Share
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

11 Februari 2016

Budaya Jawa yang Mempesona

Ketika saya menonton acara TV, seorang perempuan bernama Hiromi Kano, pesinden asal Jepang. Acara yang disiarkan oleh Kick Andy menimbulkan rasa haru, bangga dan malu bercampur aduk. Saya duduk memperhatikan dari awal hingga akhir acara itu. Mengikuti perjalanan hidupnya , mahasiswi yang telah lulus dari Tokyo College of Music, jatuh cinta kepada kesenian sinden saat mendengar suara gamelan. Kekecewaannya melihat pagelaran wayang yang dimainkan oleh orang Jepang dengan kualitas yang buruk, membuatnya bertekad untuk bisa membuktikan dirinya akan menjadi “pesinden yang hebat”. 

Saya terpekur melihat bagaimana seorang asing bisa jatuh cinta kepada kebudayaan kita, menggelutinya dengan sepenuh hati, berjuang habis-habisan untuk mempelajarinya dan akhirnya berhasil menjadi pesinden yang profesional diakui secara internasional. 

Rasanya kita sebagai warga negara dan anak bangsa Indonesia sepantasnya lebih mencintai budaya nasional kita. Budaya Indonesia yang demikian kaya dengan seni,bahasa, filosofis. Melihat kekayaan budaya Indonesia dari kacamata seorang warga, aku sendiri banyak belajar mencintainya dan mencoba melestarikannya.

Bersyukur sekali aku dilahirkan di sebuah ibukota Jawa Tengah, Semarang. Di kota besar budaya yang kukenal adalah bahasanya saja. Di Keluarga kami, bahasa Jawa sering menjadi bagian dari komunikasi . Bahasa Jawa yang dibagi menjadi dua golongan yaitu Jawa kasar dan Jawa halus. Bahasa Jawa kasar disebut ngoko . Bahasa Jawa halus disebut Krama dan Madya. Jawa halus digunakan di kota-kota besar seperti Semarang dan Solo, sedangkan Jawa kasar digunakan di sekitar pesisir perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. 

Penggunaan bahasa kasar dihindari penggunaannya untuk orang yang lebih tua atau dihormati. Hanya digunakan antar sesama teman atau mereka yang lebih tinggi tingkat sosialnya. Bahasa Jawa kasar penuh dengan afiks di-,-e dan –ake. Contohnya: “Eh, aku arep takon, omahé Budi kuwi, nèng*ndi?’ (artinya “Eh, saya ingin bertanya, rumah Budi itu dimana?”).

Contoh bahasa Madya : “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, griyané mas Budi niku, teng pundi?”
Contoh bahasa Krama: ““Nuwun sèwu, dalem badhé nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?” 

Bahasa , tradisi menunjukan Budaya Bangsa 

Menguasai bahasa Jawa itu bagaikan sebuah pembelajaran tentang budaya yang kaya dengan seni, budaya, tradisi, ritual, bahkan filosofi orang Jawa. Saya sendiri sebagai orang Jawa sering melupakan tradisi yang sangat kuat dalam setiap tahap kehidupan, bahkan kurang mempelajari filosofis dibalik semua tradisi yang dilakukan secara historis. 

Tradisi yang terikat dengan filosofi atau makna. Dimulai dari awal kehidupan seseorang yaitu kelahiran, sampai kematiannya dipenuhi dengan upacara dan tradisi. Inilah upacara atau tradisi yang sangat bernilai luhur penuh dengan syukur, memohon kebahagiaan dan melanggengkan kehidupan yang penuh dengan pengharapan yang baik.

 I. Kelahiran (Kehamilan)

  •  a.Syukuran Awal Kehamilan:  Upacara syukuran diadakan bila seorang wanita terlambat haidnya, disebut dengan syukuran weton. Weton adalah saat lahir seseorang, berdasar Kalender Jawa. Tembung Weton berasal dari tembung metu atau keluar, maksudnya hari lahir. Kalender Jawa, dikenal hari-hari pasaran, yaitu Kliwon, Legi, Paing, Pon , dan Wage . Orang yang lahir hari Jumat Kliwon, berarti weton nya adalah Jumat Kliwon

  • b. Syukuran pada bulan ke dua, ke empat dan ke tujuh kehamilan: Syukuran bulan ke empat disebut ngupati , atau ngapati (dari kata papat, atau empat) , dan syukuran bulan ke tujuh disebut mitoni (dari kata pitu atau tujuh), tingkeban. Tujuan dari upacara ini adalah untuk bersyukur dan memohon doa kepada sahabat, saudara untuk kebahagiaan bayi yang akan lahir.

  • c. Syukuran pada anak pertama dilakukan dengan urutan sebagai berikut: 
  • c.1.Siraman Calon Ibu: Disiram dengan kembang seteman oleh sesepuh.Maknanya supaya bersih dari segala yang negatif. Tlisipan endog ayam: Calon ayah menyisipkan telor ke dada calon ibu sampai ke luar dari kain calon ibu. Maknanya agar persalinan berjalan lancar Santun busono: Calon ibu memakai 7 kain baju secara bergantian dan berjalan di depan para tetua. Bahan baju yang dikenakan ada 7 macam yaitu yaitu 1) sidoluhur, 2) sidomukti, 3) truntum, 4) wahyu tumurun, 5) udan riris, 6) sido asih, 7) lasem.. Maknanya angka 7 sebagai lambang bagian tubuh manusia . Diharapkan dijaga kebersihannya. 

  • c.2.Nyigar klapa gading Ibunda dari calon ibu menyerahkan 2 kelapa yang telah diukir seperti Dewa Kamajaya dan Dewi Ratih, atau Arjuna dan Sembodro. Maknanya agar anak yang akan dilahirkan baik itu perempuan atau laki akan menyerupai sifat dan sikap dari Dewa Kamajaya atau Dew Ratih yang dianggap sebagai lambang cinta kasih sejati.

  • c.3. Dodol dawet lan rujak Tamu diberikan duwit kreweng, yang terbuat dari genteng. Tetapi sekarang telah dimodifikasi dengan ornamen yang dibuat seperti uang. Dengan duwit kreweng, tamu membeli dawet yang disajikan oleh calon ibu dan bapak. Maknanya agar lancar kehidupan calon ayah dan ibu dalam menyimpan kekayannya. 

  • c.4. Kembul bujana Kembul artinya bersama-sama, bujana artinya makan. Biasanya makan tumpeng bersama setelah selesai semua upacara tradisional di atas. 

  • c.5.Tedak Siten Tedak berarti melangkah, Siten berarti tanah, bumi, keseluruhan berarti melangkah ke bumi. Ritual ini menggambarkan ketika seorang anak telah siap untuk menapak kehidupan yang sukses, dengan berkat Tuhan dan bimbingan dari kedua orangtuanya. Upacara tradisi ini dilaksanakan saat seorang anak berusia 7 selapan artinya 245 hari (selapan adalah 35 hari). Ada 5 Hari Pasar dalam satu Selapan, Kliwon, Legi, Pahing, Pon, and Wage. Bagi seorang Jawa, sangat penting untuk mengetahui hari Wetonnya.. Umumnya ritual diadakan pada pagi hari di depan halaman rumah. Orangtua dan beberapa anggota keluarga yang telah tua berada di di halaman rumah. Mereka memberikan berkat kepada anak. Sajen yang diberikan merupakan lambang untuk doa kepada Tuhan agar diberikan berkat sepanjang hidup anak itu.


http://users.skynet.be/dvran/M_siraman.htm
 II Pernikahan: 

pinterest.com
  • a.Lamaran: Ayah calon pengantin lelaki mengajukan lamaran kepada pihak perempuan. Jika telah disetujui oleh pihak perempuan, maka pihak calon pengantin lelaki akan datang untuk meneguhkan lamaran. Kedatangan calon pengantin lelaki dengan disertai peningset. Peningset ada 6 (enam) kain batik halus bermotif lereng ,tiga buah berlatar hitam dan tiga buah sisanya berlatar putih, 6 (enam) potong bahan kebaya berwarna dasar aneka, serta 6 (enam) selendang pelangi berbagai warna dan 2 (dua) cincin emas berinisial huruf depan panggilan calon pengantin berukuran jari pelamar dan yang dilamar (kelak dipakai pada hari perkawinan).

  • b. Serahan Setelah adanya persetujuan pernikahan, maka diserahkan dari pihak lelaki kepada perempuan disebut serah-serahan. Umumnya berupa pakaian lengkap, sejumlah uang, dan adakalanya disertai cincin emas buat keperluan 'tukar cincin'. 


http://users.skynet.be/dvran/M_siraman.htm
  • c. Pingitan Calon pengantin putri dilarang ke luar rumah selama 3 – 5 hari . Tujuannya agar tetap cantik pada saat menikah.

  •  d. Pasang Tarup Pemasangan 'bleketepe' (anyaman daun kelapa) yang dilakukan oleh orangtua calon mempelai putri, yang ditandai pula dengan pengadaan sesajen. Secara simbolik anyaman daun kelapa yang dipasang itu berarti agar seluruh rangkaian upacara pernikahan dapat berlangsung lancar tanpa halangan.

  •  e. Siraman. Dilakukan oleh dua calon pengantin . Secara simbolis pembersihan diri lahir dan batin. Maknanya agar dijauhkan dari hal-hal negatif pada saat resepsi pernikahan hingga selesai upacara.


http://users.skynet.be/dvran/M_siraman.htm
 III.Kematian 

Sebelum mayat diberangkatkan ke alat pengangkut (mobil misalnya), terlebih dahulu dilakukan brobosan (jalan sambil jongkok melewati bawah mayat) dari keluarga tertua sampai dengan termuda. Upacara atau slametan orang mati, mulai geblak (waktu matinya), pendak siji (setahun pertama), pendak loro (tahun kedua) sampai dengan nyewu (seribu hari/3 tahun) bentuknya sama saja, yaitu sego-asahan dan segowudu .

IV Falsafah Budaya Jawa dengan segudang tradisinya tak pernah hilang ditelan zaman. Kekayaan filosofinya atau falsafah tentang fase kehidupan berdasarkan tembang Jawa: 

  • Maskumambang: Simbol fase ruh/kandungan dimana kita masih bisa mengapung (kumambang) di alam ruh dan kemudian di dalam kandungan yang gelap.
  •   Mijil :Artinya  keluar. Adalah fase bayi, dimana kita mulai mengenal kehidupan dunia. Kita belajar bertahan di alam baru. 
  •  Sinom:Masa muda. Masa dimana kita tumbuh berkembang mengenal hal-hal baru. 
  • Kinanthi Adalah masa pencarian jati diri, pencarian cita-cita dan makna diri. 
  •  Asmaradhana :Fase yang paling dinamik dan berapi-api dalam pencarian cinta dan teman hidup. Gambuh Fase dimulainya kehidupan keluarga dengan ikatan pernikahan suci (gambuh).Menyatukan visi dari cinta kasih.
  •  Dhandang Gula: Fase puncak kesuksesan secara fisik dan materi (dihandang =bejana). Namun selain kenikmatan gula (manisnya) hidup, semestinya diimbangi dengan kenikmatan rohani dan dan spiritual.
  •   Durma:Fase dimana kehidupan harus lebih banyak didermakan untuk orang lain, bukan mencari kenikmatan hidup lagi (gula). Ini adalah fase bertindak sosial 
  •  Pangkur Fase uzlan (pangkur=menghindar) :Fase menyepi, fase kontemplasi, mendekatkan diri kepada Gusti Allah. Menjauhkan diri dari gemerlapnya hidup.Fase kontemplasi. Megatruh Ini fase penutup kehidupan dunia dimana Ruh(roh) meninggalkan badan (megat: memisahkan) .Fase awal dari perjalanan menuju keabadian.
  •   Pucung :Fase kembali kepada Allah.Sang Murbeng Dumadi, Sangkan Paraning Dumadi. Diawali menjadi pucing (jenazah),  seperti lagu pucung yang banyak berisi pertanyaan.Fase menuju kebahagiaan sejati, bertemu YangMahasuci. 

Sumber referensi:

  •  Catur Pitutur, Empat Nasihat untuk Generasi Penerus, Soewarno M. Serat
  •  Wikipedia 
  • Pertahanan Budaya Kita oleh Radhar Panca Dahana Javanese Ceremonies – Mitoni-Siraman 
  • Adat Kebiasaan Suku Jawa – Afiatun Nafiah