Temukan #Wonderful Indonesia, di Lubang Sewu Wadaslintang dan Dieng,



Wonderful Indonesia mengajak Anda ke tempat wisata di pelosok Indonesia yang belum pernah dikunjungi.  Tapi masih ada yang bermimpi ingin  mengunjungi Grand Canyon di Amerika.   Padahal ngga perlu jauh-jauh datang ke Amerika karena di Indonesia pun ada Grand Canyon yang disebut dengan Lubang Sewu Wadaslintang. Lubang Sewu artinya lubang seribu. Wadaslintang adalah nama daerahnya.

Letaknya sekitar 50 km dari Wonosobo atau 58 km dari Purwokerto. Berhubung saya datang dari Purwokerto, maka saya melewati 4 kabupaten yaitu Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen. Perjalanan akan berliku begitu memasuki wilayah Kemiri Ombo. Sebaiknya, sarapan pagi dan minum obat anti mabuk bagi yang gampang mabuk untuk menghindari muntah-muntah.

Waktu yang tepat untuk ke sana adalah musim panas di bulan September untuk mengunjunginya karena kita dapat melihat ke bawah menuju bebatuan berwarna putih dan berlubang. Jika musim hujan makan bebatuan itu akan hilang terendam air waduk, sehingga kita tidak bisa melihatnya. 

Tempatnya agak tersembunyi, karena pertama kali datang kami salah alamat di bagian utara sebuah waduk yang juga bernama Wadaslintang yang digunakan untuk pembangkit listrik. Lalu kami memutar ke sebelah selatan dan masuk ke gang kecil dan tempat parkir cukup luas. Dari tempat parkir, kami turun ke bawah sekitar hampir 50 meter, terlihatlah danau ditengahnya dan di sebelah kirinya bebatuan putih dan di sebelah kanannya terdapat bukit kehijauan. 



 

 Bebatuan kapur itu sudah ada sejak zaman dulu dan pada bagian tengah dan pinggirnya terdapat lubang-lubang. Lubang-lubang inilah yang membuat penduduk setempat menamakannya Lubang Sewu. 



 Saat liburan, pengunjung dapat menikmati keindahan bebatuan kapur putih itu diiringi dengan musik tradisonal yang dimainkan oleh penduduk desa. Mereka ikut menghibur kita sambil menikmati keindahan dan berfoto di atas bebatuan yang tingginya ada yang mencapai hingga 4 meter. Tempat ini sangat tepat sekali untuk selfie maupun wefie dengan panorama yang indah dari bebatuan bersama latar belakangnya  sungai mengalir dengan tenang kebiruan dan hutan buatan yang asri kehijauan.

Di sini belum disediakan fasilitas tempat makanan. Beberapa warung makan kecil dan minuman..  Kita perlu menyiapkan makanan dan minuman dari rumah.Tapi tidak perlu khawatir jika kita ingin melanjutkan perjalanan wisata  ke Dieng, kita bisa mampir untuk makan di Wonosobo. 

 D I E N G:

Perjalanan dari Lubang Sewu Wadaslintan menuju ke  Wonosobo  sekitar 1 jam, diteruskan ke Dieng ,perjalanan cukup menanjak dan terjal . Lama perjalanan sekitar 45 menit dengan jarak 28,3 km.

Dieng punya beberapa spot wisata yang sangat menarik diantaranya Telaga Warna, Sikidang, Candi Arjuna dan Sikunir. Telaga Warna .  Satu tempat yang sangat diminati  oleh wisatawan lokal maupun mancanegara adalah Sikunir. Menikmati "sunrise" atau "sunset" yang sangat indah  dan agung .  Keindahannya sangat dinantikan dan didokumentasikan.


  • TELAGA WARNA

Sayangnya, kali ini saya tak bisa mengunjungi semua spot di Dieng karena tiba di Telaga Warna sudah jam 15.00 Beruntung belum ada kabut sama sekali. Begitu sampai di Telaga Warna, kami meihat telaga yang berwarna hijau kebiruan. 

 Airnya surut karena musim panas dan kelihatan begitu kotor karena tidak ada pergerakan. Namun, kita dapat berjalan di samping danau dengan jalan tapak yang sudah cukup bagus. Begitu pula kita dapat berfoto turun dari telaga hampir sekitar 1 meter dari telaga. Angin yang cukup kencang membuat udara begitu dingin menusuk tulang.




  • SIKIDANG:
 Dari Telaga Warna kami menuju ke Sikidang. Lokasinya tidak jauh hanya sekitar 15 menit dari Telaga warna. Begitu turun dari mobil, kami ditawari masker oleh penjual masker. Kami membeli masker itu mungkin dapat membantu kami untuk mengurangi bau belerang.

Melewati sebuah pasar kecil yang berjualan bermacam-macam mulai dari sandal, sampai makanan khas Dieng. Barulah kami melihat kawah yang berbatuan putih agak kurang terawat. Menuju ke kawahnya kami harus berjalan kaki tidak lebih dari 10 menit menanjak. Bau belerang makin menyengat.  Kawah belerang itu menjadi momen bagus untuk foto .

  •  CANDI ARJUNA

Selesai dari Sikidang, kami menuju ke Candi Arjuna. Lokasinya juga tidak jauh dari Sikidang sekitar hampir 10 menit. Karcis yang kami beli untuk Sikidang + Candi Arjuna menjadi satu (terusan). Udara dingin mulai menyergap di tubuh kami. Suhu dingin membuat kami harus berjalan lebih cepat melihat dua candi yang masih dapat terlihat dari kejauhan. 



Candi  di  Dieng yang tersisa berjumlah delapan candi. Candi Dieng memiliki corak agama Siwa. Dari sebuah Prasasti yang ditemukan didalam kompleks, terdapat angka tahun 713 saka atau sama dengan 809 masehi, sehingga kemungkinan besar Candi-Candi Dieng berasal dari abad VIII. Candi Arjuna 



Candi-candi di Dieng memiliki nama yang merujuk pada tokoh pewayangan seperti Candi Arjuna, candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa,Candi Sembadra, Candi Bima, Candi Dwarawati,Candi Gatotkaca. Tapi nama-nama tersebut jelaslah bukan saduran Tokoh Mahabharata, hal tersebut terlihat dari nama salah satu Candi yang adalah tokoh Punakawan yaitu Candi Semar. Kompleks Candi Dieng memancarkan kedigdayaan umat Hindu yang pernah berkembang pada zaman dulu. 

 Tak terasa perjalanan ke Dieng yang sangat singkat itu harus berakhir karena jam sudah menunjukkan pukul 18.00 dan gelap telah menyapa kami. Selesailah perjalanan wisata alam dan histori yang sangat menarik sekali.