YDBA, Lebih Dari Sekadar Partner Terpercaya UKM

Replika becak antik karya Wiroto Craft,Yogyakarta (Foto: wirotocraft.com)


Memaknai nilai suatu kerajinan itu merupakan anugerah yang tak ternilai, tinggi nilainya berkat kemampuan nilai seni dalam setiap detil proses pengerjaannya.

 
Sebuah perjalanan yang saya lalui di Yogyakarta, kota yang penuh dengan kedinamisan dan jiwa seni dari segenap warganya. Rencananya, bertolak dari Jakarta, saya berencana untuk bertemu Henry C.Widjaja, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) dan Arif Rakhmanto, Koordinator LPB Yogyakarta pada 23 Desember 2017. Rencana ini terkait dengan peliputan saya dalam rangka acara Kick Off 2017 sebuah UKM motor dan kunjungan UKM Wiroto Craft. 

 Tapi apa boleh buat, rencana pertemuan yang digagas pada pagi hari jam 08.00 wib ini buyar karena pesawat yang saya tumpangi baru terbang pada pukul 12.00 wib.  Padahal rencananya, saya ingin bisa terbang pagi hari untuk mengikuti acara yang diadakan YDBA, yakni kunjungan ke Wiroto Craft. Terpaksa, saya harus merelakan kegagalan dan kehilangan acara istimewa itu karena saya tak berhasil menukar tiket terbang lebih awal, karena ternyata penumpang pesawat tujuan Yogyakarta membludak pada peak season kali ini.

Para Pengrajin di galeri WIroto Craft ,Yogayakarta. (Foto: wirotocraft.com)
Kekecewaan yang sangat dalam karena tak bisa bertemu langsung dengan Wawang Supriyadi, pemilik Wiroto Craft terobati, berkat adanya usaha Arif dari Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Yogyakarta untuk mengatur pertemuan saya dengan Wawang pada Senin, 26 Desember 2017.

Tepat hari ‘H’. Kendaraan yang saya tumpangi melaju dari Magelang. Saya menyusuri sawah menghijau nan indah bagaikan permadani dan cuaca cerah yang sangat saya nikmati. Jalan desa yang sangat beraspal mulus, membuat perjalanan lancar tanpa kemacetan. Perjalanan ini demi menuju ke Jalan Monumen Perjuangan 12, Wirokerten, Banguntapan, Bantul.

 Ketika tiba di lokasi, depan arah muka saya melihat bangunan joglo besar dan luas dengan ukiran kayu yang begitu otentik. Menyusuri ke belakang, ada sebuah pendopo, yang merupakan galeri kecil tapi sangat penuh dengan barang-barang pajangan seni dari aluminium yang sangat artistik. Mulai dari bingkai hewan: kuda, kepiting, kangguru, jerapah, kuda, gajah, cicak, sampai ada juga miniatur becak, sepeda, peralatan rumah dan Wayang Klitik Sadewa dan Rama.

Para Pengrajin di galeri Wiroto Craft,Yogyakarta. (FOto: wirotocraft.com)


Perbincangan yang sangat informal dan santai pun berlangsung. Kisah perjalanan UKM Wiroto yang panjang, lengkap dengan tragedy jatuh bangun usaha, telah ditempuh Wawang Supriyadi atau akrab dipanggil Wawang. Pria yang masih berusia muda namun memiliki jiwa seni yang kental ini mengaku, terinspirasi dan termotivasi dari sang ayah yang juga berprofesi sebagai pengrajin logam mulia, perhiasan emas di Kotagede.

Ketika itu, Wawang dengan bakat yang mengalir dari ayahnya, ingin mengubah jalan hidupnya, membangun UKM dari bahan logam yang lain selain emas karena bahan logam emas sangat sulit dibentuk, bahan yang dapat diproduksi dalam jumlah massal dan disukai dan dapat dinikmati oleh lebih banyak orang, pecinta seni dan penikmat seni, terutama seni budaya Jawa maupun Indonesia.

Akhirnya Wawang menemukan aluminium, beli, tembaga sebagai bahan dasar dari pembuatan seni kerajinan.

Awalnya, tanpa adanya tempat yang memadai dan tanpa adanya modal kerja, Wawang memakai garasi sebagai tempat produksi. Sebuah tempat yang belum dapat disebut layak sebagai tempat produksi. Dengan keterbatasannya, Wawang memberanikan dirinya untuk menerima order kecil-kecilan dari perorangan.

Dari sebuah garasi, usaha Wawang pindah ke tempat yang agak besar yaitu sebuah galeri di Kotagede, dengan dibantu pengrajin yang berjumlah 10 orang.

Wayang Klitik Anoman karya Wiroto Craft. (Foto: wirotocraft.com)

Hambatan dan jalan terjal terus datang dengan tidak adanya tenaga skill yang memang mampu melakukan kerajinan seni dengan teliti dan sangat berjiwa seni. Tenaga skill itu betul-betul sangat sulit ditemukan karena jika ada, mereka tidak bisa bekerja secara full time karena saat itu order belum menentu. Ketika tenaga skill sudah dimiliki, mereka lari ke tempat lain karena memang saat itu Wawang belum mampu memperkerjakan sebagai tenaga tetap karena order belum pasti tiap bulannya.

Namun, dengan proses perjalanan terjal itu dilaluinya dengan teguh. Setelah hampir 10 tahun, tepatnya pada sekitar tahun 2012, Wiroto Craft mengikuti pameran berskala nasional dan internasional yaitu INACRAFT di Jakarta. Wawang bertemu dengan salah seorang staf YDBA yang memang ikut membantu beberapa UKM yang juga membuka stand di pameran itu.

Setelah Wawang bertemu dengan YDBA, ternyata tercipta chemistry persamaan misi dan visi antara YDBA dengan Wiroto Craft. Wawang mempersilakan Wiroto Craft di-assessment atau dinilai oleh LPB Yogyakarta. Wawang kemudian menyiapkan semua data untuk persiapan proses assesment. Arif selaku Koordinator LPB Yogyakarta mengadakan assessment tempat kerajinan Kotagede yang merupakan pusat produksi dari UKM Wiroto. Hasilnya, Wiroto Craft didaulat sebagai Madya UKM pada 2014 - 2015.

Pengrajin tengah memasang alas kerajinan tangan di galeri Wiroto Craft,Yogyakarta .(Foto: wirotocraft.com)
Dalam pendampingan oleh LPB Jogyakarta, telah dikemukakan apa yang dibutuhkan dan pendampingan bagi Wiroto Craft. Salah satunya adalah pelatihan 5R yang telah dilakukan oleh Wawang untuk usaha kerajinanWiroto Craft. Bukan hanya produksi manufaktur saja,ternyata kerajinan seni juga perlu sekali melakukan 5 pilar yang sering disebut dengan 5R untuk naik kelas jadi UKM Mandiri. Adapun 5R itu adalah pembenahan dalam beberapa bidang, yaitu:

Pertama, Produksi. Adanya improvement atau perbaikan dalam alur produksi. Produksi menjadi tertata dengan baik mulai proses produksi sampai kepada pengepakan .Semua proses dilaporkan atau didokumentasikan seperti berapa dan kenapa kualitas produksi tidak baik, apa yang menjadi kesalahan dalam produksi yang gagal itu.

 Kedua, Pemasaran. Adanya perubahan pemasaran yang dulunya offline dengan membagikan brosur atau verbal kepada pelanggan atau calon pelanggan, sekarang menjadi online bahkan sudah masuk dalam e-katalog YDBA yang sangat mudah diakses oleh calon pembeli di seluruh Indonesia.

 Ketiga, HRD. Adanya perubahan manajemen yang makin jelas dalam jobdesk setiap pegawai. Setiap pegawai memiliki jobdesk yang sistematis dan jelas sesuai dengan kapasitas pekerjaannya.

Keempat, Keuangan. Semua administrasi keuangan dibukukan dan didokumentasikan dalam laporan kas kecil dan besar dan accounting.

 Kelima, CSR. Memiliki tanggung jawab sosial dengan membantu dan memberikan dana bantuan kepada masyarakat sekitarnya.
Frame Anak Putera Bali karya Wiroto Craft. (Foto: wirotocraft.com)

Ternyata tidak mudah ya mau naik kelas jadi UKM Mandiri dan berkelanjutan itu. Tapi niat dan motivasi Wawang sangat kuat sekali, sudah hampir 10 tahun ia menekuninya, tak ada jalan lain selain ingin maju baik sebagai UKM Mandiri, maupun sebagai pribadi yang sangat mencintai seni.

Ini terbukti sekali dengan tempat produksi yang sangat rapi, bersih dari polusi meskipun harus mempoles bahan baku dengan debu yang bertebaran dan alur produksi yang sangat tertata dengan baik sehingga produksi begitu lancar.

Sayang hari ketika saya datang itu merupakan hari libur. Hanya ada beberapa pegawai dari bidang pengepakan dan assembly yang hadir. Namun, saya tetap dapat melihat bagaimana proses produksi dari awal sampai akhir kerajinan bernilai seni tinggi diproduksi Wiroto Craft.

 Awalnya, bahan baku berbentuk aluminium, metal atau besi, dicor di tungku pengecoran. Tungku pengecoran terbuat dari bahan anti panas sehingga udara panas tidak terasa sama sekali. Setelah bahan itu mencair, dimasukkan ke dalam mould atau cetakan yang sudah ada dengan berbagai macam bentuk, ada yang berbentuk hewan, becak, sepeda, Wayang Klitik Sadewa dan lainnya. Bahan dikeluarkan dari cetakan, lalu dikeringkan di atas wadah mirip tempat bakaran sate tapi bentuknya agak lebih besar.
Frame miniature kendaraan Vespa. (Foto: wirotocraft.com)


Hasilnya yang telah berbentuk itu dikikir, dicat, dipoles oleh tenaga yang sangat trampil dan ahli khusus karena barang ini adalah barang kesenian yang sangat sulit dan rumit dalam menanganinya.

Setelah itu, barang-barang tadi mulai menjalani proses assembly atau digabung-gabungkan, misalnya untuk wayang, perlu ada tangan, badan dan simbol wayang. Juga digabung antara bentuk wayang dengan tempat penyanggahnya seperti kayu. Sangat diperlukan keahlian untuk presisi ukuran, dan ketelitian berapa jarak menempatkan wayang dari kiri, tengah dan kanannya.

Setelah digabungkan, perlu finishing yang juga sangat rapi lagi teliti, seperti dihaluskan, dipoles, hingga proses coating.

Barang Kerajinan yang sangat tinggi kualitasnya dan pengawasan kontrol yang ketat itu sudah jadi dan siap untuk dikemas berdasarkan order. Para pengepak bekerja berdasarkan order yang tertulis dan harus mengepak dengan sangat hati-hati supaya barang tidak rusak ketika diterima. Bahkan, Wawang sendiri bercerita secara khusus karena takut rusaknya, sebuah souvenir tentang Rumah Gadang yang dipesan oleh seorang bupati dari Sumatera Barat, harus dibawa sendiri secara khusus oleh Wawang dengan menumpang pesawat.
Miniatur Wayang Klitik Rama. (FOto:wirotocraft.com)

Pemasaran yang sangat mengandalkan kepada galeri atau toko di tempat Kasongan, Malioboro dan Borobudur. Sedangkan pemasaran secara online dapat diakses melalui situsnya, yaitu wirotocraft.com. Tempat galeri yang dapat dilihat secara lengkap berlokasi di Benowo Winong, KG II/295, Kotagede, Yogyakarta. Untuk informasi lengkap, bisa menghubungi nomor: 081220009 dan 0274384149.

"Saat sedang banyak pemesanan, kapasitas produksinya mencapai 1.000 pieces miniatur dan 1.000 pieces gambar. Total tenaga kerja saat ada pesanan ekspor adalah mendapai 35 orang. Sedangkan untuk pengiriman dengan kapal dalam satu kontainer, berisi 2.000 pieces,” jelas Wawang.

Perjalananan sebuah UKM dari Madya tahun 2014/2015 menjadi Pra-Mandiri 2016 dan akhirnya Mandiri pada Nopember 2017, telah dicapai berkat usaha yang esktra keras dari pengelola UKM Wiroto Craft, beserta pembinaan sekaligus pedampingan dari Arif, staf LPB Yogyakarta.

Wawang sangat berterima kasih kepada bantuan dan support YDBA Yogyakarta dalam pencapaian itu karena dia merasakan bagaimana proses produksinya dapat tertata dengan baik dan bersih, memunculkan energi positif dari para karyawan.

 “Untuk order atau pesanan yang diterima langsung dari salah satu pengunjung Galeri YDBA, pernah ada yang bernilai cukup besar yaitu sampai Rp 40 juta,” kenang Wawang senang.

 Sebuah perjalanan belum sampai di penghujung, ada cita-cita yang masih belum terlahir, sebuah tekad yang tidak cepat berpuas diri dan mampu mengembangkan diri sampai pada kemajuan yang bisa branding dari hasil produksinya.
Miniatur perabotan rumah tangga, setrikaan. (Foto: wirotocraft.com)


Perjuangan Wawang terinspirasi dengan perjuangan ASTRA yang sudah genap berusia 60 tahun dengan tak henti-hentinya bekerja, bekerja dan bekerja untuk memperjuangkan, menginspirasi dan membagikan inovasi, pelatihan sekaligus bimbingan bagi segenap UKM melalui YDBA.

Semoga semuanya dapat tercapai atas yang menjadi impian dan cita-cita Wawang Supriyadi.



Painting On T-shirt, Melukis Masa Depan UKM Cerah 

Kisah hebatnya UKM setelah memperoleh pembinaan dari YDBA, bukan cuma monopoli Wiroto Craft. Pasangan serasi Iskandar Suryaputra dan Dyah Rini Ayu pun merasakan kegembiraan yang sama.

 Iskandar – yang akrab disapa Faiz - adalah seorang seniman, pelukis dan lulusan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta. Istrinya, Rini (panggilan akrabnya), juga setali tiga uang, memiliki cita rasa seni tinggi melalui aneka keramik yang diproduksinya. Maklum, ketika itu Rini adalah juragan keramik. Makanya bisa dibilang, kisah cinta Iskandar dan Rini - yang menikah pada 1993 ini - bersatu padu dan semakin kompak luar dalam berkat darah seni keduanya yang terus menggelegak. Faiz sendiri mulai melukis sejak 1979, setahun kemudian ia mulai membuatkan pesanan lukisan di atas kaus milik teman dan kerabat.
Rini Iskandar,pemilik UKM POT yang dirintis bersama suami Iskandar Syahputra. (Foto: Gapey Sandy)
Ketika usaha lukis Faiz dan dagangan keramik Rini mengalami kemunduran sebagai dampak insiden menggegerkan dunia yakni pengeboman gedung kembar World Trade Center (WTC) di Amerika Serikat pada 11 September 2001, putus asa tak ada dalam ‘kamus hidup’ pasangan mesra ini.

 Jatuh bangun, Faiz dan Rini berjuang menyelamatkan pilar usahanya. Pesanan lukisan dan industri keramik boleh saja mundur, tapi jiwa seni tak boleh luntur, begitu kira-kira pikir keduanya. Bagaimana tidak? Waktu itu, sebanyak 13 dari 14 toko keramik milik Rini terpaksa tutup akibat jumlah pembeli yang merosot. Begitupun Faiz, pesanan lukisannya macet, termasuk pekerjaannya sebagai tenaga promosi di sebuah perusahaan yang belum cukup menafkahi keluarga.

Di tahun-tahun sulit itu, Rini memilih untuk mendukung hobi sang suaminya dalam melukis sebagai modal untuk berbisnis. Hobi yang menghasilkan uang? Wow, tentu ini menjadi sebuah opportunity yang menarik. Tapi, ini juga bukan sebuah kebetulan, karena toh yang namanya peluang tetap harus dikelola dengan serius dan profesional.


Iskandar Syahputra tengah menyelesaikan lukisan POT bertema Tari Topeng Betawi. (Foto: Rini Iskandar)


Mulailah Faiz dan Rini bergerilya bisnis, mulai dari memperkenalkan seni kreatif ‘baru’ yakni melukis dengan media t-shirt sebagai pengganti kanvas. Tapi, bukan kesuksesan bila tanpa diwarnai kegagalan. Satu hingga tiga tahun ke depan, bisnis keduanya masih belum menemui jalan terang. Bahkan, mitra kerjasama yang sekaligus penyandang dana menyatakan “angkat tangan” untuk melanjutkan lagi berbisnis melukis t-shirt. Pada 2002 itu, bisnis Faiz dan Rini jatuh sampai titik nadir.

Pahit memang buat Faiz dan Rini. Tapi life must go on, hidup tak boleh berhenti. Bagaimana caranya? Sederhana. Jangan sampai semangat justru memudar. Itu saja.


Berbekal semangat membaja itu juga, akhirnya pada 2003, keduanya meluncurkan POT sebagai kelanjutan dari “Waroeng Kaos” yang ambruk secara bisnis. Berat memang untuk memulai, apalagi modal dasar yang dimiliki ya cuma sisa-sisa kaus atau t-shirt polos dari bisnis sebelumnya.
Salah satu sesi Pelatihan Painting On T-shirt. (Foto: Rini Iskandar)


Tapi, Tuhan tidak akan membiarkan hamba-hambaNya yang sudah bersabar menjalani ujianNya. Yup, pucuk dicinta ulam tiba. Pada masa-masa yang semakin sulit, singkat cerita, YDBA hadir memberi bantuan dana Rp 10 juta.

 “Pesan YDBA waktu itu, dananya harus dipergunakan semaksimal mungkin untuk mengelola dan mengembangkan pelatihan melukis dengan media t-shirt. Dananya berbentuk pinjaman tanpa bunga, dengan hanya sebuah lukisan yang menjadi jaminan,” kenang Rini kepada penulis di sela acara Blogger Gathering bersama YDBA pada 20 Desember kemarin di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

 Menurut Rini, itulah kali pertama ia berhubungan sekaligus berkoordinasi dengan YDBA. Dana pinjaman yang merupakan amanah untuk dikelola secara bertanggung-jawab akhirnya membuat ia dan sang suami tercinta semakin rajin blusukan untuk terus menggaungkan POT. Dari satu event ke event lain – termasuk Bobo Fair -, Faiz dan Rini juga banyak keluar masuk mall juga plaza demi menawarkan jasa dan produk untuk pelatihan praktik melukis di atas t-shirt. Sebut saja misalnya, Plaza Semanggi, Pondok Indah Mall, Bintaro Plaza dan Mall Casablanca Mall adalah lokasi-lokasi yang bakal menjadi kenangan tersendiri bagi Faiz dan Rini dalam perjuangannya mengembangkan POT.
Pelatihan Painting On T-shirt yang dilakukan POT. (Foto: Rini Iskandar)

Lambat-laun konsistensi dan perjuangan Faiz – Rini membuahkan hasil. Jangankan hanya pesanan t-shirt sesuai gambar yang diinginkan, malah agenda pelatihan POT hampir-hampir tak pernah putus. Selalu saja ada waktu pelatihan yang diikuti anak-anak hingga dewasa. Bahkan, pundi-pundi keuangan POT pun semakin gemerincing, lantaran Faiz memproduksi sendiri cat akrilik yang biasa digunakan untuk melukis di atas t-shirt. Malah, cat akrilik yang ramah lingkungan dan tidak beracun (non toxic) buatan Faiz sudah berhasil dipatenkan dengan merek dagang “ISP/POT”, dimana “ISP” merupakan inisial nama Iskandar Syahputra.

“POT menggaransi cat akrilik yang menempel di t-shirt maupun media lukis lainnya pasti tahan lama dan tidak mudah luntur. Bisa dicuci dan disetrika juga ‘kok. Pokoknya, kami garansi satu tahun untuk cat tekstil ini,” ujar Rini sambil menyebut bahwa selain di kaos, melukis juga bisa dilakukan di tas, sepatu, dekorasi, patung, backdrop, syal, kanvas dan lainnya. “Bahkan kami pernah menerima pesanan body painting.”

Rini mengungkapkan, saat ini bila, utamanya ketika sedang masa liburan sekolah adalah menjadi peak season bagi bisnis POT. “Kalau peak season, keuntungan kotor yang kami peroleh bisa mencapai Rp 40 – Rp 50 juta dalam satu bulan. Pemasukan ini sebagian besar didominasi dari pelatihan melukis, baru kemudian disusul hasil penjualan t-shirt dan cat akrilik. Oh ya, khusus bagi siswa TK dan SD, kami menyediakan paket untuk 100 peserta pelatihan. Harganya relatif tidak mahal, hanya Rp 45.000 per peserta. Paket itu sudah termasuk t-shirt dan cat tekstil akrilik. Sementara peralatannya dapat kami pinjamkan,” kata Rini berpromosi.
Lukisan dan cat akrilik dengan media t-shirt. (Foto: Rini Iskandar)

Galeri dan studio lukis POT bisa dikunjungi langsung ke kediaman Faiz dan Rini, di Jalan Pangrango 1 No.51 RT 001 RW 07 Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Di lahan milik mereka seluas 3.000 m2, keduanya berhasrat membangun “Kampung Seni” yang mampu menghidupkan dan mengajarkan bagaimana mencipta karya-karya seni lukis berkualitas. “Yang sekarang sedang diusahakan adalah membangun sebagian teras rumah menjadi studio lukis yang diharapkan mampu menampung 150 peserta pelatihan sekaligus,” kata Rini penuh optimis.

Lantaran semakin sibuk menjadi instruktur pelatihan melukis, lanjut Rini, sebagian produk POT dipasarkan dengan memanfaatkan media online termasuk media sosial. Informasi dan berbagai perkembangan teraktual POT dapat diikuti dengan membuka situs mereka: www.krazymarket.com/painting_ontshirt, atau bisa juga mengontak Rini melalui: 08129343043 dan 0817267412. Adapun intagram Rini, bisa dikunjungi di @kharinia37.

 “Kami melayani sepenuh hati demi menularkan kreativitas melalui POT ini. Bisa juga karya lukisannya mengandung pesan-pesan pembelajaran yang positif, misalnya berbudaya Go Green, menjaga kebersihan lingkungan dan sebagainya. Jadi, melukis di atas kaus bukan sekadar corat-coret handmade belaka, karena ada nilai-nilai mulia juga yang harus menjadi pemahaman bersama,” tutur Rini sembari menyebutkan bahwa pelatihan melukis bisa juga dilaksanakan untuk memperingati event hari ulang tahun, lomba, workshop, kursus dan lainnya.
Peserta Blogger Gathering yang diselenggarakan Yayasan Dharma Bhati Astra. Foto: Rini 


 Rini melanjutkan, POT mengemban dua misi yang terus coba untuk diwujudkan. Yaitu, mengembangkan minat anak-anak untuk mengekspresikan dan melakukan aktifitas seni bagi mereka dengan cara yang menyenangkan. Dan, meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni.

 “POT juga peduli lingkungan. Selain dari cat tekstil (akrilik) yang ramah lingkungan, di studio yang sekaligus juga jadi tempat kediaman kami, sedang diusahakan membuat berbagai piranti pendukung galeri juga studio, yang bahan dasarnya berasal dari limbah kayu. Ini bukti bahwa kami juga sangat mencintai lingkungan dengan memanfaatkan limbah berbagai jenis kayu,” terang Rini.

 Jujur saja, cat tekstil akrilik merek ISP yang diproduksi POT memang berdaya rekat tinggi, selain warna dan kontur hasil pulasan cat yang memudahkan untuk berekspresi dan berkreasi di atas t-shirt. Para blogger yang mengikuti gathering YDBA merasakan sendiri bagaimana kegiatan kreatif painting on t-shirt ini begitu mudah dan mengasyikkan. Patut juga dicatat, cat yang sudah menempel di kuas lukis, juga mudah sekali dibersihkan dengan cara dicelupkan ke air dan dikeringkan menggunakan tisu. Pencucian ini penting dilakukan sebelum mengganti cat warna lain pada kuas.
Blogger Gapey Sandy terpilih sebagai satu dari 2 juara lomba POT. (Foto: Gapey Sandy)


YDBA, Lebih Dari Sekadar Terpercaya oleh UKM

 Wiroto Craft dan Painting On T-shirt adalah dua contoh UKM mitra binaan Astra International yang sukses menggapai asa melalui YDBA. Sebenarnya, bagaimana posisi dan peran YDBA terkait pembinaan UKM ini? Apa pilar kontribusi yang menjadi amanat YDBA?

Begini ulasannya.

Seperti kita tahu, pembinaan yang dilakukan Astra International melalui YDBA merupakan wujud tanggung-jawab sosial Perusahaan. Di usianya yang genap 60 tahun pada 2017 ini, Astra International memiliki tujuh kategori bisnis, mulai dari Automotive; Financial Service; Heavy Equipment, Mining & Energy; Agribusiness; Infrastructure & Logistic Value Chain; Information Technology; hingga Property.

 Melalui tujuh line bisnis ini, maka per September 2017, Astra tercatat memiliki 218.773 pekerja dalam 212 perusahaan. “Di Astra, kami memiliki strategic triple roadmap Astra 2020 yaitu Portfolio (bisnisnya Astra itu sendiri), People (membangun manusia sebagai aset yang paling berharga), dan Public Contribution (kontribusi bagi bangsa dan negara),” jelas Edison Monoarfa selaku Planning & Development juga Value Chain Management Astra International dalam paparannya.
Henry C. Widjaja, Ketua Dewan Pengurus YDBA. (Foto: Gapey Sandy)


Henry C. Widjaja, Ketua Dewan Pengurus YDBA. (Foto:Gapey Sandy)


 Untuk Public Contribution itu sendiri, terdapat empat pilar yang menjadi target sasarannya. “Mulai dari Astra Sehat, Astra Hijau, Astra Cerdas, dan Astra Kreatif. Adapun YDBA, yang berdiri sejak 1980, berada di pilar Astra Kreatif yang memang secara karya dan kreatif ingin berkontribusi mengembangkan UKM. Sampai saat ini sudah ada 10.847 Kelompok Usaha yang menyerap 97.641 tenaga kerja,” tutur Edison sembari menyebut bahwa punya sembilan yayasan diantaranya YDBA, Yayasan Toyota dan Astra (sejak 1974), Yayasan Astra Honda Motor (sejak 1995), Yayasan Amaliah Astra (sejak 2001), Yayasan Pendidikan Astra – Michael D. Ruslim (YPA-MDR) berdiri pada 2009 dan lainnya.

Edison menjelaskan tujuan YDBA adalah ingin menjadi partner terpercaya UKM untuk mencapai kemandirian yang artinya “naik kelas” dan “awet”. “Artinya, dari industri rumahan kemudian “naik kelas” menjadi industri besar dan “awet” atau sustainable. Jangan, sesudah besar, lalu malah “tidak awet” dan kecil lagi,” harapnya. Sedangkan visi YDBA, lanjutnya, menjadi institusi terdepan dalam pembinaan UKM, dan menjadi value chain Astra International. “Sedangkan misinya adalah kami ingin membina UKM yang terkait dengan bisnis Astra maupun yang tidak terkait, membina UKM yang berada di remote area Astra dan mendorong kewirausahaan,” ujar Edison seraya menyebut CARE atau Compassionate, Adaptive, Responsible dan Excellent sebagai komitmen YDBA kepada UKM.
Astra Strategic Triple Roadmap menunjukkan posisi YDBA sebagai pemegang amanah pilar Astra Kreatif.Sumber YDBA


 Pada praktiknya, YDBA mengategorikan UKM dalam beberapa level, mulai dari Start Up (Basic Mentality & Entrepreneurship Mindset), Beginner (Standard Quality Improvement), Intermediate (Improvement for Competency & Capability), Upper Intermediate (Operational Excellence) untuk kemudian menjadi UKM Mandiri atau Self Reliant.

Tidak sembarangan untuk bisa menjadi UKM yang masuk dalam radar YDBA sebagai sektor unggulan. Ada 11 kriteria yang musti diperhatikan, mulai dari kaitannya dengan kompetensi Astra, kontinuitas pasar, area pemasaran, kecepatan pencapaian hasil, ketersediaan bahan baku, leader, penyerapan tenaga kerja, jumlah UKM, lama usaha, pemanfaatan teknologi, dan visi pembangunan daerah.

Sejauh ini, terdapat 11 sektor unggulan yang dapat dipetakan YDBA. Yaitu, industri pabrik kain tenun di Palembang, Sumatera Selatan; industri metal di Tegal, Jawa Tengah dan Sidoarjo, Jawa Timur; industri aluminium di Yogyakarta (seperti reportase yang sudah dipaparkan pada awal tulisan ini); pupuk organik di Semarang, Jawa Tengah; industri Jamur Oyster di Muara Enim, Sumatera Selatan; perikanan di Sangatta, Kalimantan Timur; beras organik di Bontang, Kalimantan Timur; Hortikultura di Tapin, Kalimantan Selatan; kuliner di Mataram, Nusa Tenggara Barat; dan asosiasi layanan bengkel otomotif di Jakarta.
YDBA Operating Values. (Suber: YDBA)



 “Jumlah UMKM Mandiri atau Self Reliant, sejak tujuh terakhir terus meningkat. Kalau pada 2010 jumlahnya 50 UKM, maka pada 2015 bertambah jadi 91 UKM, dan hingga Juni 2017 kemarin naik lagi menjadi 101 UKM, dengan 10.112 UKM Mitra dan memiliki total 65.158 tenaga kerja, serta 701 alumni program Pemuda Putus Sekolah,” kata Edison seraya menambahkan bahwa YDBA juga punya jalinan kerjasama dengan sesama UKM di prefektur Fukuoka, Jepang..

 Adapun kalau ditinjau dari fasilitas pembiayaan, menurutnya lagi, pada 2016 kemarin ada 93 UKM yang memperoleh fasilitas pembiayaan dengan total nilai Rp 289.9 miliar.

 Hal senada disampaikan Henry C. Widjaja, bahwa apabila UMKM binaan YDBA sudah laik mendapat predikat Mandiri, maka ia harus menjadi leading sector dan melakukan pembinaan juga kepada UKM lainnya. “Seperti orangtua yang mengasuh anak. Ketika anaknya sudah dewasa dan beranjak mandiri, maka silakan berkembang dengan sendirinya. Atau, kalau ada masalah di kemudian hari, silakan kembali lagi kepada kami untuk sama-sama mencari solusi jawabannya,” tutur Ketua Dewan Pengurus YDBA ini yang di penghujung acara membacakan beberapa puisi perjalanannya yang sangat menyentuh hati lengkap dengan foto-foto yang ciamik.
Blueprint pembinaan sektor unggulan di YDBA. (Sumber: YDBA)



Menurut Henry, tujuan akhir pembinaan UKM oleh YDBA adalah ingin menjadikan mereka sebagai UKM Mandiri. Setiap UKM yang bergabung, minimum harus menjalani dua kali assessment dengan menggunakan kriteria UKM Mandiri. “Penilaian ini hanya menggunakan parameter angka yang intinya hanya untuk mengarahkan pemikiran YDBA terhadap kebutuhan training maupun sudah sampai level mana UKM tersebut berada dan harus dikelompokkan,” jelas Henry.

Sederhananya, lanjut Henry, produk YDBA itu adalah pelatihan dan pendampingan. Selain itu, secara reguler juga, YDBA memfasilitasi dengan konsumen dimana UMKM itu jelas sangat membutuhkan fasilitas seperti demikian, juga memfasilitasi dengan lembaga keuangan untuk membantu permodalan.

“YDBA sendiri tidak memberi uang, dana modal, maupun pinjaman. Untuk mempercepat proses bagaimana UKM itu menjadi Mandiri sesuai kriterian yang kami miliki, maka akhir-akhir ini kami fokus – tanpa meninggalkan member yang lain – pada sektor unggulan, yaitu komunitas yang sejenis yang memang mau melakukan perubahan secara intensif. Disini kami akan melakukan pendampingan secara intensif, sehingga diharapkan dalam waktu satu atau dua tahun tercapai apa yang dikomitmenkan. Untuk itu, kami membantu mencarikan ‘ayah angkat’ sehingga UKM yang produknya menjadi benchmark akan dapat masuk dan sesuai dengan permintaan industri. Atau, dalam bahasa lain, UKM ini harus mengikuti QCD atau Quality Cost Delivery-nya industri dimana UKM tersebut berada,” urai Henry mantap.
Jumlah UKM Mandiri dari tahun ke tahun terus meningkat. (Sumber: YDBA)


 YDBA sendiri sudah memiliki blueprint pembinaan sektor unggulan yang memang digadang-gadang bisa tuntas dalam satu atau dua tahun. Ada enam langkah yang biasa dilakukan, yaitu:

Pertama, pada satu bulan pertama adalah merupakan usulan sektor unggulan. Usulan ini datang dari YDBA cabang melalui proposal untuk kemudian bisa diverifikasi.

Kedua, selama tiga bulan, YDBA membantu mencarikan ‘ayah angkat’ bagi UKM yang bakal menjadi sektor unggulan.

Ketiga, minimal selama 3 bulan hingga 1 tahun, YDBA melakukan pembinaan UKM Pilot. Hal ini meliputi pembinaan intensif manajemen produksi UKM, tetapi UKM juga harus proaktif menjalani program pembinaan, selain mengubah mindset UKM dan siap melakukan assessment.

Keempat, YDBA melakukan penambahan anggota sektor unggulan, dengan UKM Pilot sebagai role model, dan UKM Pilot fokus pada 4 pilar UKM Mandiri. Ini dilakukan biasanya selama 6 bulan.

Kelima, YDBA mendorong pembentukan Koperasi. Waktunya bisa sampai 1 tahun, dimana Koperasi masuk pada proses yang belum efektif apabila dilakukan oleh masing-masing UKM. Disini, YDBA menilai sustainability UKM sektor unggulan, sekaligus membantu pendirian Koperasi, memberi masukan tentang value Koperasi, dan aktif dalam digital marketing.

 Keenam, selama 1 tahun terakhir adalah proses Pemandirian, dengan Koperasi yang sudah menjadi bisnis unit yang mandiri.
Slogan Pride of The Nation di Galeri YDBA. (Foto: Gapey Sandy)
Aneka batik produksi UKM mitra binaan di Galeri YDBA .(Foto: Gapey Sandy)


Pada awal tahun kemarin, YDBA menandatangani nota kesepahaman dengan IKEA untuk mewujudkan Progran Teras Indonesia, yakni memamerkan dan memasarkan produk-produk kerajinan UKM mitra binaan YDBA di booth khusus yang disediakan IKEA, peritel perabot rumah tangga asal Swedia.

Berkunjung ke Galeri YDBA 

Oh ya, patut juga diinformasikan, produk Wiroto Craft juga bisa disaksikan langsung keindahan buatannya yang bercita rasa seni begitu tinggi, dengan cukup datang ke Galeri YDBA yang beralamat di Jalan Gaya Motor 1 No.10 Sunter II Jakarta Utara. Untuk informasi selengkapnya, bisa klik: www.ydba.astra.co.id atau telepon 021-65310146.

Begitu membanggakan melihat produk kerajinan produksi Wiroto Craft bersanding dan ada dalam daftar Handycraft, bersama dengan produk lain, seperti UKM Asta Kriya milik Ade Kresna, Auto Print (Chandra Taruna), G & E Collection (Wid Kismawati), Keenan Handycraft (Kenton), Kriya Nusantara (Abdul Sobur), Mandiri Art (Triyono), Pawit Gift Box milik Pawit dan masih banyak lagi.
Spare part yang dibuat UKM untuk sepeda motor Honda di Galeri YDBA (Foto: Gapey Sandy)

Minyak goreng produksi Astra Agro Lestari di galeri YDBA. (Foto: Gapey Sandy)

 
Sedangkan produk Painting On T-shirt milik Iskandar Syahputra dan Rini Dyah Ayu juga ikutan narsis di Galeri YDBA, dan termasuk dalam daftar Craft & Textiles. Produk POT bersandingan dengan karya UKM Azka milik Leony Anwar, Amay Rumah Kain (Amay), Batik Adiningrat (Novianna Sita Dewi), Batik Ardhians (Ade Irma Suryani), Boneka Nusantara (Onnie Meilani), Evira Batik Palembang (Evira), Kelom Tasik (Endang), Sanggar Anggrek (Y Erani Onie), Sumba Art (Hadiprawira KArtika) dan lain-lain.

Saya sendiri yang sudah berkunjung ke Galeri YDBA begitu terharu sekaligus bangga melihat berbagai produk dan karya kreatif UKM mitra binaan YDBA, seperti kerajinan Keramik, Asesoris, Furniture dan masih banyak lagi.

 Di sisi sebelah kanan ruang Galeri YDBA ada replika kendaraan roda empat dengan backdrop yang menggambarkan detil-detil rangka dan rangkaian sebuah mobil. Persis di bawah replika tadi ada begitu banyak spare part yang merupakan produk-produk UKM mitra binaan YDBA. Apabila pengunjung hendak mencari jawaban, spare part tersebut dimana dan apa fungsinya, bisa tinggal membaca dan menyimak materi tertulis yang ada di backdrop. Masih di bawah replika mobil-mobilan tadi ada juga tulisan besar-besar berbunyi: PRIDE OF THE NATION. Sebuah slogan yang memang begitu penuh semangat untuk menjadikan UKM-UKM semakin hebat “naik kelas” dan “awet” serta “mandiri”, sehingga menjadi kebanggaan bangsa Indonesia!
Aneka kerajinan tangan dari keramik produksi UKM mitra binaan YDBA di Galeri YDBA. Foto: Gapey Sandy


Aneka asesoris produksi UKM mitra binaan di Galeri YDBA . (Foto: Gapey Sandy)


Hal yang saya juga saya lihat pada sepeda motor. Ada begitu banyak spare part yang diproduksi oleh UKM mitra binaan, dan mampu memenuhi QCD kalangan industri yang memang membutuhkannya dalam jumlah massal tapi tetap dengan kualitas yang mumpuni.

Ada juga minyak goreng merek “Palmeco” yang diproduksi oleh Astra Agro Lestari, selain Crude Palm Oil, Olein, dan Palm Fatty Acid Distillate (PFAD). Yang terakhir ini adalah produk sampingan dari hasil penyulingan minyak sawit mentah, dimana mengandung asam lemak bebas yang sangat tinggi, dan utamanya digunakan oleh industri sabun bermutu tinggi.

Ternyata, dari hasil penelusuran lapangan – termasuk harus terbang ke Yogyakarta – juga blusukan hingga ke Kantor dan Galeri YDBA di Jakarta membuktikan bahwa yayasan ini memang menjadi salah satu tumpuan terdepan bagi UKM-UKM untuk berjaya dan menjadi “tuan di negerinya sendiri”.

Lebih dari sekadar terpercaya, Yayasan Dharma Bhakti Astra sudah membuktikan hasil positif dari setiap peluh perjuangannya yang luar biasa, demi kemajuan dan demi “Hebatnya UKM”.

Bersama Astra60 melalui YDBA membuat UKM Indonesia HEBAT!