Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Jangan Buat Anak Usia Dibawah 2 Tahun Terpapar "Screen Time"



Ketika orangtua merasa terganggu dengan rengekan atau tangisan bayinya yang baru berusia sekitar 1-2 tahun, langsung dibenak ibu adalah memberikan sesuatu agar anaknya cepat tenang. Lalu diajaknya anak menonton TV atau memberikan komputer games yang ada di gadget atau "screen time".

 Menurut World Health Organization Guidelines, baik bayi maupun anak usia dini tidak boleh ditinggalkan oleh ibunya atau orangtua untuk melihat TV atau komputer games atau gadget tanpa ditemani. 

Anak yang belum berusia 2 tahun tidak diperkenankan untuk duduk berdiam diri (Sedentary games) sambil melihat komputer games. 

Jika anak telah berusia 2-4 tahun, maka batas waktu untuk menonton atau duduk diam diri adalah satu jam sehari, atau jika dilakukan kurang dari sejam jauh lebih baik. Untuk pertama kainya WHO telah merekomendasikan untuk kegiatan fisik, tindakan “sedentary atau tidur untuk anak berusia dibawah lima tahun. 

Peringatan keras terhadap para orangtua yang memberikan waktu anak untuk main gadget lebih dari sejam ketika anak itu sedang rewel atau sedang berada di mobil agar anak duduk tenang. 

Rekomendasi yang penting adalah sebagai berikut ini:

Untuk Bayi:
  •  Berikan kegiatan fisik beberapa kali dalam sehari paling sedikit 30 menit dengan cara memberikan contoh di depan bayi itu. 
  • Tidak ada waktu untuk melihat gadget/komputer game atau “sedendary screen time”. 

Untuk bayi yang baru lahir:

  •  Tidurlah 14-17 jam per hari, termasuk tidur siang dan untuk anak berusia 4 -11 bulan, tidurlah 12-16 jam per hari. 
  • Janganlah menidurkan anak di tempat kursi atau kursi bayi leibh dari sejam setiap waktu. 

 Untuk anak 1-2 tahun: 

  • Berikan kegiatan fisik paling sedikit 3 ham setiap hari. 
  • Tidak ada waktu untuk melihat gadget untuk anak berusia satu atau kurang dari dua tahun . Jika diberikan pun , waktunya harus kurang dari sejam. 
  •  Tidurlah 11-14 jam sehari termasuk tidur siang Jangan menidurkan anak di tempat kursi lebih dari sejam atau tidur dengan posisi duduk lebih dari sejam.

 Untuk anak berusia 3-4 tahun:
  •  Minimum kegiatan fisik tiga jam sehari termasuk paling sedikit satu jam dengan kegiatan yang intensif. 
  • Cukup satu jam untuk kegiatan sedentary atau melihat gadget atau screen time.
  •  Tidurlah 10-13 jam sehari termasuk tidur siang Jangan menidurkan anak di kursi lebih dari sejam atau tidur dengan posisi duduk lebih dari sejam. 

Nasehat dari WHO itu berdasarkan bukti yang ada tetapi masih kurangnya riset yang definitif tentang kemungkinan dan kerugian anak jika melakukan main gadget /komputer game. Para ahli tetap mengatakan bahwa meskipun belum adanya bukti tentang kerugian anak  bermain game/gadget di usia dua tahun, tetapi mereka mengatakan bahwa anak itu perlu kesehatan yang prima dari kegiatan fisik bukan dengan berdiam diri menonton game. 

Gaya hidup yang sehat bagi anak-anak usia dini adalah dapat melakukan kegiatan fisik yang seharusnya dilakukan. Jika orangtua bingung untuk menentukan sikap apa yang harus dilakukan untuk anak-anaknya, maka bedakan waktu yang baik untuk melakukan sendetary time di antara kegiatan fisiknya. 

Apa yang perlu dilakukan oleh orangtua? 

Seorang ibu muda melihat bagaimana anaknya yang balita itu menonton Dinosaurus dari program Televisi. Dari nonton itu, anaknya sangat belajar banyak tentang Dinosaurus, bahkan saat nonton pun anak itu bergerak dan berlari-lari tidak pernah duduk diam. Dia selalu berpikir keras kenapa Dinosaurus bisa ada di zaman itu dan apa yang dilakukan oleh Dinosaurus kepada sekelilingnya.

 Untuk memperjelas apakah Anda harus mengurangi pemakaian gadget untuk anak Anda , berikut ini adalah tips sebagai jawabannya:

  •  Apakah waktu untuk screen time itu benar-benar dapat dikendalikan oleh orangtua? 
  • Apakah penggunaan gadget/game itu mengganggu dengan apa yang anda inginkan?
  •  Apakah penggunaan gadget/itu mengganggu tidurnya? Apakah Anda dapat mengontrol untuk memberikan makan atau kudapan selama “screen time”? 

Jika Anda sebagai orangtua menjawab dengan puas terhadap pertanyaan tersebut di atas, maka Anda sebagai orangtua dapat melakukan “screen time dengan baik.

Skandal Besar Demi Anak Orangtua Mendaftarkan Anak ke Perguruan Tinggi "Prestige" dengan Cara Tak Terpuji

 
ABS-CBN News


Orangtua mana yang tidak memiliki cita-cita yang tinggi terhadap anaknya. Hampir semua orangtua menginginkan anaknya bisa lulus dari perguruan tinggi yang punya nama yang “beken”, prestius  dengan nilai IPK yang tinggi atau paling sedikit “cum laude”. 

Suatu kebanggaan yang sangat didambakan oleh orangtua jika dia bisa memamerkan kepada orang lain bahwa anaknya sudah masuk suatu perguruan tinggi yang ternama dan terkenal. Sayangnya, orangtua yang punya keinginan ambisius itu kadang-kadang melakukan cara yang tidak terpuji agar anaknya bisa diterima di perguruan tinggi terkenal itu.

 Skandal terbesar yang terjadi di beberapa perguruan tinggi di Amerika Serikat baru-baru ini sangat mengagetkan. Terlebih lagi karena skandal ini melibatkan dunia pendidikan perguruan tinggi yang “Top” di Amerika Serikat”. Sekarang hal ini sedang diselediki oleh FBI karena hal ini sangat memukul reputasi dari perguruan tinggi yang punya nama besar yang disandangnya. 

Ditengarai bahwa orangtua yang menginginkan anaknya diterima di perguruan tinggi ternama itu telah memberikan uang suap kepada “College Admission”, orang yang bekerja sebagai penerimaan Perguruan Tinggi. Penyuapan itu digunakan agar nilai hasil test penerimaan disesuaikan standar penerimaan yang ditentukan di tiap universitas. 

Para orangtua yang terlibat dalam penyuapan ini sebanyak 33 orang dan mereka berasal dari kalangan selebriti dan orang kaya yang dengan rela menyogok sebesar antara USD 15.000 sampai USD 75,000. 

Bukan hanya orangtua yang terlibat, tetapi anggota SAT dan ACT (SAT dan ACT adalah bentuk test untuk penerimaan di College atau Universitas di Amerika Serikat) , satu penguji dan 9 pelatih atlet dengan total semuanya hampir 50 orang yang terlibat dalam skandal besar ini.

 Orang tidak pernah menyangka bahwa penyuapan ini terjadi di Universitas yang terkemuka dan prestius seperti Universitas of Southern California, UCLA, Stanford Univesity, Gorgetown University, Yale University, Wake Forest University, University of Texas of Austin, Univesity of San Diego. Perlu diketahui bahwa di Amerika Serikat , calon mahasiswa yang punya kemampuan atletik seperti soccer, football, dan lain-lainnya, memiliki privilege khusus dimana mereka dapat diterima dengan angka test lebih rendah dari angka test mereka yang masuk melalui jalur biasa (anak-anak jenius dan pintar). 

Kemampuan atletik itu menjadi ajang suap dimana ada konspirasi antara pembina atlet yang dipanggil dengan pembina atau “coach” itu mendekati para rekrutmen agar anak-anak orang kaya ini diberikan embel-embal bahwa mereka memiliki kemampuan atlet. Selain itu, mereka juga diberikan kesempatan untuk mendapatkan “joki” dalam mengerjakan testnya. Joki ini juga terlibat dalam penyuapan ini. Inilah yang terjadi dibeberapa univesitas di Amerika yang memberikan kesempatan khusus bagi para calon atlet

. Kesempatan yang disalah gunakan oleh para orangtua agar anaknya bisa masuk dengan embel-embel sebagai atlet. Suatu skandal pendidikan yang sangat memalukan ini bisa terjadi karena adanya hilangnya etika dan moral dari orangtua yang kebetulan kaya raya yang menginginkan anaknya masuk di perguruan prestisius dengan cara yang sangat tidak terpuji.

 Para orangtua bekerja sama dengan para perekrut pendaftaran yang juga tidak memiliki etika dengan menerima uang suap. Pelajaran moral bagi kita semua sebagai orangtua bahwa pendidikan bukan berarti harus mendapatkan tempat di perguruan tinggi terkemuka dan prestige dengan cara yang sangat tidak terpuji.

 Pendidikan bukan untuk pamer atas keberhasilan masuknya anak di suatu perguruan yang terkemuka, namun, pendidikan adalah anak belajar bertanggung jawab untuk menimba ilmu sesuai dengan kemampuannya dan bermoral dan beretika . Tanpa moral dan etika, pendidikan tidak ada artinya. 

Bayangkan jika para calon sarjana itu nantinya berhasil menjadi sarjana itu dengan cara memanipulasi data, angka pada saat masuk ke perguruan dan menjadi sarjana yang pandai memanipulasi dalam data, angka tanpa adanya kebenaran.

Total Tayangan Halaman