Share
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

25 Oktober 2016

Dilema Memilih Tempat Kerja Antara Dua Benua

www.inatanaya.com

Tugas seorang ibu tak akan pernah habisnya. Mendidik anak, menyekolahkan dan memberikan dukungan moral dan saran dalam pilihan hidup (pekerjaan, akomodasi, jodoh) . 

Sekali pun anak sudah tumbuh dewasa, dan terbiasa mandiri, tetap saja anak saya tetap mencari ibu sebagai penasehatnya dalam memutuskan suatu hal yang dianggap penting dalam hidupnya. Belajar di dua bidang yang berbeda tetapi berkaitan erat, Digital design dan illustrator adalah bagian hidup anak saya. Menghabiskan waktu hampir sekitar 4 l/2 tahun di Melbourne untuk menyelesaikan dua studinya hingga bulan Desember akhir tahun ini. 

Ketika studi sudah hampir selesai, pertanyaan berikutnya adalah bekerja dimana. Bekerja yang merupakan bagian dari passion hidupnya. Selama ini anak yang telah cukup lama tinggal di Melbourne ini terlanjur jatuh cinta dengan kota, tata kota, transportasi yang mudah serta lifestyle dari lingkungan yang tak begitu mencampuri urusan orang lain. Hati yang sudah melekat dengan kota Melburne itu ternyata tak sepadan dengan sulitnya mencari pekerjaan permanen di bidang yang dipelajarinya. Yang ada hanya pekerjaan free lance dan proyek pendek.

 Sebagai orangtua yang ikut memberikan sumbangsih saran, dilema anak juga menjadi bagian dilema saya juga. Persaingan dunia kerja yang ketat bukan hanya di Australia saja, tetapi di Indonesia juga semakin ketat.

 Pertimbangan yang paling mendasar mengapa saya memintanya untuk pulang ke Indonesia adalah [alasan pertama,biaya kehidupan di Melbourne jauh tinggi dibandingkan di Jakarta, alasan kedua adalah industri digital design di Indonesia masih berkembang dibandingkan di Melbourne yang sudah lebih dulu matang. Alasan ketiga adalah anak dapat menjadi kontributor untuk bangsanya dalam dunia design yang akan digelutinya.

Rasanya pertimbangan saya ini secara rasional bisa diterima oleh anak. Tetapi saya melihat kedalaman hati anak itu, dia masih tetap merindukan suatu waktu atau detik-detik sebelum meninggalkan Melbourne, masih ada kesempatan panggilan kerja tetap baginya. Memang tak dapat dipungkiri memori indah yang terukir sulit untuk dilupakan. 

Ingatan dari memori yang indah itu terus melekat dalam benaknya.  Seolah sulit sekali untuk meninggalkan kota Melbourne yang telah memberiknya kenangan manis, pahit selama 4 l/2 tahun.  Di depan matanya, Jakarta yang dianggapnya sebagai hutan belantara yang sulit dapat ditembusnya. Pengalaman pahitnya ketika dia naik taxi berplat cukup ternama, diputar-putar karena supir tak mengenal arah destinasi tujuan. Lalu lintas yang tak ramah, sulitnya transportasi dan kota Jakarta yang penuh dengan polusi membuatnya sering jatuh sakit,  sakit asma.

 Meneguhkan keputusan memang tak mudah, berbagai pertimbangan sudah disampaikan, tetapi anak saya masih mempunyai setumpuk doa dan harapan agar keputusan untuk memilih salah satu Negara sebagai tempat untuk berkarya itu jadi suatu putusan final yang tak boleh disesali. 

Hanya satu kalimat saya yang menguatkan dirinya, “Berkarya dapat dilakukan di mana pun”, hati yang sedih dapat diobati jika rindu datanglah ke Melbourne sekali-kali”. Itulah suatu perjalanan dilema yang sulit untuk dipertimbangkan, diputuskan dan diterima dengan sepenuh hati. Semoga tak ada dilema lagi setelah nantinya dia dapat bekerja di Jakarta dimana karya-karya dapat dinikmati, dipersembahkan. 
.