorang penulis.   Sebagai penulis aku dapat menuangkan segala pikiran, ide dan kreativitas, pengetahuan yang ada dalam diriku untuk dibaca, digunakan manfaatnya bagi orang lain.

Ternyata menulis itu tak semudah yang dibayangkan. Materinya dan topiknya harus menarik sesuai dengan apa yang diharapkan pembacanya.  Usahaku dengan belajar cara menulis “Creative Writing with Maggie “ jadi modal.  Tapi tak hanya bermodalkan itu, aku selalu ikut seminar menulis berbagai tempat . Setiap hari berlatih untuk menulis.  Jika dihitung sudah ada sekitar 240 tulisan dibuat.  Jika dihitung secara manual, jika dalam 2 hari menulis 1 tulisan, dalam sebulan 15 tulisan, dalam setahun 15 x 12 = 180, dalam 3 tahun = 3 x 180 = 540. Sebagian besar tulisan sudah dikirimkan baik itu ke media sosial atau media cetak.
dokumen pribadi

Namun, respond sangat mengecewakan.  Pembaca tidak tertarik dengan apa yang ditulis.  Demikian juga dengan penolakan dari editor.  Lalu  apa  parameternya agar saya bisa melanjutkan menulis yang bermanfaat bagi orang lain.

Lalu, aku coba untuk memberanikan diri untuk ikut dalam lomba tulisan.   Sekali lagi, nyali ini sebenarnya sudah tidak ada, dan putus asa karena penolakan demi penolakan terus berdatangan.

Namun,  ketika putus asa itu menghampiri, ada suatu keajiban yang datang,  bahwa di bulan Agustus ini aku mendapat berkah 2 tulisan mendapat penghargaan.  Pertama adalah  Pemenang ke-II  di Lomba Penulisan: "Kenapa Gemuk Setelah Puasa" diadakan oleh  Aqua, dan Pemenang  Hiburan di  Lomba Penulisan "Dari Jamu Gendung Menuju Modernisasi" diadakan oleh IPB dalam rangka Dies Natalis: