Share
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

27 Juli 2015

Miris, hilangnya ilmuwan yang berbobot

google.com


Melihat  acara Kick Andy Show tanggal 24 Juli 2015, ada dua ilmuwan Indonesia yaitu  Nelson Tansu dan .......  keduanya telah menjadi profesor.  Nelson Tansu dalam usianya yang muda, 37 tahun telah melakukan riset dan mematenkan penemuannya, dan berprofesi sebagai ..... 

Ilmuwan yang kedua., Basuki Endang Prianto, seorang profesor yang telah begitu hebat mempunyai mastering  dalam jaringan telekomunikasi , paten dan inovasi .  Berdiam di Swedia yang menyediakan segala fasilitas untuk seorang periset unggul
Apa artinya kehilangan generasi ilmuwan bagi suatu negara?
Negara tentunya tak mampu untuk meminta kembai  Ilmuwan-ilmuwan untuk kembali ke Indonesia dengan alasan apa pun karena negara tidak mampu menyediakan dana riset, fasilitas-fasilitas yang disediakan negara maju dimana mereka telah merasakan nyaman, secured dan berkembang sebagai periset.
Kemampuan dan keahlian para ilmuwan yang sangat brilian dan mampu membuat negara maju makin maju dalam industrinya sangat disayangkan.  Bagi negara Indonesia, sebuah kehilangan yang seharusnya dipikirkan untuk masa depan negara ini.  Jika semua anak bangsa yang memiliki kemampuan dan kepandaian sebagai ilmuwan lebih memilih negara maju dibandingkan negaranya sendiri.  Akhirnya, keterbelakangan dan kemunduran akan terjadi terus menerus dan negara tak akan hanya mampu maju merangkak.  Jika kecepatan negara maju ukurannya km,  maka negara berkembang seperti Indonesia kecepatannya hanya meter.

Soft Brainwashing yang  dilakukan oleh negara Singapore
Pengalaman saya sebagai seorang ibu, pada saat anak sekolah di tingkat SMP (kelas dua SMP), tiba-tiba kepala sekolah mendatangangi 2 orang murid di kelas anak saya.
Kedua anak ini memang sangat berprestasi.  Ranking pertama dari awal semester dan sejak kelas SMP1.   Seluruh angka dari mata pelajarannya hampir mencapai angka 9.
Kedua anak ini dipanggil untuk diberikan pemberitahuan bahwa mereka harus menjalankan interview dan test untuk penerimaan bea siswa sebagai junior school sampai high school di sebuah sekolah di Singapore.
Ternyata, bukan hanya dua anak berprestasi dari sekolah tempat anak saya bersekolah, tapi beberapa sekolah yang terkenal top kualitasnya dikunjungi oleh sponsor dari Singapore ini.  Mereka mencari anak-anak yang punya kemampuan dan nilai akademisnya yang  tinggi dan berprestasi  tinggi. 
Setelah melewati berbagai rangkai test dan interview, anak-anak ini akan diberitahukan hasilnya.  Jika mereka berhasil , maka mereka harus menanda-tangani kontrak bea siswa yang  sangat berat persyaratannya,  salah satunya  prestasi mereka tidak boleh turun. Begitu turun, mereka harus keluar dari sekolah, atau jika akan meneruskan harus dengan biaya sendiri.   Tidak diizinkan untuk orangtuanya komplain tentang kurikulum dan peraturan sekolah.  Orangtua harus  tunduk kepada kurikulum dan aturan sekolah.  Tak tanggung,  Kementrian Pendidikan Singapore tiap tahun mencari bibit  generasi muda brilian di seluruh Indonesia.  Anak saya pernah mencoba, tidak berhasil. Jadi soft brainwash Singapore itu memberikan  janji bea-siswa kepada anak-anak Indonesia dengan janji bahwa mereka harus mengikuti peraturan yang ditentukan oleh pemerintah Singapore.  Yang pada akhirnya,  ikatan dinas itu akan terus mengikat anak itu sampai ke tingkat perguruan tinggi.
Singapore membangun negaranya dari generasi yang sangat muda yang sangat briliant untuk membawa masa  depan bangsa itu.   Luar biasa pemikiran jangka panjang yang penuh dengan tantangan zaman.

 Bagaimana Indonesia membangun negara ini?
Yang tertinggal di negera ini, segelintir orang yang pintar dengan konsep yang sangat  pendidikan masa lalu. Banyak orang pintar dan akademisi yang ada di Indonesia.  Hanya sayangnya, pengejaran kepintaran di Indonesia sering disalah tempelkan dengan  ijazah.   Pengejaran ijazah dan gelar jadi andalan orang-orang yang ingin cepat dan praktis mendapatkannya. Bukan seorang akademisi tulen. Timbulah masalah gelar dan ijzah palsu berterbaran dimana-mana di seantero negeri ini.
Apabila hal ini dibiarkan tanpa mengikis habis akar masalahnya, tentunya  negara kita ini akan kehilangan anak generasi muda yang tangguh, pintar, berkarakter .
Saya sendiri tak bisa membayangkan apa yang terjadi apa masa depan bangsa tanpa generasi yang tangguh dan pintar.  Seolah negara ini hanya mau melihat  masalah dengan pemikiran yang pendek dan bukan pemikiran jangka panjang.
Kehadiran generasi muda yang muda tangguh, pintar, berkarakter, jadi tantangan negara untuk terus menerus menggali ,menciptakan suasana belajar menyenangkan, dan memberikan dana cukup untuk riset.
Riset yagn berkolaborasi antara pemerintah, industri, pendidikan harus dibangun dengan kerja-sama yang tangguh .  Tak bisa hanya secara parsial, dan hanya urusan pendidikan saja atau pemerintah saja. Semua harus turun tangan untuk mendapatkan keuntungan demi masa depan bukan masa sekarang ini.
Momentum harus dikerjar jika tidak, kita akan terus kehilangan ilmuwan yang dicaplok oleh negara maju dan kita hanya jadi negara yang gigit jari melihat kehilangan potensi yang seharusnya aset dari negara ini.