Share
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

11 Desember 2015

Ibuku Tercinta

http://haqeeqat-e-bayan.blogspot.co.id/2014/05/mothers-day-for-me.html
Setiap kali bulan Desember datang, aku selalu ingat bahwa ada seorang yang sangat kucintai telah pergi selamanya. Beliau adalah ibuku. 

Kenangan yang sangat manis dan pahit selalu merenda ikatan batinku dengan ibu. Detik-detik terakhir aku tidak ada di sisinya, itu sangat memilukan. Beliau meninggal dalam sepi tanpa seorang pun yang berada di sisinya, bahkan perawat yang seharusnya berada di sampingnya, tak juga ada di situ.

Kenangan manis itu selalu mengingatkanku ketika Ibu selalu bercerita tentang masa kecilnya. Dilahirkam di zaman Jepang . Namun, Ibu memiliki wawasan yang luas . Bahkan dalam usia belia, Ibu pernah belajar di negeri yang cukup jauh, Hongkong. Orangtuanya yang moderat, membuat Ibu juga menjadi moderat dalam berkata,bertindak dan berpikir.

Ketika melahirkan diriku, usia Ibu sudah tidak lagi muda, bahkan disebut usia yang rawan untuk melahirkan. Aku anak kedua dan bungsu. Tapi perbedaan umur antara aku dan kakakku cukup besar yaitu 12 tahun. Perbedaan umur itu membuat ibuku cukup kewalahan dalam menangani “gap generation” antara kakak dan adik. Terlalu memperhatikan diriku, takut dianggap memanjakan. Tidak memperhatikan diriku, beliau merasa bersalah karena aku sebagai bungsu suka merengek yang tak masuk akal.

Satu hal yang tak pernah kulupakan seumur hidupku adalah tanggapan beliau selalu arif dalam hal pendidikan, bijak dalam memperlakukan dua keinginan ,sikap dan karakter dua anaknya yang berbeda. Sikap hati yang tidak baik dari diriku, membuat aku bertanya kepada beliau. 

“Ibu kenapa ibu mengirimkan kakak belajar di luar negeri. Sedangkan aku harus belajar di akademi agar supaya aku cepat selesai belajar dan bekerja.”
 “Nak, setiap anak itu punya kemampuan dan kebutuhan yang berbeda. Ibu tak bisa samakan dirimu dengan kakak. Kakak itu perlu belajar ke sana karena dia tak bisa lulus jika dia berada di sini. Kondisinya genting bagi kakak, jika dia tak berangkat.”
 “Iya, tapi kenapa ibu tak beri kesempatan saya untuk masuk universitas?”
 “Umur kami sudah tua, papah sudah pensiun, saya tak bisa mengongkosi dirimu untuk pendidikan tinggi. Jika kau cepat lulus dan bekerja, kamu bisa melanjutkan studi dengan hasil kerjamu.” 

Woh, ternyata saya baru sadar ibu saya itu sangat arif sekali dalam berpikir ke depan. 

Sekali waktu saya masuk rumah sakit di Jakarta karena tipus. Saya tak memberitahukan hal ini kepada ibu saya yang tinggal di daerah. Takut merepotkan karena beliau sudah sangat sepuh. Namun, suatu hari saya kaget luar biasa karena tiba-tiba beliau muncul di kamar tidur saya di rumah sakit beserta seorang teman yang juga sudah agak tua. Saya shock kenapa ibu datang. 

“Kok ibu datang, siapa yang kabari?”
 “Teman baikmu”. 
“Tidak usah datang karena aku sudah hampir sembuh!”
 “Ibu lebih lega jika melihat keadaan dirimu sebenarnya, bukan mendengar dari orang lain. Tidak ada yang merepotkan bagi seorang ibu.”

 Ach, aku sadar seorang ibu tak merasa direpotkan karena fungsinya yang sangat mulia justru memperhatikan ketika aku sakit. Sementara aku berpendapat beliau itu lebih repot karena kondisinya sudah sepuh dan juga beliau tidak mengenal kota Jakarta sama sekali. Namun, seorang ibu punya hati mulia tidak memperhitungkan ketakutan untuk datang ke sebuah Ibukota yang bengis , ramai, padat, demi seorang anak yang sedang sakit. 

Kenangan pahitmu ketika Ibu mendapat kecelakaan saat pulang dari menengok diriku setelah melahirkan. Aku kaget dan sedih sekali karena Ibu kehilangan kakinya yang normal. Patahnya kakimu menyebabkan dirimu sebagai orang invalid. Penderitaanmu yang sangat menekan dari seorang yang sangat sibuk dengan berbagai kegiatan, tiba-tiba terkapar dalam sebuah ranjang yang tak berdaya. Kehidupanmu berubah 180 derajat. Stres dan kehilangan gairah hidup membuatmu mengurung diri.

 Dari sebuah kesulitan demi kesulitan Ibu alami. Mulanya Ibu masih dapat berjalan dengan tongkatnya. Lalu, harus duduk di kursi roda karena kakimu makin lemah. Terbaring dalam ranjang karena dirimu sudah tak punya kemampuan berdiri lagi. Bahkan, ketika Ibu harus pindah dari ke kota lain karena kediamanmu sudah tak layak lagi didiami. 

Mengalami hal yang paling parah dalam hidupmu. Letusan gunung merapi melanda kota tempat tinggalmu. Semua kehidupan seperti mati. Tidak ada air, makanan, kota penuh dengan debu vulkanik. Semua orang menyelamatkan dan mengevakuasi diri ke luar kota. Namun, Ibu hanya bisa berdiam diri bersama perawat. 

Melewati hari-hari yang sangat sulit tanpa harapan, tetapi kekuatanmu sungguh sangat ajaib. Belum selesai cobaan datang lagi. Pen yang ada di dalam kakimu sebagai penunjang kakimu yang patah, tiba-tiba ke luar menonjol. Tetesan nanah ke luar menetes tanpa henti. Aku berdetak ketika dokter mengatakan resiko dan keberhasilan operasi adalah 50 persen. Umurmu sudah sangat lanjut, 91 tahun. Aku memberanikan diri untuk menanda-tangani operasi demi kesehatanmu dan melepaskan penderitaanmu. 

Dua bulan setelah operasi itu, kondisimu menurun dan menurun. Ibu sudah tak kuat lagi untuk pulang ke Rumah Bapa. 17 tahun penderitaan itu telah lepas. Engkau sudah hidup dalam kedamaian. Selamat Jalan Ibu, aku selalu mengenang kebaikanmu, kearifanmu, ketabahanmu, dedikasimu.

Salam sayang  anakm