30HariJadiManfaat, Memberi Tanpa Harus Menunggu

30HariJadiManfaat,Memberi Tanpa Harus Menunggu
dokumen pribadi



Memberi kepada orang lain adalah hadiah terbesar yang bisa kamu berikan untuk dirimu sendiri

 -Darren Hardy-

Di pagi yang cerah itu, aku bangun pagi dengan segar. Mentari pagi bersinar menembus dinding rumah yang sudah agak buram catnya. Kubiarkan diriku tak menyisir rambut karena rambutku memang pendek. 

 Merasa sangat percaya diri bahwa tak ada orang lain yang melihat diriku. Lalu, membuka jendela dan menghirup udara pagi yang sangat menyenangkan dan menyegarkan. 

Siapa bilang udara yang begitu segar itu harus bayar, tidak ada kecuali, aku sakit covid dan harus segera mendapatkan oksigen besar . 

Ujung bulan Ramadan sudah hampir selesai, tinggal menunggu beberapa hari lagi. Hampir 30 hari aku mengikuti tausiah di TV yang mengajarkan kebaikan bagi umat Islam dalam bulan suci Ramadhan ini selama 30 hari, dan tiga hari khusus yaitu Paskah di bulan April ini.

Bagiku, sebagai pemeluk non Muslim, aku sangat tergugah dengan berbagai kebaikan yang diajarkan oleh para ustad. Setiap ajaran yang mengandung kebaikan itu sebenarnya memperlihatkan bahwa kita manusia itu rapuh untuk berbuat kebaikan dengan berbagai alasan dan kendala.

Bahkan rapuh untuk bisa memberi kepada sesama. Aku sendiri belajar untuk memberi itu bukan karena ingin disebut baik. Aku sering menimbang-nimbang berbagai alasan apakah orang itu perlu dibantu, apakah dia memang sudah tidak mampu bekerja lagi. 

Dasar pemikiran yang kuat dan beragumentasi untuk menolak membantu atau memberikan. Namun, sekali lagi aku diajarkan untuk memberi karena Allah itu begitu baik kepadaku. Nikmat dan syukur itu harus kita berikan kepada orang lain yang dalam kekurangan. 

Memberi Tanpa Harus Menunggu
dokumen pribadi



Minggu yang lalu ,aku sangat terharu melihat seorang anak kecil yang ikut jualan takjil didepan ruko. Di depan rumah kami ada deretan ruko . Ruko itu memiliki pelataran untuk parkir mobil. Di pagi hari dan malam hari, parkir itu dipenuhi dengan mobil-mobil yang mau masuk ke ruko atau ke pasar tradisional yang berdampingan dengan ruko.

Anak perempuan kecil berusia sekitar 5 tahun itu rambutnya lusuh dan matanya seperti mengantuk, dia membantu ibunya berjualan takjil. Dia lalu berkata kepada ibunya: “Bu, apakah dengan jualan takjil ini kita nanti bisa berlebaran?”

Sang ibu mengelus rambut anaknya yang muda belia itu: “Aku tak pernah berharap banyak nak, Lihatlah hari ini Allah memberikan langit terang dan cuaca cerah, kita bisa berjualan dan pembeli cukup banyak". 

Namun, kemarin lihatlah apa yang terjadi, hujan kencang dan angin besar sekali. Kita tak mungkin berjualan karena lapak kita di ruang terbuka tanpa tenda . Ibu sudah membuat gorengan resoles, kroket, kolak untuk takjil".

Tapi jam 16.30, tiba-tiba langit gelap gulita, halilintar menyambar-sambar. Ach rasanya hujan akan segera turun. Hatiku sangat sedih sekali. Ibu tak punya kekuatan untuk melawan hujan . Hilanglah harapan ibu , agar adapembeli datang. Jika tidak ada pembeli , habislah modal ibu!

Hatiku ikut sedih dan sangat terharu mendengar ucapan ibu penjual takjil. Dia menyingkirkan semua jualannya ke tempat emperan toko yang masih bersisa sedikit untuk berteduh. Aku sedang berjalan kembali  dari apotik menuju pulang rumah. Sempat melihat airmata ibu itu mengalir terus. 

Namun, dia berusaha tegar ketika aku datang kepadanya. “Sudah berapa yang laku, Bu?” tanyaku. “Belum banyak Bu, hanya dua saja !” katanya. 

Aku melihat penganan di meja besar tempat dia menawarkan dan menjajakan takjil itu. Sungguh, aku tak mampu melihat kegalauannya. “Berapa sebenarnya modal yang ibu beli untuk buat takjil ini?”tanyaku. Yach sekitar Rp.200 ribu, katanya.

 Nach saya tak punya uang ini karena saya baru saja beli obat, jadi ini hanya ada sisa uang yang sedikit, tapi mudah-mudahan jadi berkat ibu. Hati yang terluka itu sedikit terhibur dan ada rasa sukacita yang terlihat dari raut mukanya. 

 Ketika tahun ini Pemerintah sudah memberikan hadiah Lebaran bagi mereka yang berstatus PNS dan pensiunan, Aparatur Negara dan pensiunan Indonesia. Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) dan Gaji Ketiga Belas untuk Aparatur Negara, Pensiunan , Penerima Pensiun dan Penerima Tunjangan Tahun 2022. 

Nach begitu menerima THR, bagaimana Anda mengelola THR itu supaya bisa dapat digunakan sesuai dengan keperluan dan manfaatnya. 

Hal yang pertama dilakukan adalah memisahkan sesuai dengan porsinya yaitu: 10% : untuk zakat 20% : untuk mudik 30% : untuk kebutuhan lebaran (makanan, silaturahmi, pakaian, berlibur) 40%: untuk investasi.

Zakat yang perlu disalurkan itu dapat dengan mudah diberikan dengan cara online melalui Donasi Online Dompet Dhuafa. Pembayaran sangat mudah via online payment (gopay, opo, dana, pay Qris,Octo Clicks, Visa, IB Muamalat atau transfer Bank. 

 Zakat yang kita berikan ini pastinya akan diberikan kepada para dhuafa yang belum punya kesempatan untuk menikmati Lebaran baik itu makanan, pakaian ,sembako dan lain-lainnya..

Mereka akan menerima paket-paket Lebaran yang telah ditentukan oleh Donasi Online Dompat Dhuafa. Nach, ternyata zakat ini punya makna yang sangat besar dan bermanfaat untuk orang lain. 

Kebaikan kita ada manfaatnya untuk orang lain untuk berbahagia di saat lebaran. Yuk berdonasi zakat lewat Donasi Online Dompet Dhuafa , akan menjadi 30 Hari Jadi Manfaat.




  “Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jadi Manfaat yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

Tidak ada komentar

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!

Total Tayangan Halaman