Tampilkan postingan dengan label Sehat. Tampilkan semua postingan

Saat Panas Menjadi Beban Lansia, Tubuh Tak Lagi Secepat Dulu Beradaptasi

Saat Panas Jadi Beban lansia
canva.com

Aduh, panas sekali… badan rasanya tidak enak.” Kalimat sederhana itu mungkin sering terdengar dari orang tua atau kakek-nenek kita belakangan ini. Bukan sekadar merasa gerah, panas yang menyengat bisa membuat lansia cepat lelah, pusing, kurang nyaman, bahkan berisiko mengalami gangguan kesehatan yang lebih serius. 


Di tengah udara panas yang terasa menyengat di Tangerang Selatan, tubuh lansia menghadapi tantangan yang berbeda. Kemampuan tubuh untuk mengatur suhu sudah tidak sebaik ketika masih muda. Karena itu, panas yang bagi orang lain mungkin hanya terasa “gerah”, bagi lansia bisa menjadi beban yang jauh lebih berat.

 Bayangkan seorang lansia duduk di ruang tamu pada siang hari. Kipas angin sudah menyala, jendela dibuka, tetapi rasa panas seolah tidak juga pergi. Keringat mungkin bercucuran. Tubuh terasa lengket. Kepala mulai terasa berat. Aktivitas yang biasanya ringan pun terasa lebih melelahkan. “Padahal saya tidak ke mana-mana, kok rasanya badan capek sekali?” Keluhan seperti ini mudah dianggap sepele. Terlebih ketika usia sudah lanjut, rasa lelah sering dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

Padahal, cuaca panas dapat memberikan tekanan lebih besar pada tubuh lansia. Seiring bertambahnya usia, kemampuan tubuh untuk mengatur suhu dan beradaptasi terhadap panas dapat menurun. Respons berkeringat juga dapat berkurang, rasa haus tidak selalu muncul secepat yang dibutuhkan tubuh, dan kondisi kesehatan maupun obat-obatan tertentu dapat membuat lansia semakin rentan terhadap panas. 

Di sisi lain, ada satu perubahan besar yang sering dialami perempuan setelah menopause: produksi estrogen dari ovarium menurun drastis. Perubahan hormon ini dapat memunculkan hot flashes atau sensasi panas yang datang tiba-tiba. Jadi, ketika tubuh sedang mengalami sensasi panas dari dalam, kemudian harus berhadapan dengan udara luar yang juga panas, rasa tidak nyaman bisa terasa semakin berat. 

Namun, penting untuk tidak menyederhanakannya sebagai “lansia tidak punya estrogen sehingga tubuhnya panas”. Pada laki-laki maupun perempuan lanjut usia, paparan panas lingkungan dan menurunnya kemampuan tubuh mengatur suhu merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan. Dan persoalannya menjadi semakin nyata ketika udara di luar memang sedang sangat panas. 

Bagi lansia yang tinggal di kawasan padat seperti Tangerang Selatan, hari yang panas bisa terasa melelahkan sejak pagi. Keluar rumah sebentar saja terasa menguras tenaga. Beraktivitas di dalam rumah pun belum tentu membuat tubuh langsung nyaman, terutama jika sirkulasi udara kurang baik. 

Akibatnya, muncul keluhan yang tampaknya sederhana: badan terasa tidak fit, cepat lelah, kepala pusing, sulit tidur, atau malas beraktivitas. Di sinilah keluarga perlu lebih peka. 

Sebab pada lansia, jangan menunggu sampai tubuh benar-benar “tumbang” baru memberikan pertolongan. Panas berlebih dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, termasuk heat exhaustion hingga heat stroke. 

 Jembatan menuju poin tips


Karena itu, menghadapi cuaca panas bukan hanya soal menyalakan kipas atau mencari tempat teduh. Lansia perlu dibantu untuk menjaga cairan tubuh, mengurangi paparan panas, mengenali tanda-tanda tubuh mulai kewalahan, dan segera mencari pertolongan bila muncul gejala berbahaya. 

Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu: 

  • Cukupi cairan secara teratur dan jangan hanya menunggu haus.
  •  Hindari aktivitas berat di luar ruangan saat matahari sedang terik.
  •  Gunakan pakaian yang ringan, longgar, dan menyerap keringat. 
  •  Pastikan ruangan memiliki sirkulasi udara yang baik dan tetap sejuk. 
  •  Istirahat lebih sering ketika tubuh mulai terasa lelah atau tidak nyaman.
  • Perhatikan tanda bahaya, seperti kebingungan, pingsan, kelemahan berat, suhu tubuh sangat tinggi, atau perubahan kesadaran. Kondisi seperti ini membutuhkan pertolongan medis segera.

Pesan penutup 


Panas mungkin hanya terasa sebagai rasa gerah bagi sebagian orang. Tetapi bagi lansia, panas adalah kondisi yang perlu diperhatikan serius. Jangan menunggu sampai orang tua mengeluh “sudah tidak kuat” untuk bertindak. Pastikan mereka cukup minum, tetap sejuk, tidak terlalu lama terpapar panas, dan selalu ditemani ketika cuaca sedang ekstrem. 

Karena menjaga lansia dari panas bukan sekadar membuat mereka nyaman—tetapi juga membantu mencegah kondisi yang dapat membahayakan nyawa.


Sehat di Usia Senja Bukan Sekadar Bebas Penyakit

Sehat di Usia Senja, bukan sekedar bebas penyakit
canva.com


Dulu saya berpikir bahwa memasuki usia senior berarti saya harus lebih serius menjaga kesehatan fisik. 


Tekanan darah mulai harus diperhatikan. Kolesterol tidak boleh dianggap sepele. Perut yang dulu rasanya “kebal” terhadap berbagai makanan, sekarang mulai sensitif. Pedas sedikit, terasa. Makanan bersantan terlalu banyak, tubuh pun seperti memberikan protes. 

Tubuh ternyata mulai memiliki aturan mainnya sendiri. Apa yang dulu bisa dimakan dengan santai, sekarang harus dipikirkan dua kali. Awalnya saya menganggap semua itu sebagai bagian biasa dari proses menua. Tinggal mengatur makanan, olahraga, istirahat, dan rutin memeriksakan kesehatan. Tetapi kemudian saya menyadari ada hal lain yang tidak kalah penting: bagaimana menjaga pikiran dan hati tetap sehat. 


Ketika rumah mulai terasa lebih sepi 


Salah satu tantangan terbesar di usia senior bukan hanya perubahan tubuh, tetapi juga perubahan kehidupan. Anak yang dulu setiap week-end ada di rumah, kini harus melanjutkan pendidikan S2 di Polandia. Sebagai orang tua, tentu ada rasa bangga. Tetapi di balik rasa bangga itu, ada juga ruang kosong yang perlahan terasa. 

Rumah menjadi lebih sepi. Tidak ada lagi percakapan kecil setiap hari. Tidak ada lagi rutinitas sederhana yang dulu terasa biasa, tetapi ternyata begitu berarti. Di saat seperti itu, pikiran terkadang mulai berjalan ke mana-mana. Bagaimana keadaan anak? Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana situasi di negara tempat dia tinggal? 

Belum lagi ketika membaca berita tentang situasi negara atau melihat berbagai persoalan di sekitar kita. Kadang muncul keresahan yang sulit dijelaskan. Pertemanan pun ternyata bisa berubah seiring bertambahnya usia. 

Ada teman yang ternyata memiliki pandangan hidup berbeda. Ada perbedaan visi, cara melihat keadaan, bahkan cara menyikapi berbagai persoalan. Dulu mungkin perbedaan seperti itu bisa dianggap biasa. Namun ketika memasuki usia senior, saya semakin menyadari bahwa ketenangan batin juga merupakan bagian dari kesehatan. Tidak semua hal harus diperdebatkan. Tidak semua perbedaan harus dimenangkan. Dan tidak semua keresahan harus kita bawa pulang ke dalam hati.

Tubuh dan pikiran ternyata tidak berjalan sendiri-sendiri 


Semakin bertambah usia, saya justru melihat bahwa kesehatan fisik dan kesehatan mental tidak bisa dipisahkan begitu saja. Ketika tubuh tidak sehat, pikiran bisa ikut terganggu. Tekanan darah yang harus dipantau, kolesterol yang meningkat, pencernaan yang semakin sensitif, atau munculnya berbagai keluhan kesehatan dapat membuat seseorang menjadi lebih mudah cemas.

Sebaliknya, ketika pikiran terus dipenuhi kekhawatiran, kesepian, atau stres, kita pun bisa merasa tubuh menjadi lebih lelah dan tidak nyaman. Karena itu, mungkin pertanyaannya bukan lagi: “Mana yang lebih penting, kesehatan fisik atau kesehatan mental?” 

Melainkan: “Bagaimana menjaga keduanya agar tetap seimbang?” 

 Menua bukan berarti berhenti menikmati hidup 


Menjadi senior bukan berarti harus takut terhadap setiap perubahan tubuh. Justru mungkin inilah waktunya untuk semakin mengenal diri sendiri. Belajar memahami makanan apa yang cocok untuk tubuh. Mengatur pola hidup. Berolahraga sesuai kemampuan. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. 

Tetapi di saat yang sama, kita juga perlu memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat. Tetap bersosialisasi. Memiliki aktivitas yang membuat hati bahagia. 

Berkomunikasi dengan anak dan keluarga meskipun jarak memisahkan. Memilih lingkungan pertemanan yang membuat kita merasa nyaman. Dan yang tidak kalah penting: belajar menerima bahwa hidup memang terus berubah. Anak-anak akan tumbuh dan memiliki kehidupannya sendiri.

Teman-teman mungkin memiliki pandangan yang berbeda. Tubuh kita pun tidak akan sama seperti ketika muda. Semua itu adalah bagian dari perjalanan hidup. 

Pada akhirnya, sehat adalah tentang keseimbangan 


Semakin bertambah usia, saya semakin percaya bahwa kesehatan bukan hanya tentang angka di hasil pemeriksaan laboratorium. Bukan hanya tentang berapa tekanan darah kita. Bukan hanya tentang kadar kolesterol. 

Tetapi juga tentang bagaimana perasaan kita ketika bangun pagi. Apakah kita masih memiliki semangat untuk menjalani hari? Apakah kita masih memiliki orang untuk diajak berbicara? Apakah kita mampu menikmati hal-hal sederhana? Apakah kita bisa merasa tenang meskipun hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan?

 Kesehatan fisik dan kesehatan mental adalah dua sisi dari kehidupan yang saling memengaruhi. Karena itu, di usia senior, keduanya perlu dirawat bersama. Tubuh perlu dijaga. Pikiran perlu ditenangkan. Hati perlu diberi ruang untuk menerima. Dan hidup tetap perlu dinikmati. Sebab menjadi tua bukan tentang bagaimana kita menghindari semua masalah. Tetapi tentang bagaimana kita tetap bisa menjalani kehidupan dengan tubuh yang terawat, pikiran yang sehat, dan hati yang tenang.

Menjaga Kesehatan Setelah 60 Tahun: Mengapa Medical Check Up Tak Boleh Dianggap Mahal

Mengapa MCU Tidak Boleh Dianggap Mahal



Tawaran menarik dari pihak laboratorium maupun rumah sakit untuk diskon medical check up setelah 60 tahun ke atas . Iming-iming yang menggiurkan karena besarnya diskon itu sesuai dengan usia pasien. 


Sayangnya saya tak pernah bergeming karena anggapannya betapa mahalnya biaya MCU dengan diskon karena biayanya harus dibayar dengan kocek sendiri. 


Mengapa Medical check up penting setelah usia 60 tahun?


Menjaga Kesehatan Setelah 60 Tahun: Mengapa Medical check up Tak Boleh Dianggap Mahal? Rasanya dulu ketika saya masih bekerja di kantor, tiap tahun selalu tersedia fasilitas untuk medical check-up (MCU) tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Fasilitas lengkap itu dari kantor untuk semua karyawan tetap, bahkan yang usia 40 tahun ke atas diminta medical check up lengkap untuk EKG dan breast cancer (untuk perempuan) dan kanker paru-paru (untuk lelaki). 

Selesai MCU, hasilnya akan diserahkan kepada dokter perusahaan. Dokter perusahaan akan memberikan rekomendasi atas hasil MCU. Jika dianggap penting untuk rujukan, maka kami yang punya rapor merah pun diharapkan untuk ke dokter internis yang berkaitan dengan hasilnya, misalnya ke dokter jantung, dokter internis penyakit dalam, dokter paru-paru, dan lain sebagainya. Setelah masa pensiun tiba, saya sendiri merasakan betapa saya kehilangan fasilitas yang sangat berharga itu.

 Dulu saat bekerja anggap enteng karena semua urusan MCU diatur oleh Kantor, tak pernah bayar, juga usia masih jauh lebih muda, jadi berpikir tak mengapa jika sakit pun masih ditanggung oleh asuransi kesehatan kantor. 

Dulu saya Anggap Medical Check UP Terlalu Mahal Begitu memasuki masa pensiun, saya mulai berhitung setiap pengeluaran. Pemasukan pensiun itu tak sebesar seperti ketika masih bekerja. Sempat berpikir anggap bahwa biaya MCU itu terlalu mahal untuk saya yang sudah pensiun. Begitu hasil MCU, pasti harus diikuti dengan tindakan ke dokter. Dari dokter, harus beli obat dan seterusnya. 

Hampir sepuluh tahun saya skip untuk MCU karena mindset yang saya anggap uang MCU itu terlalu mahal. Hingga suatu hari saya bertemu dengan seorang teman yang usianya juga senior. Dia menceritakan bahwa dia juga tak pernah menyangka bahwa MCU itu penting sekali bagi kita setelah usia 60 tahun untuk deteksi dini penyakit.

 Kesehatan lansia itu pasti tidak seprima saat kita usia produktif sekitar 30-40 tahun. Dia juga ngga pernah berpikir bahwa hasil MCU nya ditemukan ada kebocoran jantung sehingga dia harus operasi jantung. Padahal selama ini dia seorang yang aktif sekali, senang berolahraga, tidak merasakan tanda-tanda sebagai orang yang terkena jantung. 

Sejak saat itu, saya mulai berpikir keras, jika teman saya bisa jaga kesehatan lansia dengan medical check up, kenapa saya juga tidak mulai memikirkan untuk medical check up juga. 

 MCU Membawa saya ke dokter jantung

 Di suatu rumah sakit swasta, Eka Hospital, memiliki program MCU Imlek dengan diskon cukup besar sesuai dengan usianya. Tertarik dengan tawaran itu, saya memilih MCU (tanpa breast cancer) tapi cukup lengkap yaitu rutin , kimia klinik, creatine. Seminggu setelah MCU, hasil laboratorium dikirimkan softcopy melalui email. Bukan main kagetnya saya ketika mengetahui bahwa Kolesterol LDL cukup tinggi 198 diatas high risk, demikian juga dengan total kolesterol 261 diatas normalnya < 200.

Setelah berbicara dengan dokter umum, saya diminta untuk berkonsultasi dengan dokter jantung. Awalnya, saya tak paham, mengapa harus ke dokter jantung jika kolesterol saja tinggi . Apa relevansi kolesterol tinggi dengan penyakit jantung? Kemudian saya mempelajari bahwa risiko terbesar dari kolesterol tinggi itu akan menyebabkan stroke maupun serangan jantung. 

 Begitu mendengar dan membaca risikonya, saya pun langsung bergegas untuk appointment dengan Dokter Jantung. Sebelum bertemu dan berkonsultasi dengan dokter jantung rasanya “deg-degan” karena serasa akan ada vonis berat. 

 Namun, beliau bertanya dengan lembut : “Apakah saya punya gen jantung?” Saya jawab “ya”. Ayah saya meninggal ketika mendapatkan serangan jantung kedua. Lalu, dibacalah semua hasil laboratorium dan memberikan kesimpulannya. Saya diberikan obat kolesterol yang harus dikonsumsi selama 3 bulan dan tidak bisa dihentikan. 

 Setelah 3 bulan saya harus kembali medical check up tapi khusus hanya kolesterol saja , kemudian saya harus datang lagi untuk konsultasi. Beruntung setelah makan obat 3 bulan, kolesterol saya turun dan dalam kondisi normal. Namun, dokternya mengatakan saya tetap harus minum obat kolesterol dengan dosis dikurangi, pola makan pun harus dijaga.

Kebiasan dan pola makan harus terjaga


 Nanti 3 bulan lagi tetap MCU lagi dan harus konsultasi kembali. Menjaga kesehatan setelah 60 tahun bukan sekedar menunggu sakit Pengalaman menjalani MCU itu membuat saya berpikir. Selama ini saya menganggap menjaga kesehatan cukup dilakukan ketika tubuh mulai memberi tanda-tanda. Padahal, tubuh tidak selalu memberikan alarm yang jelas. Saya tidak merasa sakit. Saya masih bisa beraktivitas. 

Namun angka LDL 198 di hasil laboratorium membuat saya sadar bahwa kesehatan tidak bisa hanya dinilai dari apa yang kita rasakan. Sejak saat itu saya mulai memahami bahwa menjaga kesehatan setelah usia 60 tahun bukan sekadar soal pergi ke dokter ketika sakit. 

Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang justru perlu dijaga setiap hari. Mulai dari apa yang kita makan, seberapa aktif tubuh kita bergerak, bagaimana kita mengelola stres, menjaga kualitas tidur, hingga tidak lagi menunda pemeriksaan kesehatan. Lalu, dari mana kita bisa memulainya? Saya akan sambung di artikel berikutnya , nantikan dan siapkan untuk tetap mengikutinya.

Menuju Indonesia Ramah Lansia: Bermartabat, Tangguh, dan Terus Bertumbuh

Menuju Lansia Bermartabat

asian-elderly-couple-dancing-together-while-listen-music-living-room-home-sweet-couple-enjoy-love-moment-while-having-fun-when-relaxed-home.jpg




Usia lanjut bukanlah akhir dari perjalanan , melainkan puncak kehidupan yang sarat makna, pengalaman dan kebijaksanaan. Di balik setiap kerutan tersimpan kisah perjuangan, pengorbanan, serta keteguhan yang menjadi fondasi bagi generasi penerus. Karena itu, lansia bukan hanya perlu dihormati, tetapi juga diberi ruang untuk tetap berkarya, berdaya, dan tumbuh bersama masyarakat. 


 Siapkah kita jadi lansia Tangguh?


Mendengar kata lansia pun, ada yang menertawakan karena merasa jauh waktunya atau belum waktunya. MEreka yang masih generasi X atau Y anggap bahwa nggak perlu pikirkan jadi lansia tangguh. 

Fase manusia itu begitu cepat loh, dulu ketika saya melahirkan, menganggap bahwa saya masih lama jadi lansia. Ternyata waktu begitu cepat berlalu. Tiba-tiba anak bayi, sudah masuk SD, SMP, SMA, lulus universitas, bekerja, dan belajar lagi untuk S2. Saya sudah lansia sejak anak bekerja. Tahap proses lansia jika dihitung jari memang lama, namun , tanpa disadari kita semua yang dulunya muda, akan masuk ke tahap lansia. 

 Jika kita tidak memperhitungkan persiapan jadi lansia yang bermartabat, nanti ketika tiba waktunya kita akan kaget dan kadang penyesalan datang sudah terlambat.

Apa pengertian lansia tangguh? 


Menunjukkan bahwa usia lanjut bukanlah penghalang bagi seseorang untuk tetap sehat, mandiri, aktif , dan produktif. 

Apa pengertian Indonesia tumbuh? 


Menjaga masyarakat memandang lansia sebagai bagian dari kekuatan bangsa yang terus berpartisipasi dan berkontribusi dalam Pembangunan. 

 Proyeksi persentase penduduk lanjut usia di Indonesia 


 Tiap tahun terus meningkat. Mulai dari 2020, jumlahnya 10,7% dari total warga di Indonesia , tahun 2025, naik 12,5%, 2030 naik 14,6%, 2035 naik 16,6%, 2040 naik 18,3% dan tahun 2045 naik 19,9%. Jika ada slogan Indonesia emas, seharusnya ada juga lemas karena ada bonus dalam jumlahnya meningkatnya mencapai 19,4% di tahun 2045. Dalam jumlah yang cukup besar, apakah kehidupan lansianya baik secara finansial maupun fisiknya dalam kondisi yang baik, terawatt? 

Seiring kehidupan lansia yang bertambah usia, sangat rentan terhadap penyakit kronis misalnya stroke, diabetes. Dari segi ekonomi pendapatan warga lansia rentan tak punya tabungan, bahkan sering tergantung kepada keluarga, bahkan rentan mendapat ancaman fisik, psikis di ruang domestic. Mereka yang tak mempersiapkan diri secara finansial, harus menyambung hidupnya dengan bekerja secara informal , contohnya seorang bernama Ramses (66) tinggal di Kawasan Pulo Bran, Sumatera Utara. Dia tak kuat bekerja sebagai tukang bangunan, terpaksa beralih menjadi pemulung botol untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama ibunya yang berusia 90 tahun.

 Belum lagi lansia yang”riskan terbuang” Seorang lansia, Wawan (79) ia ingin menikmati masa tua dalam dekapan anak, cucu karena dia sendiri fisiknya sudah sangat lemah. Kenyataannya, berbeda, sejak ia berpisah dengan istri, tiga anaknya sudah meninggalkan dirinya sendiri. Tidurnya berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid lainnya dan hidupnya bergantung pada belas kasihan orang lain. 

Begitu pula di panti Jompo , ada seorang bapak Wawan yang kondisi kesehatannya sudah rawan atau buruk. Dia ingin sekali ada keluarga yang menjenguk. Namun, harapannya sia-sia, tak seorang pun keluarga baik anak maupun cucu datang ke panti itu. 

Persiapan Lansia Tangguh, Tumbuh (berdaya), dan Bermartabat 


Persiapannya harus dimulai sejak dini (pra-lansia) melalui pendekatan 7 Dimensi Lansia Tangguh: finansial, spiritual, fisik, intelektual, emosional, sosial kemasyarakatan, vokasional (keterampilan hobi), dan lingkungan.

Finansial:

Miliki dana pensiun yang cukup untuk menghidupi diri termasuk kesehatan. Dana pensiun ini harus dikumpulkan sejak usia muda.  Tidak bergantung kepada anak, keluarga lainnya.

Fisik: 

Jalani pola hidup sehat dengan gizi seimbang (rendah gula, garam, dan minyak) rutin berolahraga ringan, tidur cukup, dan lakukan pemeriksaan kesehatan berkala. 

Intelektual dan vokasional: 

Latih otak dengan terus belajar hal baru, membaca, atau menekuni hobi dan keterampilan produktif agar tetap mandiri secara ekonomi.

Emosional & spiritual: 

Perbanyak ibadah, mendekatkan diri pada Tuhan, Kelola stres, dan kembangkan sikap ikhas serta berpikir positif. 

Sosial kemasyarakatan:

Tetap aktif bersosialisasi, mengikuti kegiatan warga, dan menjaga komunikasi yang hangat dengan keluarga. 

Lingkungan:

Pastikan rumah atau tempat tinggal memiliki akses yang aman dan nyaman bagi fisik lansia (ramah lansia).

 Penutup 


Lansia yang bermartabat adalah mereka yang dihargai dan diperlakukan dengan penuh penghormatan. Lansia tangguh adalah mereka yang mampu menghadapi perubahan dengan semangat dan keteguhan. Lansia yang tumbuh adalah mereka yang terus belajar, berbagi dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya. 

Mari bersama membangun Indonesia yang ramah lansia, di mana setiap lanjut usia dapat menjlani kehidupannya dengan sehat, bahagia, produktif dan penuh makna. Lansia: Bermartabat, Tangguh, dan Terus Bertumbuh

Kesehatan Lansia: Cara Tetap Sehat, Aktif, dan Bahagia di Usia Lanjut

Kesehatan Lansia: Cara tetap sehat di usia lanjut
Kesehatan Lansia: Cara Tetap Sehat di Usia Lanjut (Canva.com)



Pagi 23 Agustus 2026, sesi pertama dimulai dengan sebuah kenyataan yang sebenarnya sederhana, tetapi sering kita lupakan: menua adalah bagian dari kehidupan. Tidak ada seorang pun yang bisa menghindarinya.

Seiring bertambahnya usia, tubuh perlahan mengalami perubahan. Penglihatan mungkin tidak lagi setajam dulu. Otot mulai kehilangan massa dan kekuatannya. Kepadatan tulang berkurang. Paru-paru tidak lagi selentur ketika muda. Kulit pun menjadi lebih kering dan elastisitasnya berkurang. Namun, apakah bertambahnya usia berarti kita harus berhenti aktif? 
Tentu tidak. Justru di sinilah pentingnya memahami apa yang terjadi pada tubuh kita.

 Dalam sesi yang dibawakan oleh Dr. Hilderbrand Hanoch Victor Watupongo, SpPD, K-Ger, FInasim, dijelaskan bahwa di Indonesia seseorang mulai dikategorikan sebagai lansia ketika berusia 60 tahun ke atas. 

WHO sendiri membagi usia lanjut menjadi tiga kelompok: 60–74 tahun sebagai lanjut usia, 75–90 tahun sebagai lanjut usia tua, dan di atas 90 tahun sebagai usia sangat tua. Tetapi menjadi lansia tidak hanya soal angka.

Ada gambaran yang jauh lebih menarik: tetap aktif, sehat, dan bahagia. Ketika Usia Harapan Hidup Bertambah Ada kabar baik dari perkembangan kehidupan manusia. Usia harapan hidup semakin meningkat. 

Data yang dipaparkan menunjukkan usia harapan hidup meningkat dari 69,8 tahun pada 2010 menjadi 70,9 tahun pada 2017. Perempuan memiliki usia harapan hidup sekitar 73 tahun, sementara laki-laki sekitar 69 tahun.

 Tetapi angka tersebut membawa sebuah pertanyaan penting: Kalau kita hidup lebih lama, bagaimana kualitas hidup kita selama tahun-tahun tambahan itu? Sebab panjang umur saja tidak cukup. Kita tentu ingin usia yang panjang tetap disertai kemampuan untuk bergerak, berpikir, beraktivitas, berkomunikasi dengan orang lain, dan menikmati kehidupan. 

Itulah sebabnya kesehatan pada usia lanjut perlu dilihat secara lebih menyeluruh. Tubuh Berubah, tetapi Kita Bisa Tetap Menjaganya.

 Proses menua berlangsung pada berbagai organ tubuh. Mata mulai mengalami penurunan penglihatan dan lebih mudah silau. Massa otot berkurang sehingga kekuatan tubuh menurun. Tulang semakin kehilangan kepadatannya dan risiko osteoporosis meningkat. Elastisitas paru-paru juga berkurang, sementara kulit menjadi lebih kering dan keriput lebih mudah muncul. Perubahan tersebut adalah bagian dari proses menua. 

Namun ada hal lain yang perlu diperhatikan. Seiring bertambahnya usia, berbagai penyakit degeneratif maupun infeksi juga semakin menjadi perhatian.

Dalam materi ini disebutkan antara lain hipertensi, diabetes, penyakit jantung, stroke, ISPA, diare, pneumonia, dan obesitas. Karena itu, semakin bertambah usia, semakin penting pula kita mengenali tubuh sendiri. Jangan menunggu tubuh benar-benar menyerah baru mulai memperhatikannya.

 Jangan Biarkan Tubuh Hanya Duduk dan Diam Salah satu hal yang sering terjadi ketika usia bertambah adalah aktivitas fisik yang semakin berkurang. Padahal tubuh tetap membutuhkan gerakan. Dalam materi disampaikan bahwa kurang aktivitas fisik cukup tinggi pada kelompok usia 60–64 tahun dan semakin meningkat pada kelompok usia 65–69 tahun. 

Aktivitas fisik tidak harus selalu berupa olahraga berat. Ada banyak pilihan yang dapat disesuaikan dengan kemampuan, seperti tai chi, berjalan kaki, water aerobic, swimming, maupun resistance training. Intinya bukan berapa berat olahraga yang kita lakukan. Yang lebih penting adalah tetap bergerak sesuai kemampuan tubuh. Karena tubuh yang terus digunakan akan memiliki kesempatan untuk tetap berfungsi dengan baik. Bukan Hanya Otot yang Perlu Dilatih Ada satu hal yang tidak kalah penting: pikiran. Demensia atau pikun menjadi salah satu gangguan kognitif yang perlu mendapat perhatian. 

Materi ini mencatat bahwa jumlah penderita demensia diproyeksikan meningkat dari sekitar 1,2 juta pada 2015 menjadi 4 juta pada 2050. Karena itu, menjaga usia lanjut bukan hanya tentang menjaga kaki agar tetap kuat berjalan. Kita juga perlu menjaga kemampuan berpikir, memori, penilaian, emosi, dan keterlibatan dengan lingkungan.

 Sebab menjadi tua bukan sekadar perubahan fisik. Ada perubahan dalam kehidupan sosial, psikologis, ekonomi, bahkan lingkungan. Makan Sedikit, tetapi Jangan Kehilangan Gizi Ada satu perubahan lain yang mungkin tidak terasa pada awalnya: nafsu makan dapat menurun. Mengapa? Fungsi penciuman dan pengecapan dapat menurun. Produksi air liur berubah. Gigi dan gusi mengalami perubahan. Pengosongan kerongkongan dan lambung juga menjadi lebih lambat. 

Semua ini dapat membuat keinginan untuk makan berkurang. Belum lagi faktor lain seperti depresi, kesepian, penyakit kronis, disabilitas, demensia, penggunaan obat-obatan, hingga masalah keuangan. Karena itu, makan pada usia lanjut bukan sekadar persoalan kenyang. 

Yang penting adalah kualitas makanan yang masuk ke tubuh. Materi menyarankan makanan yang bervariasi, menjaga berat badan, memilih makanan rendah lemak dan kolesterol, memperbanyak serat, sayuran, buah-buahan, serta produk grain, dan menggunakan gula serta garam secukupnya. Dan bila selera makan menurun, salah satu pendekatannya adalah makan dalam porsi kecil tetapi lebih sering, dengan makanan yang padat gizi dan teksturnya lebih mudah dikonsumsi.

Ada Satu Hal yang Sering Diremehkan: Tidur Kita menghabiskan sekitar sepertiga hidup untuk tidur. Tidur bukan sekadar berhenti beraktivitas. Dalam materi dijelaskan bahwa tidur merupakan waktu bagi tubuh untuk melakukan perbaikan dan pertumbuhan sel. Lansia membutuhkan sekitar 5–7 jam tidur. Karena itu, jangan menganggap tidur sebagai kemewahan. Tidur yang cukup merupakan bagian dari menjaga kesehatan. 

Membuat jadwal tidur teratur, melakukan olahraga ringan, berjemur pagi, melakukan aktivitas yang menenangkan, menghindari rokok dan kafein pada sore hari, serta membatasi minum setelah makan malam merupakan beberapa hal yang disarankan untuk membantu mendapatkan tidur yang lebih baik. Jangan Tunggu Sakit untuk Memeriksa Diri Memasuki usia lanjut berarti kita juga perlu lebih sadar melakukan pemeriksaan kesehatan. 

Tekanan darah perlu dipantau secara berkala. Berat dan tinggi badan diperiksa. Kesehatan gigi dan mulut diperhatikan. Penglihatan dan pendengaran diperiksa. Lemak darah, gula darah, serta fungsi ginjal dan hati juga perlu mendapat perhatian. 

Dan yang menarik, pemeriksaan lansia sebaiknya tidak hanya melihat satu bagian tubuh. Ada pula penilaian geriatri secara menyeluruh yang mencakup gizi, fungsi, kognitif, dan kondisi mental. Sebab seseorang bisa saja terlihat sehat secara fisik, tetapi ternyata mengalami kesulitan dalam aspek lain kehidupannya. 

Ternyata Sehat Itu Bukan Hanya Soal Tubuh Di sinilah konsep geriatri menjadi menarik. Ketika seorang lansia memiliki dua atau lebih penyakit atau mengalami gangguan akibat penurunan fungsi organ, psikologis, sosial, ekonomi, dan lingkungan, dibutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh dan melibatkan berbagai bidang. Jadi, kesehatan lansia bukan hanya urusan dokter dan obat. Ada gizi. Ada aktivitas fisik. 

Ada kondisi mental. Ada lingkungan tempat tinggal. Ada kondisi ekonomi. Ada spiritualitas. Dan ada hubungan dengan keluarga serta teman. Semua saling berhubungan. Jangan Kehilangan Hubungan dengan Orang Lain Mungkin ini bagian yang paling manusiawi dari seluruh pembahasan. Ketika usia bertambah, kita tidak hanya membutuhkan tubuh yang sehat. Kita juga membutuhkan orang lain. Materi tentang status fungsional lansia memasukkan dukungan sosial, yaitu keluarga, teman, dan keterlibatan sosial. 

Di dalamnya juga terdapat aspek spiritualitas—makna hidup, keyakinan, dan kedamaian batin—serta aspek afektif yang berkaitan dengan kesehatan mental, emosi, dan kesejahteraan. Mungkin itu sebabnya menjaga kesehatan di usia emas tidak cukup hanya dengan menghitung berapa langkah yang kita lakukan setiap hari. Kita juga perlu bertanya: Dengan siapa saya berbicara hari ini? Apa yang membuat saya merasa dibutuhkan? Apakah saya masih memiliki kegiatan yang membuat saya bersemangat? Apa yang membuat hidup saya terasa berarti?

Pada Akhirnya, Menua Adalah Perjalanan Menua bukan penyakit. Menua adalah perjalanan yang tidak bisa kita hentikan. Tubuh akan berubah. Kekuatan mungkin berkurang. Penglihatan tidak setajam dulu. Tidur bisa berubah. Nafsu makan mungkin menurun. Risiko penyakit meningkat. Tetapi perjalanan itu masih bisa dijalani dengan lebih baik. 

Kita bisa tetap bergerak sesuai kemampuan. Memperhatikan makanan. Menjaga tidur. Melakukan pemeriksaan kesehatan. Memelihara hubungan dengan keluarga dan teman. Tetap bersosialisasi. Menjaga pikiran tetap positif. Dan yang tidak kalah penting, menemukan kembali makna hidup. Karena mungkin tujuan dari usia emas bukan sekadar hidup lebih lama. 

Tetapi bagaimana kita bisa menjalani tahun-tahun yang ada dengan tubuh yang tetap dirawat, pikiran yang tetap digunakan, hati yang tetap terhubung dengan orang lain, dan kehidupan yang masih memiliki makna. Usia boleh bertambah. Tetapi semangat untuk hidup tidak harus ikut menua.

Berkat Insto Dry Eyes, Mata PErih dan SEpet Tak Halangi Selesaikan Hadiah Postcard

Instro Dry Eyes
Dokumen pribadi

"Kadang, hadiah yang paling berharga bukanlah yang paling mahal, melainkan yang dibuat dengan hati. Namun, siapa sangka rasa SEpet, PErih, dan LElah di mata hampir membuat saya gagal menyelesaikan hadiah untuk momen yang sudah saya nantikan begitu lama?"



Setelah sekian lama tidak bertemu, akhirnya keponakan dan cucu saya datang dari Belanda. Momen reuni keluarga seperti ini bukanlah sesuatu yang sering terjadi. Saya ingin mereka pulang membawa kenangan indah tentang Indonesia yang mereka kunjungi.
Postcard yang bukan hanya tersimpan di ponsel, tetapi bisa disentuh dan disimpan bertahun-tahun kemudian.

Mulailah saya mencari desain postcard yang paling sesuai dengan perjalanan mereka. Lalu, saya mengumpulkan satu persatu foto-foto yang berkaitan dengan perjalanan dari kota di Denpasar, kota Bogor hingga kota Bandung.

Menyusun cerita seluruh perjalanan penuh makna dalam satu halaman. Tentunya hal itu tidak mudah sekali dilakukan karena saya harus memadukan warna, tata letak setiap foto sesuai dengan frame yang yang tersedia. Kadang-kadang merasa sudah bagus, tapi ternyata warna tidak cocok. Kadang warna sudah cocok tetapi tidak bisa dipadukan karena tak cocok dengan kota yang ingin disamakan.

Kenapa tidak beli postcard di toko saja jauh lebih mudah? Saya tidak ingin pemberian hadiah ini hanya sekedar cetakan postcard tanpa makna, tetapi hasil dari perhatian dan kasih sayang. Usaha keras saya untuk mengerjakannya semakin besar. Saya tak berhenti mengerjakan sebelum keinginan untuk menghasilkan karya yang sempurna. 

Sayangnya, saya tak sadar bahwa terlalu lama menatap layar membuat mata saya mulai terasa sepet, perih, dan lelah. Saya mencoba mengabaikannya karena berpikir, "Mungkin hanya kecapekan. Istirahat sebentar pasti cukup." Sayangnya, dugaan saya keliru.

Setelah beristirahat, rasa tidak nyaman itu masih ada. Mata tetap terasa kering sehingga konsentrasi mulai buyar. Padahal waktu terus berjalan, sementara postcard itu harus segera selesai sebelum hari pertemuan keluarga tiba. 

Saya tidak ingin momen yang sudah lama dinanti berubah menjadi penyesalan hanya karena mata yang Sepet, Perih, dan Lelah. Saat itulah saya menggunakan Insto untuk membantu mengatasi gejala mata kering yang saya rasakan. 

Perlahan mata terasa lebih nyaman, tepatnya sehingga saya bisa kembali fokus menyelesaikan setiap detail desain yang sebelumnya sempat tertunda. 

Hari yang dinanti akhirnya tiba. Ketika postcard itu saya serahkan kepada keponakan dan cucu, wajah mereka langsung dipenuhi senyum. Mereka membolak-balik setiap halaman dengan antusias, mengenang kembali perjalanan yang pernah mereka lakukan. Di saat itulah saya merasa semua usaha, waktu, dan perhatian yang saya curahkan benar-benar terbayar. 

Saya belajar bahwa momen berharga sering kali lahir dari hal-hal sederhana, tetapi jangan pernah #MataSePeLeJanganSepelein karena dengan mata yang nyaman membantu kita tetap fokus menyelesaikan apa yang kita cintai dan menghadirkan kebahagiaan bagi orang-orang yang kita sayangi. 

Mengapa Mata Bisa Terasa Kering?

Insto Dry Eyes
canva (dokumen pribadi)

Mata kering terjadi ketika air mata yang berfungsi menjaga kelembapan permukaan mata jumlahnya kurang atau kualitasnya tidak optimal. Akibatnya, mata menjadi kurang terlindungi dan terasa tidak nyaman. Beberapa penyebab  gejala mata kering yang sering terjadi: 

  • Terlalu lama menatap layar gadget atau komputer sehingga jarang berkedip. 
  • Berada di ruangan ber-AC atau lingkungan berangin.
  • Kurang istirahat.
  • Penggunaan lensa kontak dalam waktu lama.
  •  Faktor usia atau kondisi tertentu yang memengaruhi produksi air mata.

 Mata SEpet

Insto Dry Eyes
Canva (Dokumen pribadi)


Mata sepet adalah kondisi ketika mata terasa seperti tertarik, kurang nyaman, atau seperti ada yang mengganjal. Sensasi ini sering muncul bersamaan dengan mata kering karena permukaan mata kehilangan kelembapan. 

 Mata PErih?

Insto Dry Eyes
canva (dokumen pribadi)

Mata perih adalah sensasi seperti terbakar atau menyengat pada mata. Kondisi ini dapat dipicu oleh mata kering, debu, asap, paparan angin, atau terlalu lama melihat layar digital. 

Mata LElah?

Insto Dry Eyes
Canva (dokumen pribadi)

Mata pegel adalah rasa lelah atau berat pada mata setelah digunakan terus-menerus, misalnya saat bekerja di depan komputer, belajar, atau bermain ponsel dalam waktu lama. Mata pegel biasanya disertai rasa tegang dan sulit fokus. 

Solusi Jitu dengan Insto Dry Eyes

Jika keluhan disebabkan oleh mata kering, Insto dapat membantu memberikan kelembapan pada permukaan mata dengan menggantikan cairan air mata yang berkurang, sehingga membantu meredakan gejala seperti: 

Insto Dry Eyes
canva (dokumen pribadi)

  • Mata Kering
  • Mata SEpet
  • Mata LElah akibat kurangnya kelembapan
  • Mata PErih yang berkaitan dengan mata kering

Agar mata tetap nyaman, lengkapi juga dengan kebiasaan berikut: 
  • Istirahatkan mata secara berkala, misalnya menggunakan aturan 20-20-20 (setiap 20 menit, lihat objek berjarak sekitar 20 kaki/6 meter selama 20 detik). 
  • Lebih sering berkedip saat menggunakan gadget.
  • Minum air yang cukup. 
  • Hindari paparan AC atau angin secara langsung jika memungkinkan.
Fungsi utama melumasi , menjaga kelembapan permukaan mata, karena Insto Dry Eyes memiliki kandungan aktif yaitu Hydroxypropyl Methylcellulose 3.0 mg dan Benzalkonium Chloride 0.1 mg, bekerja sebagai pelumas dan airmata buatan.

Cara Pengunaan

Dosis penggunaan Insto adalah 1-2 tetes pada setiap mata, 3-4 kali sehari. 

Perlu diperhatikan cara penggunaan yang tepat: 
  1. Cuci tangan lebih dulu dengan sabun dan air bersih. 
  2. Dongakkan kepala sedikit ke belakang .
  3. Tarik kelopak mata bagian bawah hingga membentuk kantung. 
  4. Teteskan obat sesuai dosis yang dianjurkan. 
  5. Tutup mata perlahan selama 1-2 menit.
  6. Hindari menyentuh ujung botol tetes mata dengan mata atau permukaan lain untuk mencegah kontaminasi .

Peringatan 

  • Lepaskan lensa kontak saat digunakan. 
  • Jangan gunakan rutin dalam jangka panjang. 
  • Lensa Kontak boleh digunakan minimal 15 menit setelah obat diteteskan 

Packaging baru Insto Dry Eyes

Insto Dry Eyes
instagram.com/insto.id


Insto Dry Eyes hadir dengan desain kemasan botol dan kotak yang lebih modern dan segar. Varian ini dikemas dalam botol berwarna biru berukuran 7.5 ml dan berfungsi sebagai pelumas mata atau air mata buatan untuk mengatasi gejala mata kering,  #BebasMataKering.

Anda dapat menemukan produk ini, di Lokasi apotik atau toko terdekat dengan harga yang sangat terjangkau. Ayo, jangan biarkan mata Anda SEpet, PErih, LElah, atasi segera dengan  Insto Dry Eyes. 

Beban Kerja Berat, Hati Ikut Penat: Saat Tubuh Masih Bekerja, Tapi Batin Sudah Menyerah

beban batin berat
freepik.com



Pernahkah Anda merasa tubuh masih sanggup bekerja, tetapi hati rasanya sudah tidak memiliki tenaga? Alarm berbunyi setiap pagi. Anda tetap bangun, berangkat kerja, menyelesaikan tugas, menghadiri rapat, menjawab pesan, dan tetap tersenyum di depan orang lain. Dari luar, semuanya tampak baik-baik saja. Namun, jauh di dalam hati, ada sesuatu yang perlahan terkuras. Bukan hanya energi fisik yang habis, melainkan juga emosi. 

Hal-hal kecil mulai terasa mengganggu. Kesabaran semakin tipis. Tidur tidak lagi membuat tubuh benar-benar segar. Bahkan akhir pekan pun terasa terlalu singkat untuk memulihkan diri. Jika Anda sedang mengalami hal itu, mungkin yang Anda rasakan bukan sekadar lelah biasa. Bisa jadi Anda sedang menghadapi kelelahan emosional akibat beban hidup dan pekerjaan yang terus menumpuk.

 Mari kenali tanda-tandanya dan temukan cara untuk kembali merawat diri.

 1. Beban Kerja Berat, Emosi Negatif, dan Stres yang Terus Menumpuk


 Stres tidak selalu datang karena pekerjaan yang banyak. Sering kali, yang membuat seseorang benar-benar lelah adalah tekanan yang tidak pernah selesai. Target demi target, tuntutan keluarga, masalah keuangan, konflik dengan rekan kerja, hingga rasa takut gagal dapat bercampur menjadi beban yang memenuhi pikiran setiap hari. 

Awalnya mungkin masih bisa ditahan. Namun ketika berlangsung terus-menerus, tubuh mulai memberikan sinyal. Sulit berkonsentrasi, mudah marah, kehilangan semangat, merasa kosong, hingga muncul keinginan untuk menjauh dari semua orang. Ironisnya, banyak orang tetap memaksa dirinya berkata, "Aku harus kuat." Padahal, semakin lama emosi dipendam, semakin berat pula beban yang harus dipikul. 

2. Relaksasi Bukan Kemewahan, Tetapi Kebutuhan 


Banyak orang menganggap beristirahat adalah bentuk kemalasan. Padahal kenyataannya, tubuh dan pikiran memiliki batas. Sisihkan beberapa menit setiap hari untuk memberi ruang bagi diri sendiri. Tarik napas perlahan, lakukan peregangan, berjalan santai, mendengarkan musik yang menenangkan, beribadah, bermeditasi, atau sekadar menikmati secangkir teh tanpa memikirkan pekerjaan. Relaksasi bukan berarti menghindari masalah. Relaksasi adalah cara mengisi ulang energi agar kita mampu menghadapi masalah dengan pikiran yang lebih jernih.

 3. Berani Mengekspresikan Diri dan Memberi Waktu untuk "Me Time"


 Tidak semua luka terlihat. Ada orang yang setiap hari terlihat ceria, tetapi diam-diam menangis saat sendirian. Karena itu, jangan pendam semua perasaan. Berceritalah kepada orang yang dipercaya. Menulis jurnal, melukis, berkebun, membaca buku, memasak, berolahraga, atau melakukan hobi sederhana bisa menjadi cara sehat untuk menyalurkan emosi. Me time bukan berarti egois. Me time adalah bentuk penghargaan kepada diri sendiri agar kita tetap memiliki ruang untuk bernapas di tengah padatnya kehidupan. 

4. Bangun Boundaries yang Sehat


 Anda Tidak Harus Menyenangkan Semua Orang Ada kalanya yang membuat kita paling lelah bukan pekerjaan, melainkan orang-orang di sekitar kita. Teman kerja yang gemar mengeluh, rekan yang selalu menyalahkan, lingkungan yang penuh gosip, atau orang-orang yang terus membawa energi negatif dapat menguras emosi sedikit demi sedikit. 

Mungkin awalnya terasa sepele. Namun jika terjadi setiap hari, kita bisa pulang dengan tubuh yang masih kuat, tetapi hati terasa sangat lelah. Tidak semua perbedaan pendapat harus diperdebatkan. Tidak semua konflik harus dimenangkan. Dan tidak semua orang harus memahami cara kita berpikir. Di sinilah pentingnya memiliki boundaries atau batasan yang sehat.

Belajarlah mengatakan, "Maaf, saya tidak bisa," tanpa merasa bersalah. Kurangi keterlibatan dalam percakapan yang hanya memicu emosi negatif. Jaga jarak dari hubungan yang terus-menerus membuat Anda merasa tidak dihargai atau kehilangan ketenangan. Memiliki boundaries bukan berarti menjadi pribadi yang cuek atau antisosial. Justru itu adalah bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental diri sendiri.

 Ingatlah, Anda bertanggung jawab atas sikap Anda, tetapi tidak bertanggung jawab atas reaksi, penilaian, atau perilaku orang lain. Melindungi ketenangan batin bukanlah tindakan egois. Itu adalah langkah bijaksana agar Anda tetap memiliki energi untuk bekerja, mencintai keluarga, dan menjalani hidup dengan lebih sehat. 

 5. Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional? 


Tidak semua masalah harus diselesaikan sendirian. Jika rasa lelah, sedih, cemas, atau putus asa berlangsung selama berminggu-minggu, mulai mengganggu pekerjaan, hubungan dengan keluarga, kualitas tidur, atau membuat Anda kehilangan minat menjalani hidup, itulah saatnya mempertimbangkan mencari bantuan dari psikolog atau psikiater. 

Meminta bantuan bukan tanda kelemahan. Justru dibutuhkan keberanian besar untuk mengakui bahwa diri kita membutuhkan pertolongan. Sama seperti tubuh yang membutuhkan dokter ketika sakit, kesehatan mental juga berhak mendapatkan perhatian yang sama. 

Penutup


Kesuksesan bukan hanya tentang seberapa keras kita bekerja, tetapi juga tentang seberapa baik kita menjaga diri sendiri. Tidak ada pekerjaan yang sebanding dengan kesehatan yang hilang. Tidak ada target yang layak dibayar dengan ketenangan jiwa. Sesekali berhentilah sejenak. Dengarkan tubuh, dengarkan hati, dan berikan kesempatan bagi diri sendiri untuk pulih. Karena Anda tidak diciptakan hanya untuk terus bertahan. Anda juga berhak merasa tenang, bahagia, dan hidup dengan lebih utuh.

Alasan Psikologis Kenapa Gen Y Lebih Rentan Kecemasan

 
Gen Y Lebih rentan kecemasan
freepik.com

Generasi yang tumbuh dengan internet harus beradaptasi dengan dunia digital ternyata menghadapi tekanan unik yang sering berujung pada overthinking 


 Orang berpikir bahwa “overthinking” yang sebenarnya adalah kecemasan itu hanya milik orang tua saja. Persepsi demikian karena orang tua banyak pikiran karena bertanggung jawab atas kehidupan anak-anaknya dalam kondisi yang tidak stabil baik keuangan maupun politik. Nach, kenapa kecemasan itu justru dimiliki oleh generasi Y yang notabene belum punya tanggung jawab besar seperti orang tuanya atau orang yang lebih tua dari generasi Y. 

Jawabannya ternyata sangat mengejutkan sekali. Generasi Y itu adalah generasi yang sudah mengenal dunia digital sejak mereka menginjak dewasa. Ketika dunia digital memperkenalkan berbagai macam kehidupan,. 

Cara pandang atau mindset mereka itu mudah dipengaruhi oleh apa yang dilihatnya di dunia media sosial. Bahkan, hal itu sampai mempengaruhi kesehatan mental secara siginifican.. Tekanan dari dalam (misalnya keluarganya) maupun dari luar (media sosial ) membuat mereka terus bergumul menghadapi tekanan yang kadang tidak disadari oleh para Generasi Y. 

Ketika generasi Y berada di posisi transisi teknologi, dihadapkan ketidak pastian ekonomi, dan memikul ekspektasi sosial yang tinggi. Mereka sering membandingkan pencapaian dengan teman sebaya di internet. 

 Definisi kecemasan: 


Kita perlu mengetahui perbedaan antara sesuatu yang nyata dan tidak nyata. Ketika kita memikirkan sesuatu yang nyata itu artinya kita takut . Sementara jika kita cemas masa depan itu artinya kita cemas pada sesuatu yang belum terjadi. Ketika kita cemas, hal itu akan berdampak pada tubuh baik secara fisik maupun mental.

 Kecemasan jauh lebih berbahaya bagi tubuh dan pikirian sehingga orang yang mengalami kecemasan secara berlebihan harus melakukan konsultasi dengan psikolog atau psikiater. 

Penyebab dari kecemasan 


1.Perrbandingan sosial: Tumbuh bersamaan dengan lahirnya media sosial membuat Gen Y sering membandingkan pencapaian hidup (Karier, pernikahan, finansial) dengan orang lain. 

2.Kecemasan finansial dan karier: Berada di gejeloka ekonomi dan biaya hidup yang tinggi, memikirkan stabilitas masa depan menjadi beban pikiran konstan

 3.Kultur “Hustle Custure: Adanya tuntutan untuk selalu produktif dan berprestasi membuat mereka kesulitan mematikan pikiran untuk beristirahat 

 Beda antara khawatir dan cemas:


 1.Khawatir hanya ada dalam pikiran saja . Namun kecemasan , setelah dalam pikiran akan berdampak pada tubuh dan akhirnya pada fisik. 

2.Kekhawatiran memicu pengidapnya untuk menyelesaikan masalah, sedangkan kecemasan tidak. Kekhawatiran membuat kita selalu berpikir untuk menyelesaikan dengan solusi dan strategi itu. Sementara kecemasan hanya berputar-putar tanpa solusi yang efektif. 

3.Rasa khawatir menyebabkan tekanan sosial ringan, sedangkan kecemasan memberi tekanan emosional yang parah Kecemasan berdampak kondisi psikologis secara kuat dibandingkan dengan kekhawatiran. Oleh sebab itu kecemasan sangat mengganggu dan akan menimbulkan masalah pada pengidapnya.

 4.Kekhawatiran itu disebabkan sesuatu yang nyata sedangkan kecemasan berasal dari sesuatu yang tanpa dasar. Rasa khawatir terhdap situasi masalah yang nyata dan masuk akal. Contohnya kita takut dipecat karena kinerja kita semakin buruk. Sementara cemas, itu merupakan kegelisahn yang muncul tanpa dasar dan situasi yang dihdapi. Contohnya kita jarang menyapa atasan, sehingga kita cemas mungkin ada hal negatif yang akan menimpa kita. 

5.Kekhwatiran bersifat sementara dan singkat, tetapi kecemasan dapat berlangsung dalam waktu yang lama Kekhawatiran itu biasanya bersifat sementara dan terjadi sebagai respons alami terhadap situasi tertentu yang menimbulkan ketidakpastian atau ketidaknyamanan. Misalnya kita khawatir ujian presentasi yang akan kita hadapi. Meskipun sudah persiapan matang tetapi masih ada kekhawatiran apakah hasil belajar bisa berhasil atau tidak. 

Sementara kecemasan tentang masa depan setelah lulus dari perguruan tinggi dimana generasi Y merasa sulitnya mendapatkan pekerjaan.

 Gangguan Mental yang sering dialami oleh Gen Z Menurut penelitian dari American Psychological Association (APA) sekitar 91% Gen Z pernah mengalami salah satu gejala fisik atau emosional akibat stress. Misalnya merasa depresi, sedih, kehilangan minat, motivasi, atau energi. 

 Bagaimana menghilangkan kekhawatirann yang berlebihan? 


Tidak mudah untuk memberikan rekomenasi bagi generasi Y agar tidak menggunakan media sosial supaya tidak timbul kekhawatiran bahkan kecemasan. Untuk mengurangi stress atau kebiasaan berpikir berlebihan, berikut ini beberapa caranya: 

1.Refleksi yang bermanfaat: sebagai alat introspeksi yang produktif yang memungkinan kita belajar dari masa lalu atau merencanakan masa depan secara konstruktif. Hal ini membangun wawasan , kecerdasan emosional, dan ketahanan. 

2.Mengalihkan kebiasaan: misalnya kita membagi waktu untuk membaca atau scrolling media sosial yang dulunya bisa 1 jam, sekarang cukup 15 menit saja. Juga alihkan kebiasaan dari scrolling jadi mengerjakan hobi yang justru sangat produktif. 

 3.Mindfulness: adalah kesadaran tentang melatih pikiran untuk memisahkan antara kehawatiran yang realistis dari asumsi negatif yang belum tentu terjadi. (here and now).

 4.Jurnal pemecahan masalah: Alih-alih memikirkan masalah secara abstrak, tuliskan di kertas dan pecah menjadi langkah-langkah kecil yang bisa kita tindak lanjuti. 

5.Kurangi perfeksionisme: Tetapkan standar yang realistis. Hargai setiap proses dan usaha yang telah kita lakukan dairpada berfokus sepnuhnya pada hasil akhir.

 6.Tujuan scrolling: Kita harus memahami bahwa tujuan scrolling bukan untuk membandingkan diri kita dengan orang lain dalam pencapaian.

Memilih Bidang Studi di Tengah Kepala yang Penuh dengan Keraguan

front-view-female-student-grey-jacket-wearing-her-yellow-backpack-holding-copybook-reading-light-blue-wall (2).jpg


Banyak siswa memilih jurusan hanya karena ikut teman, tekanan orang tua, atau sekedar tren. Namun, setelah dijalani, tidak sedikit yang merasa salah arah dan kehilangan semangat belajar. Padahal memilih bidang studi yang sesuai minat bisa jadi langkah awal menuju masa depan yang lebih suskes dan membahagiakan.


Seorang anak SMA dengan baju seragamnya , abu-abu celana panjang, dan putih bajunya sedang termenung di bawah sebuah pohon rindang besar. Sebentar lagi dia sudah harus memutuskan untuk ikut Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN) lewat jalur Ujian Tulis berbasis Komputer (UTBK) di hampir semua perguruan Tinggi di Indonesia. Kebingungan Abi (bukan nama sebenarnya) untuk memilih bidang atau jurusan apa yang akan dipelajarinya. 

 Sedari dari kelas satu SMA , Abi belum juga menemukan pilihan yang sesuai dengan kemampuan dan passionnya. Meskipun, Abi sudah mencoba menggali passionnya, tapi dia belum juga menemukan. Lalu bagaimana?  

Setiap orang punya kemampuan dan passion yang berbeda. Kita perlu menggalinya sejak dini. 

 Namun, jika kamu belum juga menemukannya setelah dewasa, ada cara yang tepat untuk dilakukan.. 

Berikut ini ada tips agar kamu bisa mengambil langkah yang sangat akurat dalam mencari bakat/minatmu. 

1.Eksplorasi


 Pengalaman Baru Sejak SMA satu , kita harus mengikuti kegiatan kepanitian suatu organisasi. Misalnya ikut kegiatan relawan (volunteer) untuk bidang pekerjaan mana yang paling kita nikmati. Ikuti acara edukasi dan konseling: Mencari informasi jurusan dengan cara berdiskusi bersama alumni atau mengikuti pameran pendidikan agar mendapatkan Gambaran dunia perkuliahan dan prospek kerjanya. 

2.Skill yang paling menonjol 


Adakalanya seseorang punya beberapa minat misalnya suka musik, computer, kesehatan. Dari ketiga bidang itu perlu diasah satu persatu . Misalnya kita mengambil kursus singkat dari ketiganya. Kita akan mengetahui setelah mengambil les itu, bidang yang kita sangat minati. 

 Denganrefeleksi dan kenali diri sendiri Identifikasi hobi dan waktu luas, berjam-jam tuliskan aktivitas apa yang membuat kamu betah berjam-jam mengerjakan tanpa terasa terbebani. Mata pelajaran favorit: setiap pelajaran, pasti ada topik diskusi. Ikuti dan amati topik apa yang paling Anda minati dan menarik perhatian selama di bangku sekolah. 

Jika diajak ikut event dan ikut membantu untuk jadi panitia, perhatikan bahwa di situlah tempat kita bertemu dengan teman-teman untuk mendapatkan “network”. Kita saling berkenalan, kita dapat memantau secara optimal apa yang kita sukai, misalnya membantu jadi Master of Ceremony (MC). 

 Kadang-kadang dengan membantu itu, orang yang mengenal kita, akan mengundang lagi untuk pekerjaan berikut, dan pada akhirnya bisa batu loncatan untuk mendapatkan sponsorship.

3.Gaya kerja yang kamu inginkan

 Seorang karyawati memberikan testimoni, sebelum dia bekerja, sudah punya gambaran tentang gaya kerja yang dia inginkan. Misalnya dia adalah tipe pekerja yang ingin bebas tempat kerjanya dan pakaiannya juga casual tanpa adanya formalitas. Umumnya, gaya bekerja bebas ini sebaiknya memilih jurusan desain, arsitektur yang tak butuh sesuatu formalitas.

Sementara mereka yang suka bekerja di tempat formal, di sebuah kantor di suatu bangunan, terus berpakaiannya juga harus rapi, formal (batik atau seragam), maka  jurusan yang dipilih adalah accounting, manajemen, keuangan, dokter.

Kita harus mulai menentukan bahwa jurusan yang kita pilih itu seharusnya juga menunjukkan kemana dan dimana gaya kerja yang kita inginkan.

 4.Melakukan test minat bakat 


Masih bingung juga setelah lakukan hal di atas dari nomor 1 hingga 3? Untuk mendapatkan kepastian bidang atau jurusan sekolah yang kita minati: kita dapat melakukan test daring secara gratis:

 a.Coba akses Tes Minat Bakat Quipper Campus untuk mendapatkan rekomendasi jurusan dan karir berdasarkan kepribadian Anda. 

b.Gunakan fitur Tes Potensi Mau Kuliah untuk memetakan potensi kelebihan dan kekurangan Anda. 

c.Akses Tes Minat Bakat Ruangguru untuk melihat kesesuaian prodi dan gaya belajar.

 Intinya adalah Do what you love and Love What you do

 5.Personal Branding 


Loh belum kerja kenapa harus menampilkan personal branding. Artinya personal branding di sini adalah “Be Honest” . Jujur terhadap diri sendiri.

  •  Pengalaman dalam volunteer perlu didokumentasikan. 
  • Setelah dokumentasi, perlu dibuat portofolio -Pasanglah di media sosialmu. Dengan demikian secara dini, kamu sudah dikenal public atau teman-teman media sosial , siapakah kamu dan kamu ingin dikenal sebagai apa, misalnya Budi sebagai design grafis. 

 6.Soft skills 


  • Adaptability adalah kemampuan untuk setiap ketidak pastian. Di era kini, semua hal tak pasti, baik itu segi pekerjaan, yang selalu berubah permintaannya dan persyaratannya. Nah kenapa kamu tak melengkapi diri dengan soft skill seperti mengerti penggunaan Artificial intelligence 

  • Leadership Kemampuan untuk bisa memimpin dirimu sendiri sebelum menjadi pimpinan orang lain. Bagaimana kita mampu untuk fokus, belajar melawan ketakutan yang belum terjadi . 

  • Time Management Sebagai calon mahasiswa/I, tentunya banyak menghadapi banyak kegiatan di dalam maupun di luar kampus. Untuk bisa tetap aktif dalam komunitas, perlu mementingkan dan menyeimbangkan kegiatan yang penting prioritasnya dulu . 

  • Mengikuti pelatihan yang sering diadakan di kampus seperti boot camp dan lainnya. Mulai melakukan site project.

 Tantangan


 Bukannya untuk menakuti, tetapi setiap kita ingin naik kelas, sebaiknya kita juga punya kemampuan bagaimana cara menghadapi tantangan itu supaya kita dapat melewatinya tanpa terjatuh. Hal yang penting dilakukan adalah jangan overthinking, distraksi media sosial, takut untuk memulai sesuatu yang baru. 

Pesan terakhirnya adalah:
  • Focus on good things 
  • Focus on what you can control 
  • Focus on yourself Just trust and enjoy the process!

72 Jam Persiapan yang Menentukan: Panduan Bertahan dalam Keadaan Darurat


Emergency plan
freepik.com




Bayangkan listrik padam, komunikasi terputus, dan toko-toko tutup. Dalam situasi seperti itu, 72 jam pertama bukan tentang kenyamanan—melainkan tentang bertahan hidup. 


Mengapa kita harus mengubah mindset untuk selalu bersiap-siap? 


Suatu hari, di Whatsapplication keluarga , salah seorang anggota bertanya kepada saya, apakah kakak saya tinggal di Belanda sudah menerima pamplet dari pemerintah Belanda “72 jam persiapan”. Saya jawab, sudah terima karena memang sehari sebelumnya saya  bicara dengan kakak di Belanda. Bersiap diri sesuai dengan petunjuk buku panduan .

Mindset kuno mengatakan bahwa bersiaplah ketika bencana datang. Namun, sekarang hal ini telah berubah sama sekali, bersiaplah sebelum bencana datang. 

Bencana apa yang harus disiapkan? Kita hidup dalam dunia fana yang penuh dengan dinamika global, lokal, ekologis. Ada banyak bencana baik itu kasat mata maupun tidak. Bencana yang kasat mata seperti banjir, longsor, gunung meletus, kecelakaan.   Sementara bencana yang tak kasat mata, peperangan. 

 Peperangan di era kini bukan dengan senjata, tetapi dengan bom nuklir, penghentian listrik, mematikan internet, merebut tempat strategis seperti tempat senjata dan lainnya. Siapa yang berperang? Dulunya orang menyangka bahwa perang itu hanya terjadi di  tempat yang rawan perang seperti Iran, Suriah, Libia, 

 Ternyata, hampir semua negara di Eropa yang dikenal dengan keamanannya (pengertian keamanan di sini adalah keamanan dari gangguan peperangan) sekarang mulai terusik dengan masalah keamanan.  

Fakta menunjukkan bahwa hampir semua negeri termasuk negera Eropa tak lepas dari rasa was-was akan timbulnya perang . Dalam dunia global yang sedang memanas kondisinya, dimana Amerika menginginkan “mencaplok” sebuah tempat yang dinamakan “greendland”. Keinginan Amerika Serikat untuk “mencaplok” greenland"  menjadi symbol atau tanda bahwa Amerika Serikat sebagai pendiri NATO telah mengingkari sendiri deklarasi NATO , salah satunya adalah antar sesama negara NATO dilalrang untuk “mencaplok” negara itu. Tidak dipungkiri ketika keinginan “mencaplok” itu semakin di depan mat akita, Ruia pun mulai bergerak untuk mengincar semua persenjataan atau titik lemah dari setiap negara NATO. Termasuk salah satunya adalah Belanda. 

 Pemerintah Belanda yang keren 


 Menyadari keterbatasan pemerintah Belanda untuk melindungi seluruh warganya dari serangan negara lain, maka dengan tanpa malu-malu pemerintah menyebarkan suatu pamplet. Pamlet atau buklet informasi bertajuk "Bereid je voor op een noodsituatie" (Bersiaplah untuk Keadaan Darurat) adalah bagian dari kampanye "Denk Vooruit" (Berpikir ke Depan) yang diluncurkan oleh pemerintah Belanda. Buklet ini didistribusikan kepada 8,5 juta warga dari bulan November 2025 hingga Januari 2026 untuk meningkatkan kemandirian warga dalam menghadapi krisis selama 72 jam pertama 

Apa isi pamplet itu? 


Daftar panduan mandiri 72 jam itu meliputi: 


1.Daftar perlengkapan Nampung (emergency kit) Ada tas darurat yang berisi: Air dan makanan: minimum 3 liter air per orang per hari dan makanan tahan lama (kalengan, kacang-kacangan, buah kering). 


2.Komunikasi & informasi: Radio bertenaga baterai atau putar (mendengarkan siaran darurat) , ponsel terisi penuh, power bank

3.Penerangan & kehangatan: Senter dengan baterai Cadangan, lilin , korek api tahan api, dan selimut hangat atau kantong tidur. 

4.Uang tunai: disarankan menyimpan sekitar Euro 70 orang dewasa dan Euro 30 per anak dalam bentuk uang kertas dan koin, kemungkinan mesin ATM tidak berfungsi saat pemadaman listirk. 

5.Kesehatan & higienitas: Kotak3P, obat-obatan pribadi, tisu basah, pembersih tangan, kertas toilet, dan perlengkapan sanitasi. 

6.Dokumen: Salinan paspor, daftar nomor telepon penting (tertulis), kunci Cadangan, peluit untuk menarik perhatian dan peralatan multifungsi (pisau, tang). Skenario kritis yang diantisipasi

 Peristiwa yang diantisipasi akan terjadi dimana layanan pulbik akan terganggu, seperti: 


1.Gangguan digital: Serangan siber yang melumpuhkan internet, sinyal telepon, atau sistem pembayaran. 

2.Pemadaman listrik masal (blackout): Terhentinya pasokan listirk dalam waktu lama. 

3.Cuaca ekstrim dan bajir: Dampak perubahan iklim atau bencan alam. 

4.Ketegangan geopolitik: Ancaman kemanan nasional yang dapat menggangu rantai pasokan.

 Langkah darurat untuk kondisi emergency:

1.Siapkan Tas darurat: Selalu stand by tas darurat dengan barang-barang penting di salah satu tempat yang mudah dijangkau. 

2.Buat rencana darurat: Berdiskusi dengan keluarga terdekat apa yang harus dilakukan jika harus mengungsi atau tetap di rumah tanpa listrik. 

 3.Membantu: orang lain:  Membantu tetangga yang rentan selama krisis terjadi (apakah orang tua yang sudah tidak mampu mandiri, atau orang tua yang sudah sakit tua).

72 jam persiapan, adalah bagian yang penting dalam menghadapi krisis, jangan lengah dan tidak mempersiapikan diri.


Beras Premium, Kualitas Oplosan, Bahayanya bagi Kesehatan

Beras Premium, Kualitas Oplosan
Sesame-seed-dark-background (Sumber: Freepik.com)


Beras jadi makanan pokok rakyat seluruh Indonesia. Serasa belum makan jika belum makan nasi. Makan enak itu yang penting nasinya, nggak penting untuk lauknya. Siapa yang setuju? Mungkin ada yang kurang setuju karena makan nasi kualitas apa saja yang penting justru lauknya.

Bagi saya pribadi makan nasi meskipun jumlahnya sedikit hanya sekitar tiga sendok makan,, tapi kualitasnya harus cukup bagus atau sering disebut dengan premium. Sayangnya, kualitas beras premium itu sekarang sedang heboh .

 Ditemukan oleh Bapak Andi Amran, Menteri Pertanian (ini sudah lama terjadi kenapa baru sekarang dibongkar?), bahwa ada 212 merek beras premium yang dioplos. 

 Apa reaksiku? Sebenarnya antara kaget dan tidak kaget. Kaget karena jumlah merek yang dioplos kok banyak banget, saya tidak menyangkanya. Saya tidak kaget karena saya sudah sering mendengar dan mengalami sendiri bahwa beras beli mahal ternyata banyak masalah yang dihadapi.

Beras Oplosan


Barangkali ada yang masih bingung dengan istilah oplosan. Oplosan itu pengertiannya beras kualitas premium dicampur dengan beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan). 

 Pengertian lainnya adalah harga beras premium tapi kualitasnya sudah hasil oplosan. Kita membayar harga beras premium tapi kualitasnya bukan premium alias oplos (dicampur antara kualitas premium dengan non premium). 

 Loh siapa sebenarnya yang melakukan oplosan? Kementrian Pertanian , Bapak Andi Amran, Menteri PErtanian melakukan investigasi praktik oplosan, dan ditemukan ada 212 merek beras yang melanggar dan diserahkan ke Polri dan Kejaksaan Agung. Para penyidik akan memeriksa 25 pemilik beras kemasan 5 kg. 

 Polisi telah mengadakan press conference hari ini. Dalam press conference dikatakan bahwa polisi telah mengusut beras oplosan ke pasar tradisional dan modern dengan mengambil sampel beras premium dan medium. Hasil laboratorium penguji besar pengujian standar instrumen paska pertanian telah menemukan 5 merek terbukti tidak memenuhi standar mutu (saya ngga jelas standar mutu yang mana?). Hasil penyelidikan selanjutnya terhadap 3 produsen atas 5 merek, di Gudang FS di Jakarta Timur, FS di Subang, Gudang PT PM di Serang, Banten dan pasar induk Cipinang.

 Apa kerugian para warga yang membeli beras oplosan?


Yang pertama, tentunya kerugian materiil. Belinya sudah mahal , bahkan melebihi Harga eceran tertinggi , contohnya di Jakarta beras premium HET sekitar Rp.12.500 hingga Rp.15.000, ternyata di pasaran beras premium dijual seharga Rp.16.000 ke atas. Mahal benar yach . Sudah mahal tapi kualitas nya dicampur dengan beras yang tidak baik. 

Yang kedua tentunya kerugian dampak kesehatan. Prof. Dr. Ir. Sri Raharjo, M.Sc , seorang pakar UGM menyatakan bahwa beras oplosan itu yang dicampur dengan bahan kimia seperti pemutih, pewarna dan bahan plastik sintetis, akan membahayakan kesehatan konsumen. Bahan kimia yang ditemukan pada beras oplosan itu dipakai untuk menyamarkan kualitas beras yang rendah sehingga tampak putih dan menarik. Motif utamanya adalah untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. 

Namun, bahaya yang ditimbulkan dari bahan kimia seperti klorin, yang bersifat karsinogenik ini jika dikonsumsi dalam jangka panjang akan memicu kanker dan berpotensi merusak organ vital seperti hati, ganjil. Lebih ngeri lagi jika konsumsi rutin dalam jangka panjang akan membentuk trihalometan yang diklasifikasikan zat karsinogenik oleh IARC (International Agency for Research on Cancer).. Jadi organ-organ kita harus bekerja keras untuk menyaring zat asing dan dalam jangka panjang akibatnya dapat terjadi kerusakan permanen. 

Dengan mencuci beras itu sangat efektif untuk menghilangkan kontaminan berbahaya? Ternyata tidak , hanya sebagian kecil zat kimia yang larut air bisa berkurang melalui pencucian, sementara senyawa lain seperti formalin tetap bertahan meskipun dimasak dalam suhu tinggi. Jadi kita sebagai konsumen tidak boleh tertipu oleh tampilan luar atau fisik luar dari beras premium, misalnya beras berwarna terlalu putih, aroma kimia dan hasil test air dan api dan jadi dapat indikasi. Misalnya kita rendam dalam air, beras akan mengambang, air berubah warna dan mengeluarkan bau plastic. Jika hal ini terjadi, kita harus segera mencurigai bahwa beras ini mengandung bahan yang bahaya. 

 Tips hindari beras oplosan

  •  Hindari beras tanpa label atau sumber yang tidak jelas.Pilih produk label resmi SNI, dan izin edar BPOM.
  • Periksa tampilan fisik beras sebelum beli. Lihat warna, ukuran butir dan bau secara saksama.
  • Cuci beras sebelum dimasak, amati apakah muncul benda asing atau air cucian yang tidak wajar.
  • Simpan beras maksimal enam bulan di tempat sejuk dan kering untuk jaga kualitasnya. 
  • Tidak tergiur harga murah. Harga jauh dibawah pasaran bisa menjadi tanda kualitas yang dipertanyakan. 

 Sebagai konsumen, terutama ibu-ibu yang sering beli beras premium, diharapkan lebih teliti  dan bijak membeli.

Total Tayangan Halaman