Share
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

11 Oktober 2017

Prestasi kerja keras ED Aluminium


LPB Jogjayakarta
Perjalananan Jumat, siang tanggal 8 September 2017 dari rumah kami menuju kantor Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) terasa  menyengat panasnya dan  lama karena pilihan jalan tol pun ternyata tidak tepat.   Penuh dengan kendaraan truk dan kemacetan pun terjadi dengan antrean panjang. Beruntung hal ini sudah kami prediksi kemacetan dengan berangkat lebih awal 3 jam sebelumnya.
Daerah Sunter memang dikenal dengan daerah industri otomotif . Ada berbagai kantor dan industri mobil dari Astra Grup terlihat di tempat Sunter. Menyusuri jalan yang belum pernah kami kenal itu, akhirnya kami berhasil menemukan kantor YDBA setelah sempat sedikit menyasar. Masih ada waktu 1 jam untuk bertemu. 

Diterima oleh Mbak Santi , sekretaris Bapak Henry C. Wijaja, Ketua Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Begitu memasuki ruangan ber AC, suasananya yang tenang, dan nyaman membuat suasana hati kami pun damai dan kegelisahan jadi hilang. Di kantor YDBA ini kami berharap banyak informasi dan pengetahuan yang luas tentang apa itu UKM dan bagaimana pembinaan UKM dilakukan di YDBA.
Galeri YDBA

 Kami dipersilahkan menunggu di Galeri YDBA. Sambil menunggu, saya takjub   melihat  ruangan galeri yang berukuran tidak begitu luas tetapi penuh dengan barang-barang hasil UKM binaan dari YDBA. Ditata rapi dalam suatu etalase dan lemari kaca dengan apik dan diberikan sinar lampu yang terang. Contoh produk yang saya lihat  mulai dari produk makanan, kerajinan tangan (seprei, baju, songket, sulam, bordir gelang, kalung, tas, aneka aksesori,   produk pertanian dan alat-alat spare parts baik itu untuk motor,mobil, alat berat maupun alat-alat industri manufaktur memasak seperti penggorengan sampai kepada bengkel-bengkel motor yang jadi binaan YDBA. Saya sempat melihat majalah YDBA dan tertarik dengan salah satu UMKM dalam bidang manufaktur aluminium. 

Waktu kami bertemu dengan Bapak Henry, kesan dan impresi awal yang kami dapatkan adalah Beliau sangat mencintai pekerjaannya dan berpengalaman dalam bidang pengembangan UMKM. Padahal beliau baru saja menjabat posisi sebagai ketua dalam waktu 2 tahun belakangan ini.

Ketika pembicaraan  sudah menyentuh tentang pembinaan UKM , beliau dengan sangat fasih
bercerita dengan detail apa yang ditanganinya tentang para UKM yang sudah dibina .

Para staf Yayasan Dharma Bhakti Astra ini memiliki dedikasi dalam membantu pengembangan, pelatihan para UKM, mereka bekerja dengan semangat dengan nilai-nilai “compasionate, responsbility, adaptive”. Aura kerja  staff internal di dalam kantor maupun yang bekerja sebagai tenaga koordinator, fasilitator, back officer yang berkoordinasi dengan UKM dan pemda setempat bekerja dengan sepenuh hati .

Beliau menekankan konsep bekerja bagi para staff “Man for with others” artinya karyawan bekerja bersama saling membahu dengan para UKM sampai ke level yang diinginkan bukan hanya sekedar memberikan sesuatu dana atau uang saja, setelah itu ditinggalkan. Istilah yang sering dipakai atau tepat didengar adalah “Berikan Kail, Bukan Ikan”.

 Berlanjut dengan ketertarikan saya untuk menggali lebih jauh tentang industri cor aluminium di sebuah desa di Umbulharjo, Jogyakarta . Sebagai seorang ibu rumah tangga, pada awalnya saya berpikir mungkin produk wajan yang pernah saya pakai itu berasal dari ED Aluminium. Sederhana pemikirannya tapi belum pernah melihat proses produksinya membuat saya makin penasaran dan terlebih bagaimana UKM ini dapat terpilih sebagai UKM unggulan dan pemenang Awards. 

Dikenal dengan nama ED Aluminium, awalnya UKM Manufaktur ini bergerak dalam Pembuatan alat rumah tangga yang bahan bakunya dari aluminium . Seiring dengan perjalanan dan proses produksi untuk pengembangan usaha, maka perusahaan ini mengembangkan sayap dalam bidang pembuatan produk presisi seperti spare part sepeda, pembuatan part presisi lainnya sesuai dengan pesanan konsumen, pembuatan mould (cetakan) keramik maupun besi yang berbahan baku terspesifikasi dari aluminium seri 1 sampai 7. 

Mudah sekali menemukan lokasinya karena terletak sekitar 3,5 km dari Ringroad Selatan, persisnya di Jl. Ki Guno Mrico 414 Giwangan, Umbulharjo, Jogyakarta. 

Menengok sejarah dari produksi cor aluminium di desa Giwangan, Umbulharjo, ternyata ilmu pengecoran aluminium didapatkan dari turun temurun sejak zaman Jepang. Awalnya, produksi aluminium cor menjadi sendok, cetakan kue, wajan, ketel, dilakukan dengan alat-alat sederhana dan tanpa teknologi. 

 Jumlah pengrajin di desa itu sekitar 150 orang tetapi yang paling aktif sekitar 70 orang, berkurang satu persatu karena selain tidak tahan dengan suasana kerja yang bersuhu panas dan merasa tidak nyaman karena upah atau gaji yang diterima dianggapnya tidak memadai. Sementara bagi pimpinan UKM berpikir keras bagaimana berkompetisi dengan pabrik besar yang dapat memproduksi alat rumah tangga dengan lebih mudah karena adanya teknologi canggih, modal besar dan fasilitas yang lebih nyaman.

Namun, di antara 70 orang yang masih giat itu, terdapat seorang yang berhasil bertahan dalam kancah kompetisi cor aluminium yaitu Bapak Bambang Cahyana selalu pimpinan dari ED Aluminum . Usahanya di mulai sejak tahun 1985 dan sekarang telah berhasil UKM manufaktur cor aluminium dengan Sertifikasi : B4t QSC Reg No. 314/SEM-09/149. 

Proses pembuatan cor aluminium ini tidak lagi dilakukan secara sederhana seperti sediakala.  Dengan bantuan teknologi dan pemikiran dari Dr. Suyitno dari UGM, standar material yang digunakan pun material ac 4b, adc12, a356, hd2 untuk mengetahui mold sempurna digunakan alat flutridy.

Proses Pertama Mengumpulkan Bahan
 Proses produksinya dimulai dengan mengumpulkan bahan baku yang berupa base metal dan sisa aluminium berupa bekas aluminium dari kaleng, wajan, kaleng minuman . Bahan baku itu diproses menjadi aluminium ingot. Aluminium ingot adalah kualitas aluminium dalam produksi yang harus dijaga unsur logam Fe, Si dan CU dengan pengukuran alat yang disebut flutridy. Jika kadarnya sesuai dengan apa yang diarahkan oleh alat maka hasilnya akan sesuai dengan kualitas kemurnian aluminium yang diinginkan. 

Proses kedua: Masukan ingot ke dalam tungku panas
 Setelah itu, aluminium ingot akan dicairkan dengan dimasukkan ke dalam tungku pemanas . Dulu tungku pemanas menggunkan bahan batu bata, namun sekarang menggunakan bahan besi. Dicairkan dalam suhu 700 derajat C. Setelah mencair , diambil dengan “gayung” disambung dengan tongkat yang panjang dan dituangkan ke dalam cetakan. 

Proses ketiga: menuangkan cairan aluminium ke dalam cetakn
Cetakannya pun sudah sangat modern, dulu gunakan batu bata , sekarang telah gunakan besi (hasil dari penelitian dengan software full 3G) dalam waktu yang lebih singkat 3-5 detik sudah dapat dilepas dari cetakan.

 Akhirnya finishing pun dilakukan dengan memotong hasilnya yang kurang simetris , dan memberikan asesori seperti pegangan pada wajan dan digosok sampai halus. Teknologi untuk finsihing menggunakan mesin CNC lebih modern sehingga menghasilkan wajan yang ternyata saya salah duga sama sekali , produk yang disebut Wajan EDA itu punya kualitas dan nilai produk terstandar sehingga dapat digunakan senjata dalam perang 2015. Wow, saya tidak bisa bayangkan bagaimana ketajamannya dan kegunaannya yang dwifungsi (wajan dan alat perang). Dibuat dalam 3 jenis ukuran 33,36, dan 30 , tinggal pilih yang sesuai dengan kebutuhan para ibu untuk keluarga. 

 "Persaingan keras dengan industri manufaktur besar jadi kendala utama terutama dalam bidang pemasaran, pembiayaan bank yang masih tinggi", kata Bapak Bambang.

"Dalam teknologi kami mampu bersaing karena banyak dukungan dari Ilmuwan di Gajah Mada , dalam manajemen kami juga banyak mendapat dukungan dari Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Jogjakarta sebagai cabang dari Yayasan Dharma Bhakti Astra", tambah Bapak Bambang selanjutnya.

 Berkat ketangguhan dalam mengikuti latihan manajemen, latihan pengembangan UMKM dan pelatihan 5R maka segala kesulitan yang dihadapi oleh Bapak Bambang dapat teratasi. Ditambah dengan selalu mengikuti sharing dengan mitranya yaitu LPB Jogyakarta yang dikoordinasi oleh Bapak Arif Rakhmanto, maka perjuangan Bapak Bambang pun membuahkan hasil. 

Hebatnya, ED Aluminium mendapat dua Award di tahun 2017 dari YDBA Yang pertama adalah sebagai “UKM Mandiri Manufaktur Terbaik”. Award ini membuktikan bahwa ED Aluminium telah melakukan perbaikan dan pembenahan dalam 5 pilar yaitu :

Malam Penghargaan UKM Mandiri Manufaktur
Bapak Bambang bersama Bp Arif /LPB Jogya dan Fasilitator LPB
  
2 Award Sbg UKM Manufaktur Terbaik dan UKM QC Terbaik
Produksi: 
Adanya “improvement” atau perbaikan dalam alur produksi. Produksi menjadi tertata dengan baik dan selalu dilaporkan /didokumentasikan seperti berapa dan kenapa kualitas produksi tidak baik, apa yang menjadi kesalahan dalam produksi yang gagal itu. 

Pemasaran:
Adanya perubahan  sistem pemasaran yang dulunya membagikan brosur-brosur kepada pelanggan atau calon pelanggan, sekarang menjadi “online “ bahkan sudah masuk dalam e-katalog YDBA yang sangat mudah diakses oleh calon pembeli di seluruh Indonesia. 

HRD: 

Adanya perubahan manajemen yang makin jelas dalam jobdesk setiap pegawai. Setiap pegawai memiliki jobdesk yang sistimatis dan jelas sesuai dengan kapasitas pekerjaannya. 

Keuangan:

 Semua administrasi keuangan dibukukan dan didokumentasikan dalam laporan kas kecil & Besar dan accounting.

CSR:
 Memiliki tanggung jawab sosial dengan membantu dan memberikan dana bantuan untuk mesjid di sekitar tempat produksi ED Aluminium.

 Award yang kedua adalah “UKM Quality Control Circle Terbaik 2”. Kualitas Kontrol dari ED aluminium ini telah terbukti mengikuti standar industri manufaktur 5R (Ringkas,Rapi,Resik,Rawat, Rajin) . 

5R dikenal sebagai budaya kerja dari Jepang , suatu proses perubahan sikap dengan menerapkan kerapian, kebersihan tempat kerja. Serangkaian urutan proses kerja 5R dari Ringkas, Rapi, Resik,Rawat, dan Rajin dalam budaya kerja dimana setiap pekerja harus merawat, merapikan, menjaga alat atau hasil produksinya sehingga terjaga kebersihan dan kerapiannya.

Bayangin bagaimana proses panjang telah dilalui oleh ED Aluminium untuk mencapai prestasi terbaiknya. Bukan hanya kerja keras saja yang dipacu dalam pencapaian itu, tapi juga mempertahankan motivasi agar terus bersemangat memperbaiki diri dalam bekerja dengan menemukan inovasi untuk perbaikan standar industri manufaktur . 

 Konsumen atau pelanggan ED Aluminium pun semakin besar ada 82 Perusahaan diantaranya Pemerintah Kota Yogyakarta, Pemerintah Kabupaten Bantul, Universitas Gajah Mada, dan lain-lain. 

Kesuksesan dan keberhasilan Bapak Bambang tidak langsung menyurutkan dirinya untuk tidak melihat prospek jangka waktu panjang. Beliau masih punya cita-cita tinggi untuk menjadikan UKM ED Aluminium sebagai UKM mandiri yang dapat meneruskan pencapaiannya sampai Tier 1,2, 3 dan mampu menerima pesanan produk apa pun dengan skill, attitude dengan kualitas yang tinggi, cost yang murah dan delivery yang cepat yang pada akhirnya memuaskan pelanggan.

 Cita-cita yang tinggi ini patut mendapat acungan jempol karena sesuai dengan tujuan, misi dan visi YDBA dalam mengangkat UKM yang dibina jadi UKM Mandiri dan berkelanjutan akan terwujud. 

Sejalan dengan  60 tahun perjalanan Astra penuh dengan warna, inspirasi, ED Aluminium telah membuktikan dirinya sebagai UKM yang berhasil menangguhkan citranya , mandiri, berkelanjutan dan terus berinovasi.