Share
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

11 Oktober 2015

Hari Jadi Bojonegoro ke-338: Festival Budaya Bengawan Solo, Budaya dan Pemanfaatan Sungainya




infopublik.com
Salah satu kegiatan hari Jadi Bojonegoro ke-338 adalah Festival Bengawan Solo. Bengawan Solo, sungai sepanjang 549.43 kilometer melintas wilayah Jawa Tengah hingga Jawa timur. Kehadiran sungai Bengawan Solo yang jadi ikon dari kota Bojonegoro , dijadikan titik sentral dan panggung dari Festival Bengawan Solo. 

printkompas.com
Pemilihan  Bengawan Solo sebagai titik sentral Festival Bengawan Solo dapat dilihat dari warga Ledokkulon yang hidup di bantaran Bengawan Solo dan menggantungkan kehidupannya kepada Bengawan Solo. Lalu apa tema yang diangkat kali lini. Tema besarnya tentu ingin menghidupkan kembali kejayaan Bengawan Solo dengan melestarikan alam dan lingkungan. 

www.timesindonesia
Semangat Gotong royong dari warga Trucuk dalam rangka pembuatan tiga perahu hias. Salah satu warga yang jadi kreator perahu hias mengatakan bahwa untuk menghias perahu naga raja dengan tema Angling Dharma membutuhkan biaya 2,8 juta dan dibutuhkan waktu 10 hari. Replika tank dan meliwis putih juga menghabiskan dana Rp.4,7juta. 

Mereka tak keberatan dengan biaya yang dikeluarkan demikian besar karena mereka merasakan manfaat dari sungai dimana mereka mencari kehidupan sehari-hari sebagai penambang pasir, pencari ikan, mengairi sawah, pembuat bata merah di tepian sungai Di dalam perahu itu dipertontonkan alat budaya/ adat budaya yang dianut oleh warga berupa panggung musik dangdut, keroncong, penampilan seni kentrung Nyi Andhongsari , tarian jaranan Ki Buyut Kindhit. Tak lupa mereka juga mengangkat mitos legenda buaya putih, meliwis putih (burung belibis) , nagaraja yang pernah mengalahkan Angling Dharma .
dokumen pribadi

 Lalu, perahu lain juga mengangkat tema replika kapal perang, cikar pengangkut hasil bumi atau masjid. Aneka kemeriahan yang dipertontonkan parade perahu dalam Festival Bengawan Solo ternyata diikuti 41 perahu hias. Perahu-perahu itu berkeliling menyusuri dari Desa Pedang, suara lantunan tembang macapat ”Sunan Kalijaga” diikuti kegiatan larung sesaji ider-ider. 

 Larung sejaji ider-ider suatu kebudayaan Bojonegoro untuk mengucap syukur dengan membuang sesajen berupa makanan,sayuran. Kegiatan lain yang dapat disaksikan campur sari atau lomba layang-layang uluk salam, lomba renang, hingga tangkap bebek 

Pada malam harinya dibacakan puisi “Surat untuk Bengawan di Taman Bengawan Solo. Dalam ulang tahun ke-338, parade ini bukan untuk kemeriahan semata-mata tetapi sebagai pengingat juga bahwa Bengawan Solo harus dijaga dan dilestarikan sebagai tempat yang menjadi sumber kehidupan, pemanfaatan air bukan  untuk perusak kehidupan yang mengakibatkan banjir.

Banyak perubahan terjadi dengan Bengawan Solo. Dulunya pada masa kejayaan di masa VOC (Veregnigde Oostindische Compagnie), di Desa Nagroho,kecamatan Gayam pada tahun 2007, merupakan cermin bagi warganya. Warga tidak usah perlu pergi ke pelosok karena cukup pergi ke Bengawan Solo, maka kita dapat memahami Bojonegoro. 

Namun, sekarang perubahan besar terjadi. Pada tahun 2014, penambang pasir di Bojonegoro telah memakai mesin mekanik (penyedot) mencapai 223 unit. Penambangan dan penyedotan pasir yang merusak lingkungan membuat bibir Bengawan Solo menganga lebar, kedalam ekstrem hanya ada di tikungan. Luka sepanjang tubuhnya karena adanya penyedotan. Ini akan mengakibatkan banjir untuk daerah Bojonegoro dan Solo. Oleh karena itu, budaya pelestarian alam dan lingkungan dengan selalu mawas diri untuk mencintai lingkungan dan menjaga , merawat harus dimiliki semua warga khususnya warga yang tinggal di sekitar Bengawan Solo.

Festival Bengawan Solo penuh,sarat dengan makna, syukur atas anugerah, budaya yang dilestarikan, pemanfaatan sungai yang terus dirawat dan dilestarikan.