Biodiesel, Energi Terbarukan, Energi untuk Masa Depan Indonesia

dokumen pribadi

 

"Sawit jadi andalan dalam biofuel.  Indonesia kaya dengan produksi sawitnya. Sayangnya, ekspor sawitnya ditolak mentah oleh Uni Eropa . Diskriminasi atas ekspor sawit Indonesia dengan alasan yang tak masuk akal, Indonesia sering melakukan pembakaran hutan demi membuka perkebunan kelapa sawit.  

Respon terhadap Penolakan dan diskriminasi itu ditanggapi dengan penuh gagah berani oleh Presiden Jokowi. Beliau tak gentar karena kebenaran itu harus digugat!  

Politik menjatuhkan ekonomi lewat tuduhan memang mudah. Tapi kita tidak mudah terlena dengan tuduhan yang tak beralasan kuat. Galang kekuataan untuk membangun industri sawit untuk kebutuhan energi biofuel demi Indonesia Maju".

Berita menyedihkan saya dengar. Penolakan ekspor kelapa sawit Indonesia oleh Uni Eropa . Kesedihannya adalah kenapa alasan penolakan itu justru bersifat politis saja. Dikatakan bahwa produk kelapa sawit Indonesia itu tidak ramah lingkungan (sering membakar hutan) dan salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca yang merusak lingkungan, deforesterasi, rusak ekosistem dan keanekaragaman hayati. 

Sedihnya lagi ekspor sawit ke Uni Eropa itu merupakan penyumbang penghasil devisa non-migas bagi Indonesia. Jumlah ekspor CPO (kelapa sawit)  dan PKO  (Palm Kernel Oil) pada bulan Mei 2019, total volume 13.066.590 ton. Jika CPO dan PKO dilarang oleh Uni Eropa, maka kita akan kehilangan devisa yang besarnya lumayan besar, USD 1,205,5 juta (Juni 2019). Namun, sejak bulan Juni 2019 jumlah terus berkurang 11,77% atau USD 1,366,4juta. 

Tak mau bersedih hati terlalu lama, Presiden Jokowi pun ambil tindakan tegas, “Kita harus mengutus lawyer yang kompeten untuk menggugat dan kita juga tak takut jika sawit kita tidak laku di Eropa, kita gunakan untuk keperluan domestik yang sangat membutuhkannya”.

Di luar negeri dan di Indonesia, permintaan minyak sawit terus meningkat karena konsumsi produk-produk dasar yang berbahan minyak sawit. Juga karena pemerintah di berbagai negara mendukung energi  yang menggunakan biofuel.

Energi  Terbarukan dan Konservasi Energi 
Dokumen pribadi

Sebelum kita mengenal biofuel, kita harus mengenal energi yang kita gunakan saat ini untuk listrik, transportasi, gas untuk memasak  itu berasal dari energi fosil. Energi fosil itu berasal dari sumber daya alam yang mengandung hidrokarbon seperti minyak bumi, gas alam, batu bara.

Setelah kita gunakan  energi fosil selama beberapa puluh tahun untuk energi elektrisasi, transportasi , energi fosil akan terancam habis dan akhirnya punah. Bukan hanya masalah kepunahan, penggunaan energi fosil selama ini sangat mahal karena dalam memproduksi energi fosil menjadi energi bahan bakar, kita masih menggunakan banyak bahan impor dari luar negeri. Hal ini jadi beban negara untuk mengeluarkan dana devisa untuk impor minyak mentahnya. 

Jika energi fosil punah, kita tak mungkin hidup tanpa energi. Kita harus menemukan sumber energi baru terbarukan sebagai pengganti energi fosil. Satu-satunya jalan adalah dengan konservasi energi. Ada 8 energi terbarukan yang ditemukan yaitu biofuel (bahan bakar baik padat,cair dan gas), Biomassa, panas bumi, Air, angin, matahari, gelombang laut, pasang surut.

 Apa itu Biodiesel?

Biodiesel adalah bahan nabati untuk digunakan mesin/motor diesel berupa ester metil asam lemak (FAME), terbuat dari minyak nabati atau lemak hewani melalui proses esterifikasi. Bahan bakunya berasal dari minyak sawit (CPO). Produksi CPO cukup banyak di Indonesia, didukung hampir 800 pabrik kelapa sawit.

 Setelah melalui berbagai proses pengujian dan uji coba Bahan Bakar Nabati jenis biodiesel yang disebut dengan BNN, maka untuk payung hukumnya, Kementrian ESDM pun mengeluarkan peraturan Menteri ESDM No.41 tahun 2018 yang intinya penyediaan dan pemanfaatan bahan bakar nabati jenis biodiesel dalam rangka pembiayaan Badan Pengeloaan Perkebunan Kelapa Sawit. 

Biodiesel merupakan campuran dari jenis bahan bakar minyak tertentu (solar) dan jenis kelapa sawit. Tiap uji coba dari satu jenis biodiesel misalnya B20 dilakukan hampir setahun. Ada tim yang melakukan uji coba. Setelah selesai, tim akan menyerahkan kepada Direktorat Jenderal  Energi Baru dan Konservasi Energi (EBTKE) dan akhirnya diserahkan  kepada Menteri. 

Proses pembuatan Biodiesel ternyata tidak sederhana:

 Dengan menggunakan reaksi metanolisis yaitu rekasi minyak nabati dengan methanol dibantu katalis basah menghasilkan campuran ester metil asam lemak dengan produk ikutan gliserol

 Berikut adalah skemanya:
Sumber: http://ebtke.esdm.go.id

 Manfaat dan tantangan:

Manfaat dari biodiesel sebagai energy alternatif pengganti bahan bakar minyak untuk jenis solar, sudah jelas dapat diaplikasikan dalam bentuk B100 (100%) , campuran dengan minyak solar B20 . 

Sumber:  http://ebtke.esdm.go.id


Pada tahun 2018 penyerapan B20 baik untuk PSO (Public Service Obligation) maupun non-PSO masih kurang maksimal. Non PSO baru menyerap 6% sedangkan PSO 34%. 

Tapi tantangan terberatnya adalah setelah diimplementasikan oleh pengguna seperti truk, traktor, hasilnya tahap awal ada plak, kurang baik dari segi endapan dan engine. Setelah diadakan perbaikan  barulah bersih dan berjalan dengan baik. 

Tantangan 2020 adalah implementasi dan hasil akhir uji coba B30 pada rangkaian uji jalan (road test) penggunaan bahan bakar B30 pada kendaraan bermesin diesel. Atas hasil uji akhir itu, Kementrian ESDM mengeluarkan rekomendasi teknis untuk implementasi B30 pada tahun 2020. 

Kedua rekomendasi itu adalah: Pertama, handling dan blending B30, Kementrian ESDM menjelaskan untuk menjaga kualitas B30, proses pencampuran,penyimpanan dan penyaluran perlu pengendalian dan monitoring secara berkala. Metode blending harus sesuai pedoman dan gunakan sarana yang standar.

Kedua, spesifikasi bahan bakar untuk B100, kadar monogliserida maksimum adalah 0,55 persen-massa dan kadar maksimum adalah 350ppm. 

Presiden Jokowi bersama pejabat Pertamina dan Kementrian ikut hadir dalam peresmian penggunaan B30 pada akhir Desember 2019.  

 Pengembangan Tahapan Dari B20 Hingga B100

Sumber:  http://ebtke.esdm.go.id

Meluncurkan produk baru sebagai pengganti yang lama memang tak mudah. Banyak pengguna yang selalu resistan untuk menggunakannya, apalagi penjual juga takut produk baru ini tak laku karena konsumen tak mau beli. 

ESDM pun punya strategi tahapan Bioenergi yang namanya Biofuel dimulai dari B20 dan telah selesai, lalu per 20 Januari 2020, kita semua wajib mandatory B30 yang merupakan pengembangan B20. Hasil produksinya mencapai 12 juta KL.

Selanjutnya program B40 akan dimulai tahun depan 2021 dan B50 tahun 2022 untuk PLTD. Untuk mencapai B 40, campuran sebesar 30% FAME dan 10% Co Prosessing. Ada green diesel (D100) dan green gasolin (G100). 

Potensi kenaikan ini ditunjang oleh 800 pabrik kelapa sawit se-Indonesia sehingga akhirnya dapat menghasilkan sekitar 8730 MW .

Kebijakan energi nasional Indonesi, yang pertama memaksimalkan energi terbarukan, kedua meminimalkan minyak bumi atau energi fosil. Kondisi baru energi Indonesia di tahun 2019, posisi EBT sebesar 9.15%, minyak bumi 38.8%, batubara 33% dan gas bumi 19,7%. 

Ke depannya, bioenergi ditargetkan mencapai 5.5GW dengan target 23% pada tahun 2025. Saat ini pembangkit yang berjumlah 13-15% berasal dari Bioenergi 2-5%. Target 31% di tahun 2050, kita optimis dapat mencapai karena potensi bioenergi yang dimiliki Indonesia sangat besar yaitu 442 GW tapi sekarang ini baru dimanfaatkan 99,4 GW.
Tantangan terberat untuk mencapai target 23% di tahun 2025. 

Tantangan berat ini dapat tercapai apabila kita semua stakeholder, rakyat Indonesia ikut mendukung penggunaan biodiesel untuk penggunaan transportasi (PSO maupon non-PSO), Usaha mikro, perikanan, pembangkit listrik, industri komersial.

Sumber Referensi:


8 komentar

  1. Huhuu, ikut sedih juga kalo ekspor kelapa sawit sampe ditolak begitu yaa, padahal jelas2 buat menguntungkan buat Indonesia.

    Semoga Biodesel, energi yang terbarukan diterima semua pihak dan yang pasti dukungan penuh dari semua stakeholder dan masyarakat. Harusnya lebih banyak edukasi Biodesel juga tentang pemanfaatannya bagi kehidupan sehari-hari.

    BalasHapus
  2. Saya ngerti sih perkebunan kelapa sawit bisa memenuhi permintaan akan produksi biodiesel. Tapi mudah-mudahan ini tidak menjadi dalih untuk memaksa pembalakan hutan demi memenuhi permintaan alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit.

    BalasHapus
  3. Semoga perkebunan sawit tetap mengacu pada Indonesia Sustainable Palm Oil supaya proses perkebunannya tidak ilegal dan tidak disorot dan dipolitisi lagi sama Eropa yang merasa terancam minyak zaitun dll nya.
    Sawit adalah komoditi unggul Indonesia.

    BalasHapus
  4. ada bnyk sumber energi terbarukan ditanah air dan sudah saatnya bangsa ini mandiri dan tidak tergantung lagi dengan uni eropa, semoga dengan kejadian itu justru menemukan insight untuk berdikari

    BalasHapus
  5. Yuk semua mayarakat Indonesia bantu dukung dengan penggunaan biodiesel untuk transportasi nya. Tak hanya baik utk kita tapi juga untuk Indonesia ;)

    BalasHapus
  6. Proses Biodiesel panjang juga ya,dari hulu ke hilirnya. Dukungan 800 pabrik semoga membawakan kebaikan bagi kebutuhan umat manusia.

    BalasHapus
  7. Teh, ini B30 kira-kira berapa harganya per liter?

    BalasHapus
  8. Cakep nih, semoga makin banyak yang menggunakan biodesel sebagai energi terbarukan ya

    BalasHapus