Ibu Mira, Guruku Pahlawanku

google.com

Saat aku duduk di SMA Kelas X, aku berdoa semoga jika aku naik kelas ke kelas XI, guru matematikaku bukan bu Irma. Ternyata, doaku tidak terkabul. Begitu naik kelas XI IPA, langsung aku mengecek siapa guru matematika. Lemas seluruh tubuhku, Bu Irma adalah guru matematika di kelasku.

Mendengar suaranya yang lantang dan keras, jantungku selalu berdegup keras. Mendengar langkah kakinya, kuingin melarikan diri. Itulah profil guru matematika, Bu Irma. Aku dan teman-temanku menyebutnya “killer”. Rasa respect itu timbul karena ketakutan bukan karena karisma.

Hampir seluruh teman sekelasku tak punya nyali untuk bertanya jika bu Irma menjelaskan terlalu cepat. Sekilas, kami merasa mengerti dan manggut-manggut karena cepatnya dia menjelaskan. Begitu hari itu, bahan baru dijelaskan, dua hari lagi kami sudah harus siap dengan ulangan. 

Alhasil, seminggu kemudian setelah hasil ulangan dikumpulkan, beliau bertanya kepada kami semua: “Saya heran, apakah saya yang tidak dapat menjelaskan kepada kalian atau kalian yang tidak bisa mendengarkan saya!” Sekarang kalian semuanya harus ikut remedial (ulangan susulan). 

Kami semua terdiam. Takut salah menjawab. Jika bilang bahwa beliau tidak jelas menerangkan, kami takut Beliau tersinggung. Jika bilang kami goblok, kok rasaya tidak mungkin satu kelas termasuk yang paling pintar pun ikut dapat nilai jeblok alias jelek (5.5 sudah dianggap kurang). Deg..deg..an, setiap kali habis remedial.. Bahannya makin susah, apakah ini pertanda kami sekelas harus ikut pelajaran khusus dari Beliau. 

Semester pertama, rasanya kami semua penuh dengan frustrasi dan perjuangan untuk bisa dapat nilai lumayan dari bu Irma. 

Semester kedua, ada perbaikan kami punya strategi yang membuat kami cukup tidak lagi deg,degan. Teman yang paling depan, harus mendengarkan penuh perhatian. Menulis dan menyimak. Nanti selesai pelajaran, ada brainstorming tentang pelajaran baru itu. Belajar kelompok , belajar bersama ini membuat pemahaman kami lebih baik. Yang tidak jelas jadi jelas, yang sudah jelas memberikan poin apa yang kurang jelas dengan cara yang sedikit berbeda tetapi hasilnya akan sama dengan yang dibuat oleh ibu Irma. 

Tidak terasa, kami sudah menyelesaikan SMA kelas XII dengan nilai matematika yang lumayan, apalagi  nilai rata-rata dari ujian sekolah dan ujian nasional kami mencapai 8.5 Ini prestasi yang baru pertama kali di sekolah kami.

 Kepala sekolah pun merasa heran kenapa prestasi dari angkatan kami bisa demikian tinggi. Ternyata setelah diselidiki, kami menceriterakan apa yang kami alami dengan ibu Mira. Waktu berjalan sangat cepat, kami lulus dari sekolah kami. Ketika saya sudah melanjutkan ke perguruan tinggi di luar negeri (beasiswa), saya merasakan betapa hebatnya cara mengajar bu Mira itu. Cara pengajarannya itu persis atau mirip dengan cara pengajaran saat saya kuliah. Saya bersyukur tak merasa kaget lagi cara kuliah yang begitu cepat karena sudah terbiasa dengan cara dari bu Mira. 

Sekarang saya sadar sepenuhnya bahwa Ibu Mira adalah Guru Pahlawan tanpa tanda jasa. 

Semoga Beliau selalu mendapat berkah dan hikmat dari Tuhan dalam menjalankan tugas-tugasnya.


Tidak ada komentar

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!

Total Tayangan Halaman