Ada masa ketika tubuh yang dulu begitu akrab dengan kita, tiba-tiba terasa seperti milik orang lain.
Operasi tulang belakang. Operasi kaki. Kursi roda.
Gerakan yang dahulu dilakukan tanpa berpikir kini membutuhkan bantuan. Pergi ke suatu tempat menjadi sesuatu yang harus direncanakan. Bertemu orang lain tidak lagi sesederhana membuka pintu dan melangkah keluar.
Lalu perlahan muncul rasa malu.
Bukan karena ia melakukan sesuatu yang salah. Bukan karena dirinya menjadi kurang berharga. Tetapi karena ia merasa orang-orang akan melihat tubuhnya yang berubah, keterbatasannya, dan mungkin juga perubahan pada dirinya.
Akhirnya ia memilih diam.
Tidak lagi datang ke pertemuan. Tidak lagi banyak menghubungi teman. Tidak lagi mengikuti percakapan seperti dulu.
Tanpa disadari, ketika tubuh semakin sedikit bergerak, kehidupan sosial pun ikut menyempit.
Dan ketika dunia di luar semakin jauh, dunia di dalam kepala bisa terasa semakin membingungkan.
Di sinilah saya belajar satu hal penting: sakit tidak hanya mengubah tubuh. Kadang-kadang, sakit juga membuat seseorang perlahan kehilangan keberanian untuk hadir sebagai dirinya sendiri.
Namun mungkin, bangkit bukan selalu berarti kembali berjalan.
Kadang-kadang, bangkit berarti berani menerima bahwa hidup kita memang sudah berubah—dan tetap memilih untuk menjalaninya.
Ketika tubuh yang berubah membuat seseorang ikut menghilang
Saya mengenal seseorang yang kehidupannya berubah setelah menjalani operasi tulang belakang dan kemudian operasi pada kakinya.
Dulu, tubuhnya adalah sesuatu yang tidak perlu dipikirkan.
Ia bisa bergerak, bepergian, bertemu orang, bercanda, dan menjalani hari tanpa harus bertanya kepada tubuhnya, “Apakah kamu sanggup?”
Tetapi setelah serangkaian operasi, semuanya berubah.
Kini kursi roda menjadi bagian dari kesehariannya.
Perubahan itu bukan hanya soal kehilangan kemampuan untuk berjalan. Ada perubahan yang jauh lebih sunyi: perubahan cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Ia mulai merasa berbeda.
Ada rasa malu ketika bertemu orang. Ada kekhawatiran akan tatapan orang lain.
Ada perasaan bahwa dirinya tidak lagi seperti dulu.
Dan perlahan, ia mulai mengurangi pergaulan.
Awalnya mungkin hanya tidak datang sekali.
Kemudian dua kali.
Lalu semakin jarang.
Telepon mulai jarang diangkat.
Pertemuan mulai dihindari. Dunia sosial yang dulu ramai perlahan menjadi semakin kecil.
Padahal manusia membutuhkan hubungan dengan manusia lain.
Kita membutuhkan percakapan, tawa, perhatian, bahkan percakapan sederhana tentang hal-hal yang kelihatannya tidak penting.
Ketika semua itu menghilang, seseorang bisa semakin tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Apalagi ketika pada saat yang sama ia mengalami masalah kognitif atau episode halusinasi. Dunia di dalam kepala bisa terasa semakin sulit dipahami. Orientasi terhadap waktu, tempat, atau situasi dapat menjadi lebih menantang.
Di titik itu, saya melihat sebuah lingkaran yang perlu diputus.
Tubuh berkurang geraknya → seseorang merasa malu → ia menarik diri → interaksi sosial berkurang → stimulasi dan dukungan sosial ikut berkurang → rasa terasing semakin kuat.
Dan semakin lama seseorang menghilang dari kehidupan sosial, semakin sulit baginya untuk kembali.
Tetapi mungkin masalahnya bukan hanya bagaimana membuatnya kembali berjalan.
Mungkin kita perlu bertanya lebih dalam:
Bagaimana membuatnya kembali merasa bahwa dirinya tetap layak hadir?
Karena nilai seseorang tidak pernah seharusnya ditentukan oleh seberapa jauh ia bisa berjalan.
Tidak ditentukan oleh apakah ia bisa berdiri.
Tidak ditentukan oleh seberapa cepat pikirannya bekerja.
Dan tidak hilang hanya karena tubuhnya berubah.
Di sinilah penerimaan diri menjadi sangat penting.
Menerima diri bukan berarti menyerah.
Menerima diri bukan berarti mengatakan, “Ya sudah, saya memang seperti ini.”
Sebaliknya, penerimaan diri adalah keberanian untuk mengatakan:
“Ini memang bukan kehidupan yang saya bayangkan. Tetapi ini tetap kehidupan saya.”
Dari sana, langkah kecil menjadi mungkin.
Mau menerima kunjungan seorang teman.
Mau keluar rumah meskipun menggunakan kursi roda.
Mau kembali berbicara dengan orang lain.
Mau melakukan aktivitas yang masih mampu dilakukan.
Mau tertawa lagi.
Mau meminta bantuan tanpa merasa kehilangan harga diri.
Dan mungkin yang paling penting: mau melihat dirinya bukan hanya sebagai seseorang yang sakit, tetapi sebagai manusia yang masih memiliki cerita, pengalaman, kasih sayang, humor, hubungan, dan sesuatu untuk diberikan kepada orang lain.
Kita sering mengira bangkit berarti kembali menjadi diri kita yang dulu.
Padahal mungkin tidak.
Ada orang yang tidak akan kembali berjalan seperti dahulu.
Ada orang yang tidak akan memiliki kemampuan kognitif seperti sebelumnya.
Ada orang yang tubuhnya akan terus berubah karena usia atau penyakit.
Maka barangkali tujuan hidup bukan selalu kembali menjadi seperti dulu.
Kadang-kadang tujuan kita adalah menemukan cara baru untuk hidup dengan diri kita yang sekarang.
Kursi roda bisa menjadi alat untuk bergerak, bukan simbol bahwa kehidupan telah berhenti.
Rambut yang memutih bisa menjadi tanda perjalanan panjang, bukan alasan untuk merasa tidak berharga.
Tubuh yang melemah bisa membutuhkan bantuan, tetapi kebutuhan akan bantuan tidak membuat seseorang menjadi lebih rendah.
Dan ketika penyakit mengambil sebagian dari kemampuan kita, jangan sampai kita membiarkan penyakit itu mengambil seluruh identitas kita.
Karena kita masih tetap seseorang.
Masih seorang teman.
Masih seorang ibu atau ayah.
Masih saudara.
Masih manusia yang ingin didengar.
Masih manusia yang ingin dicintai.
Masih manusia yang bisa memberikan sesuatu kepada dunia.
Mungkin bentuknya berbeda.
Tetapi tetap berarti.
Jangan menghilang hanya karena tubuhmu berubah.
Jika hari ini kita belum mampu berjalan, mungkin kita bisa duduk bersama seseorang.
Jika belum mampu pergi jauh, mungkin kita bisa membuka pintu dan menyapa tetangga.
Jika belum mampu mengikuti percakapan panjang, mungkin kita bisa mengirim satu pesan kepada seorang teman:
“Aku
masih di sini.”
Kadang-kadang, kebangkitan tidak dimulai dari langkah kaki.
Ia dimulai dari satu keputusan kecil:
berhenti malu terhadap diri sendiri, menerima diri yang sekarang, dan mengizinkan diri untuk kembali hadir dalam kehidupan.
Karena hidup tidak berhenti ketika tubuh berubah.
Hidup hanya meminta kita belajar menemukan cara baru untuk menjalaninya.
Tidak ada komentar
Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!