Kangen Selalu Ada Rasa dan Cinta di Kota Kelahiranku


www.chizpriz.com

Ingatanku melayang kembali ke masa kecilku yang tak pernah kulupakan sama sekali. Masa kecil di sebuah kota cukup besar, penuh dengan kenangan baik yang indah maupun buruk. Meskipun kota kelahiranku sudah kutinggalkan hampir 40 tahun yang lalu, tapi ada kangen yang terus menggelayut kalbuku untuk tetap kembali. Di sana, ada kenangan yang tak pernah kulupakan, kerinduanku untuk selalu mengecap masakan ibuku sejak kecil yang merupakan kesukaanku jadi bagian yang terindah dari semua kenangan indah itu. 

Aku anak bungsu dari dua bersaudara. Kakakku seorang perempuan. Usianya berbeda 11 tahun dariku. Orang sering mengatakan bahwa jadi anak bungsu itu menyenangkan karena dicintai dan dimanja oleh seluruh keluarga. Namun, cara ibuku dalam mencintai anaknya memang sangat berbeda. Dia tak mau memanjakan anak bungsunya berlebihan. Caranya mencintaiku yang tidak dapat kulupakan adalah dengan disiplin kuat dan didikan keras. Sejak kecil aku tak boleh jajan. Seringkali naluriku sebagai anak merasa iri kepada teman-temanku yang lain yang bisa jajan di sekolah, tetapi justru kecintaan ibu dengan tidak memperbolehkan aku jajan adalah untuk melindungi diriku dari pesakitan. Diriku yang kurus dan susah makan itu rentan sakit, apalagi jika harus jajan. Belum lagi disiplin waktu untuk makan, tidur dan belajar selalu kuringat betul, kebiasaan itu diterapkan sejak aku kecil Aku tak bisa seenaknya bermain di rumah temanku karena aku sering kesepian mencari teman, maka aku bermain ke tetangga. Pada jam makan aku dijemput dan diminta pulang untuk makan . Siangnya aku harus belajar sebelum tidur.

 Cerita soal makanan, aku paling sulit sekali untuk makan. Ibuku sering menyebut “picky”, ngga suka sayur, ngga suka ikan, nggga suka daging. Justru makanan yang bergizi seperti ikan, sayur, dan daging tak pernah kusukai. Yang paling kusuka hanya makan “mie” dan “bihun”. Asupan tidak bergizi itu tak sesuai dengan kegiatanku yang cukup menyita kalori. Aku berenang pagi hari, lalu sekolah, les. Tubuhku kurus kering di usia balita, ibuku sering membawaku ke dokter anak. Begitu masuk ke dokter anak, dokter menyatakan bahwa aku kurang gizi karena makanan yang kusantap tidak memenuhi syarat untuk pertumbuhan anak. Satu kata dokter yang masih kuingat: “Ibu tidak boleh memenuhi sesuai keinginan anak. Kebutuhan gizi seorang anak harus dipenuhi. Harus cukup karbohidrat, kalori, kalsium dan lainnya!”

 Setelah mendengar nasehat dokter, besoknya ibu ke pasar, dan supermarket. Saya kaget melihat di meja makanan sudah tersedia makanan yang lezat menurut ibu, susu, telur, sayur brocolli, ayam goreng dan buah-buahan. 

 Sayangnya, saya tak banyak menyentuh makanan itu . Saya hanya mengambil ayam goreng dan nasinya saja. Mata ibu melotot . Beliau merasa kesal , sudah cape memasak khusus untuk saya tetap saja tidak dimakan. Padahal semua itu demi kebaikan saya. Terlontar dari mulut saya (waktu itu usia saya 3 tahun): “Kurang enak mah! Itu yang dibuat mamahnya Edo enak sekali. Sayurnya dikasih keju!”

 Diam-diam, ibu saya mencari tahu apa yang dimasak oleh ibu Edo. Ternyata , saya pengin sekali makan brokoli dengan taburan keju karena saya sempat minta sayur kepada Edo. Saya cicipi dan rasanya lezat sekali. Sejak itu, ibu rajin mengumpulkan resep-resep untuk bekal saya dari ibu Edo dan kadang-kadang beli resep dari toko buku. Resep itu langsung dipraktekan .

 Nikmatnya, saat beliau menyiapkan makanan untuk dibawa ke sekolah . Mata saya melotot dan aku mengintip kok di dalam roti panggang itu ada keju kesukaanku. Roti panggang itu lengkap banget dengan keju, daging asap, sayur slada, mentimun, tomat. Saya yang tak suka sayur dan tomat, tapi terpaksa makan sayurnya karena ibu pintar sekali mengolah dan menyajikan dalam satu kesatuan sehingga saya tak bisa pilih-pilih sayur yang tak saya sukai.

 Bukan hanya bekal, tapi makanan dan snack yang dibuat ibu makin hari makin bervariasi mulai dari makaroni schotel, cheese fettucine, kroket, bola-bola, brocoli dicampur dengan smoked beef, stik keju, sampai spagethi. Semua makanan itu dicampur dengan cheese .Saya ingat banget setiap pulang dari berenang, selalu tersedia susu dan salah satu makanan kesukaan saya entah itu kroket atau brocoli. 

Sejak saya makan dengan asupan yang bergizi, apalagi ditambah dengan cheese prochiz yang diselipkan dalam masakan, tumbuh kembang saya jadi normal dan sehat sekali. Cheese yang mengandung kalori, kalsium, vitamin A, B, dan D, serta protein membuat diriku sehat dan tak pernah sakit-sakitan lagi. Sungguh aku selalu rindu dan kangen pada cinta dan rasa ibu yang selalu tersedia di setiap masakannya. Kangen dengan rasa yang menyenangkan lidah seorang anak yang dulunya tak mencintai makanan bergizi, berubah jadi anak yang suka makanan beraneka ragam dan yang tak pernah lupa dengan cheese kesukaanku yang selalu terselip diantara masakan ibu.