Share
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

7 Agustus 2016

Teknologi Jembatan Tol Solusi untuk Memudahkan Akses Distribusi Buku

www.bbc.com

Saya sangat senang dan antusias dengan adanya program menulis dengan topik “Hadirkan Solusi Seiring Inovasi”. PPUR ternyata tidak tinggal diam saja mengerjakan proyek dan program sesuai dengan apa yang ditentukan atau diprioritaskan. Tetapi ada program lain yang merupakan unggulan dari pembangunan berkelanjutan yang meliputi empat ruang lingkup dari dimensi ekologis, sosial ekonomi-budaya, soisal politik, dan hukum kelembagaan. 

Teknologi digunakan oleh PPUR untuk merubah kehidupan manusia. Teknologi dimanfaatkan dalam pembangunan untuk menjawab masalah pembangunan. Apabila program baru yang berkelanjutan ini menjadi nyata, alangkah hebatnya PPUR untuk terus berinovasi untuk mengatasi masalah-masalah yang ada di dalam masyarakat di Indonesia. 

Saya pemerhati pendidikan di Indonesia. Sejak lama saya memperhatikan ketimpangan tingkat pendidikan terutama di Indonesia timur. Hal yang sepele tentang Taman Bacaan Anak Lebah di Kawasan Bintaro ,Jakarta Selatan. Sangat ramai dikunjungi oleh anak-anak di kawasan itu, belasan anak datang secara khusus untuk membaca. Taman Bacaan Anak Lebah di kawasan Bintaro hanyalah satu dari 20-an cabang di Indonesia. Namun, dari jumlah itu, sebanyak 19 cabang berada di Indonesia Timur. Elvera Nuriawati Makki selaku pendirinya punya alasan tersendiri mengapa dia memusatkan perhatian di kawasan tersebut. “Indonesia Timur" (selama ini) selalu menjadi prioritas kesekian, tidak pernah menjadi prioritas utama. 

"Perputaran ekonomi selama ini berpusat di Pulau Jawa. Dan imbasnya ke buku: toko buku di Indonesia Timur jarang ada," kata Elvera. Jika ada buku-buku untuk orang dewasa, harga buku untuk anak-anak itu mahal. Ini penyebab mengapa anak-anak di Indonesia tidak mendapat akses buku anak-anak. Jika harus mengirimkan buku ke kawasan Indonesia Timur, biayanya mahal sekali, dikatakan oleh IbuVera biaya pengiriman tiga kardus penuh berisi buku mencapai Rp2,5 juta hingga Rp2,7 juta. Padahal harga bukunya sendiri di kartus hanya mencapai Rp.900,000. Biaya pengiriman buku yang tinggi itu menjadi faktor kendala ketersediaan buku di daerah pelosok Indonesia.

Hal ini dikatakan dan diakui oleh Setia Dharma Madjid, selaku Ketua Dewan Pertimbangan Ikatan Penerbitan Indonesia (IKAPI), sebagai faktor yang mempengaruhi ketersediaan buku di daerah pelosok Indonesia. Tidak dapat dibayangkan bagaimana jangkauan buku sampai ke tingkat ujung pedesaan itu terbatas. Makin jauh dari Pulau Jawa, maka harga buku semakin mahal karena ongkos distribusi dan sebagainya

 Kendala Transportasi:

Suatu keanehan jika seseorang harus membawa buku dari pulau Jawa dengan menumpang kapal selama berhari-hari untuk membawa buku dari Ambon ke pulau-pulau di perairan Laut Arafura. 

“Jangankan ke pulau di bagian selatan yang berbatasan dengan Nusa Tenggara Timur atau Australia, perjalanan ke Pulau Banda saja sulit. Padahal, dari Ambon ke Banda hanya memerlukan waktu satu jam perjalanan pesawat terbang. Tapi jadwal pesawat tidak tentu, apalagi kapal laut,” ujarnya. Sulitnya mengirim buku ke pulau-pulau di Provinsi Maluku tidak menyurutkan tekad Stanley dan kawan-kawannya. Selama empat tahun berkiprah, Heka Leka telah mengirim buku ke 30 lokasi yang tersebar di berbagai pulau. 

Padahal minat baca rakyat Indonesia itu tidak rendah karena hal ini sudah dibuktikan oleh Bapak Setia yang melakukan perocbaaan dengan mengirimkan ribuan buku ke sebuah desa berpenduduk sekitar 1.000 orang di Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat. Di sana, 4.000 judul buku dititipkan di rumah-rumah secara bergilir. Setelah periode waktu tertentu, buku-buku di sebuah rumah akan diganti dengan buku-buku dari rumah lain. Hasilnya semua judul buku habis dibaca oleh penduduk desa tersebut. Hanya ada satu orang yang tidak dapat membaca karena penglihatannya rabun. Jelas bahwa minta baca tidak rendah. Masalahnya adalah bagaimana mengingkat distribusi buku itu di Indonesia sampai ke pelosok. Jika buku sudah sampai ke peleosok, maka institusi pendidikan pun akan terjun mengelola.

 Inovasi: 


Membayangkan solusi yang sangat spektakuler seperti yang dikatakan oleh Presiden Jokowi adalah tol laut. Jika dikatakan oleh PPUR bahwa ini adalah tak mungkin karena biaya investasinya sangat mahal. Memang benar karena ini proyek jangka panjang yang sangat mahal dan tak mungkin dibuat dalam jangka waktu yang sangat pendek.

Tetapi kenapa tidak dipikirkan untuk memperpendek jarak antar pulau dengan jembatan konstruksi yang sangat kuat untuk tol laut seperti halnya telah dilakukan Tol Suramadu yang memperpendek jarak Pulau Madura dengan Jawa. Solusi teknologi untuk masalah jangka panjang yang dapat memperbaiki kualitas pendidikan dengan adanya akses buku yang murah dan akses ekonomi yang juga lebih murah karena biaya transportasi dari sumbernya lebih mudah. Saya percaya dan yakin bahwa ini benar-benar inovasi teknologi jembatan tol laut akan membantu masalah ini.

Tulisan ini diikut-sertakan dalam Lomba Kompetisi Blogging Balitbang PPUR:



Sumber referensi:

BBC  Indonesia:  Memperjuangkan aliran buku ke pelosok negara