PELIBATAN KELUARGA PADA PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DI ERA KEKINIAN


“Pendidikan adalah proses pembelajaran anak sesuai dengan porsi dan usianya . Kunci keberhasilan pendidikan adalah jika anak dapat belajar dengan porsi pelajaran sesuai dengan kemampuan dan menemukan kebahagiaan sejati dalam belajar!” Sahabat anak-anak adalah keluarga.

 Jika ditilik dari pengertian dan konsep pendidikan adalah suatu pembelajaran dan pengembangan anak mulai dari usia dini sampai ke tingkat lanjutan. Pengembangannya tentu dengan menggunakan metode atau “tool” yang sesuai dengan usia dan kurikulum yang dicanangkan oleh Pemerintah.

Dari lingkup yang terkecil, pendidikan dini dimulai dari rumah dimana anak-anak itu dibesarkan. Setiap keluarga punya pola pendidikan yang berbeda satu sama lainnya. Ketika pendidikan itu tidak standar atau baku antar satu keluarga dengan keluarga yang lainnya akibatnya anak tidak memiliki tingkat kecerdasan intelektual, emosional, fisik dan spiritual yang standar.

Ketika anak yang dari masa kecilnya sudah diajarkan untuk melihat dunia luas dengan buku-buku yang penuh dengan imajinasi dan pembelajaran disiplin serta pengetahuan agama sesuai dengan aplikasinya. Tiba-tiba bertemu dengan temannya yang usianya sama. Mereka belum saling kenal tetapi ketika mereka berteman , terlihat banyak perbedaan dalam tingkat penerimaan pendidikan .

Anak saya sering bertanya (saat usia 3 tahun) bertanya kepada saya sebagai orangtua, “Mengapa aku tak boleh memiliki gadget di usia 3 tahun, padahal temanku sudah punya gadget sejak usia 3 tahun?” Saya menjawab : “Gadget itu banyak bahayanya untuk kesehatan maupun otak dan mental untuk anak usia 3 tahun!”. Alasan ini sesuai dengan literasi dari teknologi gadget yang saya dapatkan .

 Bill Gate, predikat sebagai orang terkaya di dunia, mungkin banyak yang membayangkan betapa mudahnya dia memberikan gadget pada anak-anaknya, apalagi dia seorang tokoh terkenal di dunia teknologi, pendiri softaware raksasa, Microsoft. Namun, tidak demikian, justru dia tak membolehkan ketiga anaknya memiliki ponsel sebelum berumur 14 tahun, meskipun anak-anaknya mengeluh bahwa anak lain sudah memiliki perangkat tersebut.

Demikian juga Steve Jobs, pendiri Apple mengambil sikap yang sama . Dia tak membolehkan anak-anaknya memakai tablet iPad. Sama halnya Gates, Jobs melarang anak-anaknya membawa gadget ke meja makan saat santap malam bersama keluarga. Mereka jadi tak ketagihan menatap layar.

Di sini jelas bukan hanya orangtua saja yang berperan aktif dalam pendidikan dini tapi juga satuan pendidikan memberikan pembinaan kepada para orangtua . Pembinaan itu sebagai motor penggerak agar orangtua dapat memperoleh pengetahuan tentang bagaimana menerapkan pendidikan untuk anak-anaknya sesuai dengan usianya. Pendidikan bukan hanya formal tetapi juga informal, apalagi tentang dunia teknologi informasi yang sudah mewabah di kalangan anak-anak sejak dini.

Bagaimana orangtua menyikapi dunia teknologi dalam pendidikan:
"Memberikan perangkat digital kepada anak hanya akan menambah masalah bagi kedua belah pihak" - Brando T. Mc Daniel

Percepatan perkembangan teknologi juga menguasai dalam kehidupan anak-anak, terutama juga kesempatan untuk perkembangan pendidikan anak. Perlu diingat bahwa kajian dari Daniel dan Coyne di jurnal Pschology of Popular Media Culture 2016: " orang tua yang dilaporkan dalam tingkat stres dan depresi dari dirinya, pasangan maupun dengan anaknya sendiri.   Banyak menganggap bahwa perangkat digital biasanya diberikan kepada anak agar lebih tenang. Namun, hasil survei menunjukan bahwa taktik ini memiliki kekurangan.  Anak sulit diatur dan bersifat timbal balik  dan saling mempengaruhi sepanjang waktu.

APJ.com
Penduduk Indonesia sebanyak 250 juta, dengan pengguna internet mencapai 132,7 juta pada tahun 2017. Dari pengguna internet , kategori pengguna kategori anak usia 13-18 tahun sebesar 16.68% dan 19-34 tahun sebesar 49.52%, totalnya 66.20%. Dilihat persentasenya cukup besar.  Dari kategori pengguna internet anak ini , saya tidak menemukan survei atau data berapa lama mereka mengakses internet sehari. Hanya dikemukakan bahwa selama liburan anak, pengguna anak untuk facebook meningkat tajam (lihat table).

www.menkofindo.com
Dari segi perilaku pengguna internet untuk pendidikan terdapat data yang menyebutkan 93.8% atau sama dengan 124,4 juta pengguna. Namun, keraguan muncul pengguna mana (dewasa, orangtua atau anak) yang mengakses pendidikan di internet. Tidak dapat diberikan rinciannya.

AJPI.com
Sayangnya, akhir-akhir ini yang negatif pun muncul yang memperlihatkan bahwa jika teknologi informatika tidak digunakan dengan tepat atau kecanduan gim di gadget maka teknologi akan jadi bumerang bagi pendidikan anak, kesehatan mental anak jadi terganggu atau sakit mental. Bukan hanya kecanduan  saja, bahkan anak-anak mengakses situs-situs porno yang sebenarnya tidak diperbolehkan. Teknologi sangat bermanfaat bagi pendidikan anak selama orangtua mengetahui apa , dimana, kapan, bagaimana teknologi itu dapat digunakan dengan tepat untuk pendidikan.

Pelibatan Keluarga dalam Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian: 

Di kota-kota besar dimana orangtua (suami istri) sibuk bekerja mencari uang sehingga waktu dan perhatian terhadap pendidikan anak hanya diserahkan saja kepada sekolah. Mereka kadang-kadang tak peduli dengan tanggung jawabnya sebagai orangtua yang harus mengetahui perkembangan pendidikan anaknya di sekolah. Perkembangan itu penting, apakah anak itu mendapatkan kesulitan pelajaran, bergaul atau lingkungan yang tidak menerimanya. Orangtua juga mengetahui kelemahan dan potensi anak dalam setiap pelajaran. Jika ada kesulitan bagaimana anak itu mengatasinya.

Sejak anak saya sekolah SD, SMP sampai jenjang SMA, selalu diadakan pertemuan orangtua murid dengan guru di awal tahun masuk sekolah. Pertemuan Awal tahun yang disebut dengan Undangan Pertemuan Orangtua dengan Guru itu jadi titik tolak yang penting bagi semua orangtua agar orangtua bisa berkenalan dengan guru kelasnya. Saling memperkenalkan diri dengan wali kelas dan mengetahui harapan sekolah untuk tingkat akademik anak di sekolah.

 Walaupun saya bekerja, saya selalu mengambil cuti untuk bisa hadir dalam pertemuan itu karena memang dengan kehadiran itu saya mengetahui secara detail peraturan dari sekolah untuk anak-anak yang masuk di sebuah sekolah, nilai-nilai akademi yang diharapkan dicapai untuk anak-anak, untuk gadget karena sekolah ini sangat disiplin sekali, anak-anak tidak diperbolehkan menggunakan selama jam pelajaran. Apabila diketahui menggunakannya di jam pelajaran , gadget akan disita dan diminta untuk menghadap kepala sekolah untuk mendapatkannya kembali.

 Namun demikian, penggunaan komputer sekolah yang menggunakan internet  sudah diprotect dengan security sehingga dapat  digunakan sesuai dengankemampuan anak-anak dalam pembelajaran teknologi informasi, pembuatan laporan dari pelajaran seperti kimia, biologi dan lainnya.

Orangtua yang hadir dalam Pertemuan Orangtua murid pun sadar bahwa keterlibatannya itu memang sebagai tanggung jawabnya untuk mengetahui sejauh mana perkembangan pendidikan anaknya di sekolah. Di sini sinergitas antara orangtua, sekolah maupun unsur pendidikan sebagai motor penggerak itu jadi suatu role model yang sangat penting sekali.

Bagaimana dengan orangtua yang tak peduli dengan keterlibatannya dalam pendidikan:

Pemerintah dalam hal ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengatur agar setiap keluarga itu selalu menjadi sahabat bagi anak-anaknya dalam pendidikan. Pemerintah telah mengatur peran keluarga dalam pendidikan yang tertuang dalam Undang-Undang Kementrian Kebudayaan RI No.30 tahun 2017 pasal 2 jelas diatur tentang tujuan pelibatan keluarga tersebut, yakni: (a). meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab bersama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan; (b). mendorong penguatan pendidikan karakter anak; (c). meningkatkan kepedulian keluarga terhadap pendidikan anak; (d). membangun sinergitas antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat; dan (e). mewujudkan lingkungan satuan pendidikan yang aman, nyaman, dan menyenangkan.

 Sementara berbicara tentang bentuk pelibatan keluarga pada satuan pendidikan sangat jelas diatur dalam pasal 6. Salah satunya, menghadiri pertemuan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan. Dan masih banyak lagi diatur di pasal tersebut.

Rekomendasi untuk orangtua untuk terlibat dalam pendidikan di era kekinian: 

Kepedulian orangtua untuk ikut terlibat dalam pendidikan anak jadi dasar keberhasilan pendidikan baik secara karakter maupun intelektualnya. Walaupun kesulitan orangtua yang bekerja untuk mengawasi, mengatur serta memonitor penggunaan gadget, komputer untuk anak, tetapi ada dua rekomendasikan.


Keluarga sahabat anak -anak.




Pertama saya mohon agar semua orangtua di Indonesia meningkatkan upaya ,kesadaran pengetahuan ketrampilan tentang gunanya internet dan penggunaan yang aman. Penelitian menyatakan apabila orangtua dan guru dapat menguasai,mendampingi anak dalam aktivitas digital dan terlibat dalamnya, maka keberhasilan pendidikan pun akan dicapai. Awalnya orangtua masuk ke dalam jejaring sosial anak , orangtua bergabung berkomunikasi di jejaring media sosial anak secara intensif . Dengan komunikasi intensi dapat menciptakan lingkungan positif , pertumbuhan dan perkembangan pun akan baik.

 Kedua, saya dukung dari gagasan program PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak) yang disebut dengan “Gerakan 1821” Apa “Gerakan 1821”? Himbauan kepada para orangtua untuk melakukan puasa gadget/hp hanya selama 3 jam saja, yaitu mulai 18.00 s/d 21.00.

  1.  Simpan dulu HP Ayah dan Bunda .
  2.  Simpan BB/Tab, Laptop anak-anak.
  3.  Menemani anak-anak hanya dalam waktu 3 jam saja. 
  4.  Bermain bersama sepenuh hati dengan sukacita, riang, gembira. 

Apa yang dilakukan selama 3 jam? “3B” : 

 BERMAIN, BELAJAR, BERDOA . 
  

Bermain

 Bermain apa saja, secara tradisional, bermain petak umpet, bermain bola, bermain tebak-tebakan, bermain engklek, bermain teka-teki silang. .


Belajar: 

Menemani anak-anak belajar. Belajar apa saja, agama, atau belajar pelajaran sejarah, belajar ekspolorasi lingkungan, belajar bahasa Inggris, belajar mengerjakan PR, belajar ilmu baru, belajar berbagi pengalaman pengetahuan dan aplikasi teori dengan pengalaman. 

Bicara/berdoa: 




Sebelum doa, ajak anak-anak bicara topiknya tidak perlu bertema, apa saja yang ingin dibicarakan, teman sekolah, guru baru, pelajaran baru, kejadian aneh di sekolah, pengalaman belajar dan ulangan, keinginan untuk hasil ulangan, tema tidak perlu yang aneh-aneh, banyak yang bisa dibicarakan. Setelah berbicara panjang lebar, akhiri dengan doa yang dapat diikuti bersama-sama atau ada suatu doa yang perlu dipanjatkan untuk teman, sahabat, saudara yang sedang kesulitan karena sakit, tidak punya uang, musibah, kecurian, kehilangan . 

HANYA 3B: bermain, belajar, berdoa tidak semuanya dilakukan pada saat yang sama, disesuaikan dengan kondisi orangtua yang bekerja. Dibuat dengan suasana yang sangat nyaman, dan menyenangkan, dapat juga dikombinasikan dengan makanan cemilan. Lakukan dengan komitmen yang kuat , ayah dan ibu (bisa bergantian jika salah satu berhalangan karena pekerjaan).

Puasa gadget/HP dan TV Hanya 3 jam saja 
Jam 18 sampai dengan 21 saja!
 Ingatlah 1821...! 



 Lakukan dan kerjakan, rasakan manfaatnya . #sahabat keluarga

Tangerang Selatan,
Ina Tanaya
25 Juni 2018